1. Beranda
  2. Cendekia
  3. Headline

Cendekia

Menuju Industri Perikanan Berbasis Ekspor di Maluku Utara: Antara Peluang Global dan Tanggung Jawab Lokal

Oleh ,

Oleh: Prof. Muhammad Aris

Koordinator Prodi Magister Ilmu Kelautan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Unkhair

Kesadaran akan nilai strategis sumber daya perairan laut menempatkan Maluku Utara pada persimpangan penting dalam arah pembangunan perikanannya. Di satu sisi, meningkatnya permintaan pasar global membuka peluang besar bagi daerah untuk mengembangkan industri perikanan berbasis ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi baru. Di sisi lain, peluang ini menuntut kesiapan kebijakan, infrastruktur, dan tata kelola agar pengembangan industri tidak mengabaikan karakteristik lokal dan keberlanjutan sumber daya.

Pembahasan mengenai industri perikanan berbasis ekspor di Maluku Utara perlu dimulai dengan melihat secara jernih potensi yang dimiliki, sekaligus tantangan yang harus diantisipasi sejak awal. Berangkat dari posisi strategis tersebut, pengembangan industri perikanan khususnya komoditas tuna, cakalang, dan tongkol (TCT) berbasis ekspor menawarkan peluang ekonomi yang signifikan bagi Maluku Utara. Permintaan pasar internasional yang terus tumbuh, khususnya untuk produk perikanan yang terjamin mutu dan keberlanjutannya, membuka ruang bagi daerah ini untuk meningkatkan nilai tambah melalui pengolahan, penguatan rantai dingin, dan penciptaan lapangan kerja pesisir.

Dengan pengelolaan yang tepat, orientasi ekspor TCT tidak hanya berpotensi meningkatkan pendapatan daerah, tetapi juga mendorong transformasi ekonomi lokal dari sekadar pemasok bahan baku menjadi bagian penting dalam rantai nilai perikanan global. Peluang ekonomi tersebut akan semakin bermakna apabila diarahkan pada peningkatan nilai tambah di dalam daerah, bukan sekadar pada peningkatan volume ekspor. Selama ini, sebagian besar TCT dari Maluku Utara masih dipasarkan dalam bentuk bahan baku, sehingga nilai ekonomi terbesar justru dinikmati di luar wilayah produksi.

Penguatan hilirisasi melalui pengolahan ikan, penyimpanan berpendingin, hingga pengembangan produk setengah jadi dan siap konsumsi menjadi kunci agar manfaat ekspor dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat pesisir. Dengan demikian, industri perikanan TCT berbasis ekspor tidak hanya berfungsi sebagai penghasil devisa, tetapi juga sebagai penggerak transformasi ekonomi lokal yang lebih berkelanjutan.

Upaya meningkatkan nilai tambah dan memperkuat hilirisasi TCT di Maluku Utara tidak dapat dilepaskan dari persoalan mendasar terkait infrastruktur dan logistik. Karakter wilayah kepulauan, keterbatasan rantai dingin, serta tingginya biaya distribusi antarpulau masih menjadi hambatan utama dalam menjaga mutu produk dan daya saing ekspor. Tanpa dukungan pelabuhan perikanan yang memadai, sistem penyimpanan berpendingin yang terintegrasi, serta konektivitas logistik yang efisien, orientasi ekspor berisiko hanya dinikmati oleh pelaku besar, sementara pelaku lokal kesulitan berpartisipasi. Karena itu, pembangunan infrastruktur perikanan perlu ditempatkan sebagai fondasi penting dalam mendorong industri TCT berbasis ekspor yang inklusif dan berkelanjutan.

Dalam konteks inilah, peran pemerintah daerah menjadi kunci dalam memastikan kesiapan infrastruktur pendukung industri perikanan TCT berbasis ekspor di Maluku Utara. Pemerintah daerah tidak hanya berfungsi sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang mampu menjembatani kebutuhan pelaku usaha lokal dengan tuntutan pasar ekspor. Penyediaan pelabuhan perikanan yang fungsional, penguatan rantai dingin di sentra-sentra produksi, serta perbaikan konektivitas logistik antarpulau merupakan langkah strategis yang membutuhkan keberpihakan kebijakan dan perencanaan jangka menengah yang konsisten. Dengan keterlibatan aktif pemerintah daerah, pembangunan infrastruktur perikanan dapat diarahkan untuk memperluas akses pelaku lokal, sehingga hilirisasi dan orientasi ekspor TCT tidak berhenti pada wacana, tetapi benar-benar menjadi motor penggerak ekonomi pesisir Maluku Utara.

Di luar pembangunan infrastruktur fisik, keberhasilan industri perikanan TCT berbasis ekspor di Maluku Utara juga sangat ditentukan oleh penguatan kelembagaan ekonomi lokal, khususnya koperasi dan UMKM perikanan. Selama ini, nelayan dan pelaku usaha kecil masih menghadapi keterbatasan akses permodalan, teknologi pengolahan, serta informasi pasar, yang membuat posisi mereka lemah dalam rantai nilai ekspor. Koperasi dan UMKM yang dikelola secara profesional dapat menjadi instrumen penting untuk menghimpun produksi, meningkatkan standar mutu, serta memperkuat posisi tawar pelaku lokal. Dengan dukungan kebijakan dan pendampingan yang berkelanjutan, penguatan kelembagaan ini berpotensi menjadikan nelayan dan UMKM bukan sekadar pemasok bahan baku, tetapi aktor utama dalam industri perikanan TCT berbasis ekspor di Maluku Utara.

Seiring dengan penguatan kelembagaan ekonomi lokal, tantangan berikutnya yang tidak kalah penting adalah kemampuan Maluku Utara menembus pasar ekspor yang semakin menuntut standar mutu dan keberlanjutan. Pasar global tidak lagi hanya melihat volume dan harga, tetapi juga menilai aspek ketelusuran, keamanan pangan, serta praktik penangkapan yang bertanggung jawab. Dalam konteks ini, sertifikasi ekspor, baik yang berkaitan dengan mutu produk maupun keberlanjutan sumber daya, menjadi instrumen strategis untuk meningkatkan daya saing perikanan TCT. Dukungan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan lainnya sangat dibutuhkan agar nelayan, koperasi, dan UMKM perikanan mampu memenuhi standar tersebut tanpa terbebani secara berlebihan. Dengan akses pasar yang lebih adil dan sertifikasi yang inklusif, industri perikanan TCT berbasis ekspor di Maluku Utara dapat berkembang secara lebih sehat dan berkelanjutan.

Pemenuhan standar pasar dan sertifikasi ekspor pada akhirnya tidak dapat dilepaskan dari kondisi nyata stok sumber daya ikan di perairan Maluku Utara. Keberlanjutan sertifikasi dan kepercayaan pasar global sangat bergantung pada jaminan bahwa tuna, cakalang, dan tongkol ditangkap dari stok yang dikelola secara bertanggung jawab. Tanpa pengelolaan perikanan yang berbasis data stok, pengaturan upaya tangkap, serta perlindungan ekosistem pendukung, orientasi ekspor justru berisiko mendorong tekanan berlebih terhadap sumber daya. Oleh karena itu, penguatan industri perikanan TCT berbasis ekspor perlu berjalan seiring dengan penerapan pengelolaan perikanan yang berkelanjutan, agar akses pasar global tidak hanya tercapai dalam jangka pendek, tetapi juga dapat dipertahankan untuk generasi mendatang.

Pada akhirnya, upaya mendorong industri perikanan tuna, cakalang, dan tongkol berbasis ekspor di Maluku Utara perlu ditempatkan dalam kerangka pembangunan yang menyeluruh dan berjangka panjang. Ekspor bukan sekadar tujuan, melainkan sarana untuk memperkuat ekonomi pesisir, menjaga keberlanjutan sumber daya, dan menegaskan kembali identitas maritim daerah. Dengan dukungan infrastruktur yang memadai, peran aktif pemerintah daerah, serta penguatan koperasi dan UMKM perikanan, orientasi ekspor dapat menjadi jalan bagi peningkatan kesejahteraan nelayan tanpa mengorbankan laut sebagai ruang kehidupan. Di sinilah tantangan sekaligus peluang Maluku Utara: memastikan bahwa pertumbuhan industri perikanan tidak hanya tercermin pada angka ekspor, tetapi juga pada laut yang tetap lestari dan masyarakat pesisir yang semakin berdaya.

Berita Lainnya