Cendekia
AHMAD MAHIFA dan JATI DIRI TIDORE
Oleh: Rusly Saraha
=====================================
Euforia kemenangan Timnas Indonesia atas Bangladesh sekaligus memastikan tiket ke final FIFA ASEAN Cup 2026 mendadak terhenti.
Kabar duka datang dari Tidore. Ahmad Mahifa, lelaki yang mencintai dan dicintai rakyatnya, telah pergi dengan tenang menghadap Tuhan, Sang Maha Pemberi Hidup.
Saya mengenal Mahifa sekitar akhir 2004. Kala itu, ia muncul di Tidore melakukan konsolidasi kecil dengan sejumlah simpul masyarakat.
Ia tidak datang dengan rombongan besar. Tak ada panggung megah. Tak ada iring-iringan kendaraan. Ia hanya menggunakan sebuah mikrolet biru yang kemungkinan milik kerabat istrinya, Rugaya Muhammad, dari Dokiri.
Mikrolet itu membawanya dari satu rumah ke rumah lainnya. Mahifa berbicara dengan hati, sederhana dan apa adanya. Ia tidak menebar banyak janji, apalagi menawarkan visi-misi yang melangit.
Ia datang membawa pengalaman panjang sebagai birokrat. Jabatan terakhirnya ketika itu adalah Kepala Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Jayapura, posisi yang diembannya sejak 1994.
Perjalanan Mahifa menuju posisi itu pun tidak sederhana.
Pada 1968, Mahifa muda menginjakkan kaki di Tanah Papua. Surat dari sang kakak, Ibrahim, menjadi titik balik hidupnya. Ia rela meninggalkan bangku Fakultas Ekonomi Universitas Khairun Ternate, meski baru saja merasakan kegembiraan sebagai mahasiswa.
Impian menjadi sarjana yang membanggakan Gurabunga harus ia tinggalkan. Bukan karena kehilangan keinginan belajar, tetapi karena ia tidak ingin membebani kedua orang tuanya.
Di Papua, sang kakak menjanjikan kesempatan untuk bekerja. Mahifa kemudian memulai pengabdiannya sebagai pegawai di Kantor Gubernur Irian Jaya.
Pekerjaan awalnya sederhana: mengetik dan mengantar surat.
Namun dari pekerjaan itu, ia belajar beradaptasi. Disiplin dan keinginannya untuk berkembang membuat jalan pendidikannya kembali terbuka.
Ia mendaftar di Jurusan Sejarah Universitas Cenderawasih Jayapura. Hampir tiga semester ia menjalani kuliah sambil bekerja.
Tetapi takdir kembali membawanya ke jalan berbeda.
Atas permintaan atasannya, Mahifa diminta masuk Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN) Jayapura. Ia harus memilih: tetap menjadi mahasiswa Uncen atau masuk sekolah kedinasan yang mempersiapkan birokrat pemerintahan.
Mahifa memilih APDN.
Di sanalah mentalitas kepemimpinannya ditempa. Ia belajar tentang pemerintahan, kedisiplinan, pengabdian dan loyalitas kepada negara.
Setelah menamatkan pendidikan, jalan pengabdiannya semakin terbuka. Ia dipercaya menjadi Camat Demta atas rekomendasi Gubernur Acub Zaenal.
Demta kala itu dikenal sebagai salah satu wilayah yang menghadapi persoalan keamanan. Namun Mahifa mampu merebut hati masyarakat melalui pendekatan yang tulus.
Ia juga mampu membangun komunikasi dengan pemerintah kabupaten hingga pembangunan jalan Jayapura-Demta dapat diwujudkan.
Jalan itu kemudian membuka akses masyarakat terhadap berbagai aktivitas sosial dan ekonomi.
Setelah menjadi camat, Mahifa kembali mengejar pendidikan. Ia menyempurnakan gelar sarjananya di Institut Ilmu Pemerintahan (IIP) Jakarta.
Tahun 1985, ia kembali ke Jayapura dan dipercaya sebagai Kepala Bagian Pembangunan Kabupaten Jayapura.
Selama sembilan tahun, Mahifa menjadi bagian penting dari pembangunan Kabupaten Jayapura. Pengabdiannya kemudian mengantarkannya menduduki jabatan Kepala Dinas Pendapatan Daerah.
Hingga suatu ketika, panggilan untuk "pulang kampung" datang.
Mahifa sempat ragu. Usianya ketika itu tidak lagi muda. Dunia politik juga merupakan ruang baru baginya.
Namun ada Rugaya, istrinya, yang menguatkan langkah tersebut.
Dalam buku Laki-Laki dari Tidore, Alberthiene Endah menggambarkan bagaimana Rugaya menjadi salah satu motivator terpenting dalam keputusan Mahifa kembali ke Tidore.
Rugaya mengingatkan bahwa seseorang dapat kembali ke masa lalu dengan bentuk dan perasaan yang berbeda. Jika dahulu ada luka karena merasa dihina di tanah sendiri, maka kepulangan itu bisa menjadi kesempatan untuk memperbaiki sesuatu yang pernah koyak.
Kata-kata itu akhirnya menguatkan Mahifa.
Ia memilih pulang.
Tahun 2005, ia masuk dalam pergumulan politik Pilkada Tidore Kepulauan. Mahifa maju sebagai calon wali kota berpasangan dengan Salahuddin Adrias.
Pertarungan berlangsung ketat hingga putaran kedua. Mahifa-Adrias berhadapan dengan Wahyudin Abdul Hamid atau Abang Mito yang berpasangan dengan Abdurrahman Lahabato.
Hasilnya, mayoritas rakyat memilih Mahifa.
Pada 8 November 2005, Ahmad Mahifa dilantik sebagai Wali Kota Tidore Kepulauan.
Kepemimpinannya dikenal sederhana dan dekat dengan rakyat. Ia juga memberi ruang besar bagi nilai-nilai adat se atorang Tidore dalam kehidupan pemerintahan.
Pendidikan dibenahi. Fasilitas kesehatan diperkuat. Ekonomi masyarakat mendapat perhatian, termasuk melalui revitalisasi Pasar Sarimalaha.
Lima tahun kemudian, Mahifa kembali maju untuk periode kedua, kali ini berpasangan dengan Hamid Muhammad.
Pada masa itu, saya mendapat amanah sebagai Ketua Panwaslu Tidore Kepulauan.
Sebagai penyelenggara pengawasan, kami beberapa kali harus "berhadapan" dengan Mahifa yang berstatus sebagai petahana. Sejumlah ASN dan kepala dinas yang diduga melakukan tindakan menguntungkan pasangan Mahifa-Hamid kami panggil untuk menjalani klarifikasi.
Mahifa memahami posisi kami.
Tidak ada ancaman. Tidak ada tekanan. Tidak ada upaya untuk "menggoda" lembaga pengawas dengan tindakan yang dapat mencederai proses demokrasi.
Ia menghormati kerja profesional penyelenggara pemilu.
Di situlah saya melihat sosok Ahmad Mahifa yang sesungguhnya.
Ia memahami kepemimpinan loa se banari—tentang kebenaran dan keadilan.
Sebagai orang yang menjunjung tinggi kebudayaan Tidore sekaligus mencintai sejarah, nilai itu seolah menyatu dalam dirinya.
Ia seperti menghidupkan kembali pesan Borero Doti Raha yang pernah disampaikan Sultan Nuku ketika melakukan konsolidasi perlawanan terhadap VOC di Patani pada 1780:
"Bolito se loa se banari ua, ho toma ngolo, soma se gorango mangam, isa toma kie, ega se soho mangam."
Jika engkau tidak menegakkan keadilan dan kebenaran, ke laut menjadi santapan buaya dan hiu, ke darat menjadi makanan empuk binatang buas.
Barangkali nilai itulah yang menjadi salah satu fondasi kepemimpinannya.
Dan mungkin pula itu yang membuat kepulangannya ke Tidore tidak sekadar tentang memenangkan sebuah kontestasi politik.
Dalam Laki-Laki dari Tidore, ada sebuah kalimat yang begitu menggugah:
"Aku telah kembali. Bukan sebagai anak yang kalah dan dipenuhi dendam. Bukan pula sebagai anak yang menang dan ingin pembuktian. Aku kembali untuk menjadi bagian dari kebangkitan Tidore."
Kalimat itu kini terasa menemukan maknanya sendiri.
Ahmad Mahifa sungguh telah kembali.
Bukan hanya kembali ke tanah kelahirannya, tetapi juga meninggalkan jejak dalam perjalanan panjang Tidore.
Pada Kamis malam, Jumat pertama Oktober 2026, lelaki sederhana itu kembali menemui Tuhan.
Ia pergi membawa seluruh perjalanan hidupnya, tetapi meninggalkan warisan pengabdian, keteladanan dan kecintaan terhadap negeri.
Ahmad Mahifa telah selesai dengan tugasnya.
Namun bagi Tidore, jati diri dan nilai pengabdiannya akan terus menjadi bagian dari ingatan.