Sekilas Info

Ekspedisi EcoNusa

Menyaksikan Festival Kampung Pesisir di Samo, Halmahera Selatan

Perwakilan EcoNusa dan Perwakilan Warga Desa Samo di Sela-sela Acara Festival Kampung Pesisir

Bacan, Hpost - Usai menjajal sejumlah desa di pesisir Papua Barat sejak 22 Oktober 2020, kini Ekspedisi Maluku yang dilakukan EcoNusa Indonesia, tiba di wilayah perairan Maluku Utara (Malut).

Desa pertama yang menjadi persinggahan ialah Desa Gane Barat Dalam, Kecamatan Gane Barat Selatan, Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel) pada 24 Oktober 2020.

Melanjutkan perjalanan, Desa Ke dua yang disinggahi ialah Desa Samo, Kecamatan Gane Barat Utara, Kabupaten Halsel pada 27 Oktober 2020.

Tema yang diangkat dalam ekspedisi ini adalah "Beradat Jaga Hutan Beradat Jaga Laut-Bakudukung Jaga Alam Maluku".

Di Malut, Tim EcoNusa Indonesia bekerja sama dengan Perkumpulan PakaTiva, menggelar Festival Kampung dengan tema "Jaga Adat Dan Budaya Untuk Alam Yang Lestari".

Setibanya di Desa Samo, Tim EcoNusa disambut warga desa dengan sejumlah tarian adat.

Kepala Desa (Kades) Desa Sango Jafar Anhar, dalam sambutannya memberikan ucapan terima kasih kepada EcoNusa dan Perkumpulan PakaTiva, yang telah memilih Desa Samo untuk digelar Festival Kampung.

"Selamat datang di desa kecil kami, karena kedatangan kalian, membawa ilmu yang nanti menjadi bekal kepada warga ke depannya," katanya.

Buah tangan dan ole-oleh warga Desa Samo || Foto: Awi/Hpost

Direktur Eksutif EcoNusa Indonesia Bustar Maitar, menjelaskan, salah satu fokus pada ekspedisi ini ialah, memberikan semangat bagi warga pesisir.

Kenapa? Banyak ide-ide dari masyarakat yang menurutnya baik, yang mungkin belum tereksplorasi.

"Karena misi kami adalah mempromosikan ide-ide masyarakat, yang selama ini belum dilihat oleh pemerintah. Baik Pemerintah Kabupaten (Pemkab), Pemerintah Provinsi (Pemprov) maupun Pemerintah Pusat," akunya di hadapan sejumlah awak media.

Menurutnya, di era pendemi covid-19 sekarang ini, rentan masyarakat pesisir dan masyarakat sekitar hutan terpapar virus tersebut.

Meski virus tersebut belum menjangkit, namun sekali terpapar bisa besar urusannya. Kenapa? fasilitas kesehatan di wilayah pesisir seperti ini, belum memadai serta dan juga akses transportasi yang terbatas.

Dua warga desa Samo sedang "Bahalo" (memukul) sagu || Foto: Awi/Hpost

"Maka dari itu, sejumlah fasilitas dan bantuan kita sediakan. Seperti membagikan masker cuma-cuma, pelayanan media gratis dan memberikan bantuan pupuk dan alat perkebunan," jelasnya.

Dampak covid-19 lainnya, sambung Bustar, juga berpengaruh pada ketahanan pangan. Di Desa Samo sendiri, ketahanan pangan terbilang cukup bagus. Karena masyarakat bisa membuat minyak kelapa sendiri, gula merah sendiri hingga menaman kebutuhan pokok seperti padi.

"Menurut saya, masalah ketahanan pangan di era pandemi, tidak membuat masyarakat Desa Samo panik, karena masyarakatnya cukup mandiri," ungkapnya.

Sembari menambahkan, akan ada Ekspedisi Maluku jilid II yang berfokuskan pada, sampah-sampah di laut mulai dari Ambon hingga Banda Naira pada November 2020.

Memerihkan Festival Kampung, masyarakat Desa Samo melakukan sejumlah kegiatan seperti tumbuk padi, halo sagu (pukul sagu-red), membuat minyak kelapa dan lain sebagainya.

Penulis: Awi
Editor: Firjal

Baca Juga