Iuran Tetap Jalan, Tumpukan Sampah Menggunung di Permukiman Ternate
Persoalan sampah di Kota Ternate kembali menuai keluhan warga. Pengangkutan yang tidak dilakukan secara rutin, ditambah minimnya fasilitas tempat penampungan, membuat tumpukan sampah menggunung di sejumlah kawasan permukiman padat penduduk.
Pantauan halmaherapost.com, Minggu, 1 Februari 2026, di sejumlah kelurahan seperti Tanah Raja, Muhajirin, Kota Baru, Takoma, dan Maliaro, terlihat sampah bertebaran di pinggir jalan dan lorong permukiman. Di beberapa titik, sampah dilaporkan belum diangkut selama berhari-hari. Kondisi tersebut diperparah dengan tidak tersedianya bak penampung, sementara tempat sampah yang ada sudah penuh dan meluap.
Irwan, warga Kelurahan Tanah Raja RT 05 RW 02, mengaku sampah di depan rumahnya belum diangkut sejak Jumat lalu. Akibatnya, tumpukan sampah menimbulkan bau menyengat dan mengundang banyak lalat.
“Sampah ini seharusnya sudah diangkut. Saya pulang dari Sofifi hari Jumat kemarin, sampah sudah penuh di depan rumah. Tapi sampai sekarang belum juga diangkut,” ujar Irwan.
Keluhan serupa disampaikan Andri Idrus, warga Kelurahan Muhajirin RT 06 RW 03. Menurutnya, sampah di lorong tempat tinggalnya kerap dibiarkan berhari-hari tanpa pengangkutan, sehingga warga terpaksa membuang sampah ke lokasi lain.
“Sampah di lorong kami kadang ditinggal begitu saja sampai beberapa hari. Akhirnya kami buang ke depan Taman Nukila. Walaupun tidak ada bak penampung, kami taruh saja di atas trotoar,” kata Andri.
Ia juga menyoroti kewajiban warga membayar iuran sampah setiap bulan yang dinilai tidak sebanding dengan pelayanan yang diterima.
“Uang sampah tiap bulan kami bayar Rp20 ribu. Dulu Pak RT yang menagih, sekarang petugas pengangkut sampah yang menagih. Belum lagi di tagihan air juga ada pembayaran sampah. Tapi pelayanannya seperti ini,” ujarnya dengan nada kesal.
Andri berharap Pemerintah Kota Ternate dan pihak kelurahan lebih serius melakukan pengawasan agar pengangkutan sampah bisa dilakukan secara rutin, terutama di kawasan padat penduduk.
“Kami ini daerah padat, jadi sampah setiap hari pasti ada,” tambahnya.
Sementara itu, Rian, warga Kelurahan Kota Baru, juga menyoroti tumpukan sampah di depan salah satu gerai ritel modern di wilayah tersebut. Ia menduga sampah tersebut berasal dari warga sekitar yang tidak memiliki tempat pembuangan sementara.
“Sampah di depan Indomaret itu biasanya orang-orang dari lorong Takoma yang taruh di situ. Biasanya setiap hari ada mobil pengangkut yang angkut,” katanya.
Rian mengusulkan agar pemerintah menyediakan bak penampung sampah permanen di lokasi tersebut agar sampah tidak berserakan dan terbawa angin.
“Kalau bisa di depan Indomaret Kota Baru dibuat bak penampung sampah, supaya sampah tidak berseliweran,” tutupnya.