Sejarah
Tak Terurus, Museum Trikora Morotai Bocor dan Dipenuhi Rumput Liar
Museum Trikora di Desa Wawama, Kecamatan Morotai Selatan, kini tampil jauh dari megahnya sejarah yang pernah diembannya.
Bangunan yang seharusnya menjadi ruang edukasi dan wisata sejarah itu justru menunjukkan tanda-tanda kerusakan serius. Atap bocor, kaca jendela retak, hingga lantai yang dipenuhi rumput liar menjadi pemandangan sehari-hari di museum tersebut.
Museum yang dapat diakses hanya dalam 12 menit dari pusat Kota Daruba ini dibangun oleh Pemerintah Pusat melalui Kementerian Kebudayaan dan diresmikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 2012. Di dalamnya tersimpan berbagai artefak peninggalan Perang Dunia II, mulai dari senjata hingga peluru yang menjadi saksi pertempuran hebat pada masa itu.
Lokasi museum ini juga bersejarah karena menjadi titik pendaratan pasukan Sekutu Amerika Serikat di bawah Jenderal Douglas MacArthur pada 1944, bagian dari Operasi Trade Wind yang menandai awal pertempuran antara Amerika dan Jepang di Morotai.
Namun gambaran megah itu kini berbanding terbalik dengan kondisi terkini di lapangan. Berdasarkan pantauan Halmaherapost.com pada Sabtu, 29 November 2025, kerusakan terlihat di hampir seluruh sudut bangunan.
Penjaga museum, Muhlis Saramin, mengatakan bahwa persoalan ini sudah berlangsung sejak lama. Kerusakan mulai muncul setelah bangunan museum diserahkan kepada Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai pada 2019.
“Dua bangunan Museum Trikora dan Museum Perang Dunia Dua diserahkan ke Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai pada tahun 2019,” ujar Muhlis.
Ia menjelaskan, atap yang rapuh dan kaca jendela yang klemnya sudah putus membuat pengunjung berada dalam posisi rawan.
“Yang berbahaya itu atap sama kaca. Kita takut ketika ada pengunjung, tiba-tiba kaca atau plafon jatuh, apalagi kalau angin kencang dari arah laut,” jelasnya.
Muhlis mengakui bahwa kondisi museum jauh lebih baik ketika masih berada di bawah Kementerian Kebudayaan. Namun tiga hingga empat tahun setelah pengelolaan diserahkan ke pemerintah daerah, bangunan mulai rusak dan tidak dirawat.
Meski kondisinya memprihatinkan, museum tetap menerima kunjungan sekitar 10 orang setiap hari. Beberapa kegiatan masyarakat juga masih memanfaatkan bangunan tersebut, walau fasilitasnya sebagian besar sudah tidak layak digunakan.
“Realitasnya, banyak fasilitas museum tidak terurus. Lantainya juga berlumut dan ditumbuhi rumput,” kata Muhlis.
Muhlis berharap pemerintah daerah memberikan perhatian lebih terhadap museum yang sudah lama menjadi daya tarik wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara.
“Banyak wisatawan luar negeri datang dan mereka berkesan, tapi berharap fasilitas museum diperbaiki,” tuturnya.
Masalah lain yang ditemui adalah biaya operasional museum yang cukup besar. Menurut Muhlis, tagihan listrik bisa mencapai Rp2,3 juta per bulan, sementara anggaran yang tersedia sangat terbatas.
“Kami sudah berusaha, tapi anggaran yang ada masih sangat kecil,” pungkasnya.
Ia menegaskan bahwa Museum Trikora merupakan aset sejarah nasional yang seharusnya dijaga bersama.
“Museum ini jangan dibiarkan tidak terurus. Morotai adalah saksi sejarah yang dikenal dunia. Kita harus menjaga dan merawatnya,” ujarnya.