Jumlah Wisudawan Menurun Setiap Tahun, Ketua STAI Babussalam Sula Ungkap Penyebabnya
Jumlah wisudawan dan wisudawati di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Babussalam Sula, Maluku Utara, mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Kondisi ini bukan disebabkan oleh rendahnya minat masyarakat untuk kuliah, melainkan karena keterbatasan ekonomi keluarga.
Ketua STAI Babussalam Sula, Dr. Sahrul Takim, mengatakan banyak lulusan SMA memilih langsung bekerja, terutama di sektor pertambangan dan lapangan kerja lain yang cepat menghasilkan uang.
“Keterbatasan ekonomi mendorong mereka lebih memilih bekerja daripada melanjutkan pendidikan tinggi,” ujar Sahrul kepada awak media, Selasa, 20 Januari 2026.
Berdasarkan hasil riset terbatas yang dilakukan pihak kampus, Sahrul mengungkapkan bahwa keinginan masyarakat untuk berkuliah sebenarnya cukup tinggi. Namun, kendala biaya menyebabkan jumlah mahasiswa baru terus menurun dan berdampak pada berkurangnya jumlah alumni setiap tahun.
“Penurunan ini bukan soal minat, tetapi soal kemampuan ekonomi masyarakat,” jelasnya.
Pada wisuda tahun ini, STAI Babussalam Sula meluluskan 77 wisudawan, menurun dibandingkan tahun sebelumnya yang mencapai lebih dari 90 orang. Penurunan tersebut tercatat sekitar 20 orang.
Untuk mengatasi persoalan tersebut, STAI Babussalam Sula terus menjalin koordinasi dengan berbagai pihak eksternal guna membuka akses beasiswa bagi mahasiswa.
“Saat ini kami mengandalkan Beasiswa Kartu Indonesia Pintar (KIP) dari Pemerintah RI, Beasiswa Maluku Utara Bangkit dari Pemerintah Provinsi Maluku Utara, serta komitmen bantuan beasiswa dari Baznas,” ungkap Sahrul.
Ia berharap pemerintah daerah dapat melihat kondisi ini sebagai kebutuhan mendesak masyarakat dalam memperoleh akses pendidikan tinggi.
“Banyak orang tua ingin menyekolahkan anaknya ke perguruan tinggi, tetapi tidak memiliki biaya. Ketika ada beasiswa, barulah mereka berani mengambil keputusan,” katanya.
Dari sisi kualitas, Sahrul menegaskan bahwa STAI Babussalam Sula telah memiliki sumber daya manusia yang memadai. Para dosen dinilai kompeten sesuai bidang keilmuan dan jenjang pendidikan, sementara fasilitas kampus terus dibenahi meski belum sepenuhnya sempurna.
Selain itu, kampus juga fokus pada pengembangan karier dan kesejahteraan mahasiswa melalui berbagai program bantuan. Upaya ini dinilai mulai meningkatkan minat masyarakat, meski faktor biaya masih menjadi kendala utama.
Sebagai solusi alternatif, STAI Babussalam Sula membuka kelas pegawai bagi aparatur dan pekerja yang ingin melanjutkan studi. Perkuliahan dilaksanakan setiap Sabtu dan Minggu, dengan mahasiswa berasal dari Kabupaten Kepulauan Sula dan Pulau Taliabu.
Ke depan, STAI Babussalam Sula menargetkan peningkatan status dari Sekolah Tinggi menjadi Institut. Dengan perubahan status tersebut, kampus diharapkan dapat membuka program studi yang lebih umum dan variatif sesuai kebutuhan masyarakat.
“Jika sudah menjadi Institut, kita bisa memetakan minat masyarakat dan mengusulkan program studi baru yang lebih luas,” ujarnya.
Sahrul menegaskan bahwa STAI Babussalam Sula merupakan aset bersama milik masyarakat dan pemerintah. Ia mengajak semua pihak untuk bergotong royong mendorong peningkatan jumlah mahasiswa dan kualitas sumber daya manusia.
“Mari bersama-sama memajukan kampus ini sebagai bagian dari upaya membangun SDM di daerah dan negeri ini,” pungkasnya.