Ketenagakeraan
Laut Memberi, Negara Melindungi: Jejak Jaminan Sosial Nelayan Tuna Jambula
Suara deru ombak pantai terdengar nyaring, menyapu pasir dan memecah hening pagi di Jambula, 30 November 2025. Beberapa nelayan tampak bercengkrama penuh tawa di sebuah pangkalan sederhana yang mereka sebut “ruang publik”. Di depannya, tergantung sebuah mesin kapal berukuran 15 PK (Paardenkracht).
“Itu mesin saya,” ujar Istam Samiun sambil mengarahkan telunjuknya ke mesin yang berkilat karena sering disiram air asin.
Di Kelurahan Jambula, para nelayan tuna dikenal tangguh. Sambil menatap laut, Istam menceritakan bahwa sebagian besar armada mereka berlabuh dengan tali pandara yang mengikat kuat di penahan ombak. Di sela percakapan, deru ombak pantai terus menyapu perahu dan pasir, menambah irama pagi di pantai Jambula.
Beberapa perahu tampak berjejer: Tulisan, MBL, Qalam, dan Titisan, memperkenalkan dirinya melalui tangan-tangan nelayan yang percaya diri di atas samudra. “Perahu Titisan itu punya saya,” kata Istam sambil tersenyum. “Ikan di rompong belum makan, jadi istirahat dulu.” Kaos di bahunya bergelantung, menandakan tubuh yang akrab dengan terik matahari dan garam laut.
Sudah 12 tahun Istam melaut, mengikuti jejak ayahnya. Panjang perahunya 12 meter dengan lebar 1,5 meter. “Kalau lagi mujur, bisa angkut sampai dua puluh ekor tuna,” ujarnya.
Perjalanan melaut bukanlah hal yang ringan. “Dari daratan ke lokasi mancing itu sekitar 60 mil; yang paling dekat 30 mil,” tuturnya. “Kami berangkat jam dua dini hari, pakai dua mesin 15 PK. Lima jam di laut baru sampai di perairan dekat Pulau Batang Dua, bahkan kadang hingga perbatasan Manado.”
Di sekitar mereka, breakwater yang mulai hancur menjadi tempat tali pandara diikat. Sesekali tawa para nelayan pecah, memecah sunyi di antara suara ombak. “Hampir semua yang duduk di sini nelayan tuna,” canda Istam, disambut tawa sahabat-sahabatnya.
Bertahan dengan Jaminan dari Laut
Pekerjaan yang penuh risiko membuat Istam sadar pentingnya perlindungan. “Kami butuh BPJS Ketenagakerjaan,” ujarnya serius. “Saya punya BPJS, dibantu waktu itu oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Ternate, bersama Pak Yasim dari Koperasi Nelayan Jambula.”
Nama Yasim Taher sudah tidak asing di Jambula. Saat ditemui di rumah yang juga menjadi sekretariat koperasi, pria berusia 56 tahun itu bercerita bahwa koperasinya menampung sekitar 60 nelayan, di antaranya 28 orang nelayan tuna.
“Saya mulai melaut tahun 1990,” kisahnya. “Tapi fokus di tuna baru sejak 2013, waktu nelayan dari Manado mulai datang memancing tuna di sini.”
Peralihan profesi dari ikan pelagis seperti tude ke tuna tidak mudah. “Kami harus belajar cara buat kail, teknik mancing, sampai manajemen biaya operasional,” jelasnya. Untungnya, koperasi bisa membantu lewat subsidi BBM dan es batu yang disediakan perusahaan tuna langganan di Jambula.
Yasim sadar bahwa kecelakaan kerja bisa datang kapan saja. Karena itu, ia berencana membuka Sisa Hasil Usaha (SHU) koperasi untuk dijadikan iuran BPJS Ketenagakerjaan secara mandiri bagi para nelayan.
“Kami menunggu sosialisasi dari Dinas Kelautan dan Perikanan bersama BPJS Ketenagakerjaan,” katanya. “Hasil tangkapan yang disalurkan ke koperasi bisa digunakan untuk bayar iuran secara mandiri. Jadi lebih mudah; koperasi bisa talangi dulu.”
Dari 28 anggota nelayan tuna di koperasi, baru 12 orang yang memiliki BPJS Ketenagakerjaan. Namun sebagian belum memperbarui status kepesertaan karena kendala pembayaran.
Selain sebagai ketua koperasi, Yasim juga menjabat Ketua RT di Kelurahan Jambula. Dari jabatan itu, ia menerima BPJS Ketenagakerjaan kategori pekerja rentan yang difasilitasi Pemerintah Kota Ternate. “Saya ingin warga lain juga sadar pentingnya perlindungan ini,” ujarnya lirih.
Rumah Yasim berdiri hanya 50 meter dari bibir pantai. Di depannya berjajar perahu yang diikat tali pandara. Di sudut rumah, tampak deretan jeriken berkapasitas 25 liter.
“Minyak dulu saya beli lima liter,” sapa seorang nelayan yang mampir. Yasim tersenyum, menjelaskan bahwa koperasi mereka mendapatkan subsidi BBM nelayan dari pemerintah.
“Minyak itu utama. Tanpa minyak, kami tak bisa ke laut,” katanya. Harga Pertalite Rp10.000 per liter menjadi angka yang harus dijaga agar perahu tetap bisa berlayar.
Perlindungan dari Negara
Kepala Bidang Ketenagakerjaan Kota Ternate menegaskan, BPJS Ketenagakerjaan hadir untuk memastikan setiap pekerja, formal maupun informal, mendapat hak perlindungan.
“Negara menjamin hak setiap warga. Karena itu BPJS hadir sebagai representasi jaminan tenaga kerja yang adil,” ujarnya. Program Universal Coverage Jaminan Sosial Ketenagakerjaan (UHC Jamsostek) menjadi indikator penting pengawasan pekerja di seluruh sektor.
Pemerintah Kota Ternate juga memperkuat komitmen itu melalui Peraturan Wali Kota Nomor 50 Tahun 2023, yang mencakup 7.772 pekerja rentan di seluruh wilayah kota Ternate.
Di pantai Jambula, matahari mulai tenggelam, menyisakan siluet perahu dan wajah-wajah yang ditempa garam dan waktu. Deru ombak pantai terus mengiringi langkah mereka, mengingatkan bahwa laut bukan sekadar tempat mencari nafkah, tapi juga ruang hidup, harapan, dan perjuangan.
Mereka sadar, di balik ombak yang tenang, selalu ada risiko. Tapi dengan jaminan sosial yang melindungi, mereka tahu bahwa laut tidak selalu harus menakutkan. Kadang, laut juga bisa menjadi pelukan yang memberi rasa aman.