Cukai Rokok

Harga Rokok di Maluku Utara Merangkak Naik

Ilustrasi

Malut, Hpost - Harga Rokok di berberapa kabupaten/kota di Provinsi Maluku Utara mulai merangkak naik setelah pemerintah resmi memberlakukan kenaikan tarif cukai rokok per 1 Januari 2020 kemarin. Kenaikan itu masih dianggap normal, meski sebagian perokok mengganti selera rokok dengan harga yang lebih terjangkau.

Kenaikan cukai rokok tersebut merupakan pelaksanaan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 152 tentang Tarif Cukai Hasil tembakau.

Aturan tersebut mengatur kenaikan tarif cukai rokok terbesar yakni ada pada jenis rokok Sigaret Putih Mesin (SPM) yaitu sebesar 29,96 persen. Untuk cukai rokok jenis Sigaret Kretek Tangan Filter (SKTF) naik sebesar 25,42 persen, Sigaret Kretek Mesin (SKM) 23,49 persen, dan Sigaret Kretek Tangan (SKT) 12,84 persen.

Hasilnya, berdasarkan Pantauan Halmaherapost.com, Senin 6 Januari 2020 kemarin, di Kota Ternate, Kepulauan Sula, Halmahera Barat, Halmahera Selatan, dan Halmahera Utara, harga rokok naik sekitar Rp2.000- Rp3.000 per bungkus di tingkat pedagang kaki lima.

Kenaikan harga rokok merk Marlboro Merah dan Putih hampir merata di semua Kabupaten/Kota, yakni dengan harga jual awal Rp27.000-28.000 perbungkus naik merata di semua daerah menjadi Rp Rp30.000 per bungkus. Sementara harga merk rokok lain, naik bervariasi berbagai Kabupaten/Kota.

Di Kota Ternate harga semua jenis rokok merangkak naik. Salah satu kios, di kelurahan Mangga Dua, misalnya menjual rokok Surya Rp 29.000 perbungkus dari harga sebelumnya RP 25.000, sementara Rokok Sampoeran dari Rp24.000 menjadi Rp28.000 per bungkus.

“Rokok yang harganya sangat muran itu hanya roko merk Chief bisa dibeli dengan harga Rp10.00 perbungkus dan rokok surya Pro Mild seharga Rp17.000 per bungkus,” ucap Husen salah satu warga Mangga Dua, yang di Temui di Taman Kota.

Akbar salah satu warga Kelurahan, Bastiong saat di temui Halmaherapost.com mengaku mengurangi rokok. “Sekarang, dalam hari saya merokok paling tinggi 2 atau 3 batang,” ujarnya.

Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Ternate, Hasyim Yusuf saat dijumpai Halmaherapost.com di ruang kerja menjelaskan, sehari dua pihaknya akan melakukan pemantauan harga rokok di pasar-pasar di Kota Ternate.

Pemantauan dimaksud agar harga jual rokok tidak melambung, akibat kenaikan harga cukai rokok.

"Kita akan pantau, jangan sampai ada permainan harga oleh pedagang. "tegasnya.

Tidak hanya itu, Eks Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Ternate itu juga meminta kepada distributor atau agen rokok agar turut memantau harga jual ditingkat eceran atau warung-warung.

"Kalau beli sekian, maka jual sekian. Hal-hal seperti itu sering luput dari distributor, mungkin berfikir yang penting laku atau apa, saya tidak tau. "pintanya.

Maka dari itu, Disperindag akan membuat edaran terkait harga jual rokok di tahun 2020. Kenapa ? Agar harga jual rokok di kecamatan terluar Ternate seperti di Pulau Moti dan Batang Dua, sama.

Sementara itu di Kabupaten Kepulauan Sula. Miranti, salah satu pemilik warung yang menjual rokok di desa Falahu, Kecamatan Sanana, mengaku mulai Minggu 5 Januari 2020 mulai menaikkan harga beberapa merk rokok yang ia jual.

Rokok merk Soempurna dan Surya juga ia naikkan harganya. Kini, harga Soempurna Kretek kemasan merah putih itu isi 16 batang dijualnya sebesar Rp23.000, naik Rp2.000 dari harga sebelumnya jadi Rp25.000.

"Surya lagi naik, sekarang satu bungkus (isi 16 batang) harganya yang dulu Rp. 22.000 ini so naik Rp.  25.000," ungkapnya.

Selain itu, terdapat beberapa rokok lainnya yang masih tetap harganya, karena masih kurang peminat. "Seperti gudang garam dulu harga Rp15.000 sekarang juga masih 15.000 terus rokok Dji Sam Soe Rp20.000 masih tetap harga, " katanya.

Miranti mengungkap harga rokok yang naik tersebut disebabkan oleh penyesuaian kenaikan harga dari salah satu agen rokok tempatnya menyetok rokok dagangannya.

Kendati mayoritas merk rokok yang mengalami kenaikan harga, ia menyatakan tidak mendapatkan masalah dari segi pembelian.Dalam sehari terakhir, ia mengatakan beberapa pembeli masih banyak yang membeli rokoknya.

"Masih banyak peminat, seng turun, masih sama (tingkat pembelian). Masih banyak  yang beli sebungkus, yang beli batangan juga banyak, seng berkurang. Cuma memang dong mengeluh karena harga naik, karena seng bisa kase salah penjual juga," ungkapnya.

Di Labuha, Bacan Halmahera Selatan, rokok Marlboro mash bisa diperoleh di beberapa kios dengan harga Rp29.000 dari harga jual sebelumnya Rp27.000 per bungkus. Sementara Surya naik Rp1.000 menjadi Rp23.000.

Harga rokok di Jailolo Halmahera Barat, mulai mengalami kenaikan hal itu disampaikan oleh salah satu pemilik kios atas nama Imron.Pemilik kios Lamongan ini juga mengatakan untuk besaran kenaikan harga rokok bervariasi sesuai dengan merk nya.

“ Yang mengalami kenaikan yaitu pada rokok Dji Sam Soe yang sebelumnya Rp16.000 per bungkus naik menjadi Rp23.000 sampai Rp24.000 per bungkus. Kalau untuk Marlboro filter awalnya Rp. 24.000 naik menjadi Rp27.000 per bungkus, sedangkan untuk Magnum Blue dari Rp20.000 naik menjadi Rp26.000 per bungkus, Lucky Strike harga awalnya Rp26.000 naik menjadi Rp27.000 per bungkus,” jelas Imron.

Selain itu, salah satu perokok Viko iya menyatakan tetap merokok walaupun harganya naik.

"Saya tetap merokok walaupun harganya naik karena selera saya rokok Sampoerna yang dari awal Rp. 24.000/bungkus naik jadi Rp.27.000/bungkus dan saya tara akan ganti rokok,”ujar Viko.

Penulis: Awi, Tat, Bur, Ary, Ham
Editor: Red

Baca Juga