Melaporkan

Forum Mahasiswa Laporkan Kasus Pembunuhan dan Teror di Malut ke Mabes Polri dan DPR-RI

Alnugrasyah Asri dan kawan-kawan usai membuat laporan di Mabes Polri Foto: Istimewa
Alnugrasyah Asri dan kawan-kawan usai membuat laporan di Mabes Polri Foto: Istimewa

Jakarta - Forum Mahasiswa Pasca Sarjana (FORMAPAS) Jabodetabek, sebuah organisasi mahasiswa yang berasal dari Maluku Utara (Malut) dan berbasis di Jakarta, secara resmi telah melaporkan serangkaian kasus pembunuhan dan teror yang terjadi berulang kali di Halmahera Tengah dan Halmahera Timur kepada Profesi dan Pengaman Polisi (Propam) di Markas Besar Kepolisian Republik Indonesia (MABES POLRI) serta Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR-RI).

Dalam kunjungannya ke Mabes Polri dan DPR-RI pada Selasa (27/6), Alnugrasyah Asri selaku Ketua Umum FORMAPAS Jabodetabek, dan Hamdan Halil selaku Ketua Umum Pengurus Besar Forum Mahasiswa Maluku Utara (PB FORMMALUT) Jabodetabek, menuntut perhatian dari negara terkait penanganan dan penyelesaian kasus pembunuhan dan teror di Halmahera.

"Kami telah membuat laporan resmi hari ini," ungkap Alnugrasyah.

Alnugrasyah juga mengungkapkan harapannya agar Kapolri dan DPR-RI, melalui Komisi III, memberikan perhatian khusus terhadap penanganan kasus pembunuhan dan teror yang terkesan lambat, tidak profesional, dan tidak menjamin rasa keadilan.

"Ironisnya, kasus pembunuhan dan teror ini terjadi seperti perayaan tahunan yang berulang. Bahkan, dalam dua hari terakhir, peristiwa ini terjadi di Desa Damuli Patani Timur dan Desa Dote Weda Timur, Halmahera Tengah," ujar Alnugrasyah.

Ia juga mengungkapkan bahwa kasus pembunuhan dan teror ini telah menarik perhatian publik secara luas, namun penegak hukum setempat, termasuk Polda Maluku Utara dan Polres Halmahera Tengah, belum menunjukkan respons yang cepat dan sigap dalam penanganan hukum serta pengejaran pelaku yang diduga kuat berada di hutan Halmahera dan melakukan aksi teror dan pembunuhan.

"Akibatnya, masyarakat di kampung-kampung bersiap-siaga untuk melakukan pencarian di hutan dengan cara mereka sendiri. Padahal, diperlukan tim gabungan yang melibatkan unsur Polri dan TNI, serta melibatkan partisipasi masyarakat, agar peristiwa ini tidak berujung pada kerusuhan dan pertumpahan darah massal di bumi Fagogogru," ungkapnya.

Sementara itu, Hamdan Halil, Ketua Umum PB FORMMALUT Jabodetabek, menyatakan bahwa Kapolri Jenderal Sigit Prabowo perlu melakukan evaluasi menyeluruh dan segera mencopot Polda Maluku Utara beserta Kapolres Halmahera Tengah.

"Maraknya pembunuhan dan teror ini merupakan bagian dari kegagalan institusi Polri di tingkat daerah yang masih menganggap kasus ini sebagai perkara biasa-biasa saja, sehingga penanganannya terkesan terburu-buru dan tidak serius," tegas Hamdan.

Penulis: Hariyanto Teng
Editor: Hariyanto Teng

Baca Juga