Proyek Bronjong Rp3,5 Miliar di Jojame Halmahera Selatan Nyaris Ambruk
Proyek pekerjaan darurat normalisasi dan penguatan tebing sungai (bronjong) di Desa Jojame, Kecamatan Bacan Barat Utara, Kabupaten Halmahera Selatan, yang menelan anggaran sekitar Rp3,5 miliar, dilaporkan nyaris ambruk meski belum genap setahun dibangun.
Hasil pantauan di lapangan menunjukkan, kondisi fisik bronjong yang dikerjakan oleh CV Labuha Indah Berkarya dengan kontraktor Billy Theodorus tersebut mulai mengalami kerusakan di sejumlah titik. Proyek yang dikerjakan sejak Mei hingga Oktober 2025 itu kini memicu kekhawatiran warga setempat.
Warga menilai kualitas pekerjaan tidak sebanding dengan besarnya anggaran yang digelontorkan. Pasalnya, Desa Jojame dikenal sebagai wilayah yang kerap dilanda banjir setiap musim hujan, sehingga proyek normalisasi dan penguatan tebing sungai ini sangat diharapkan mampu memberikan rasa aman bagi masyarakat.
“Torang ingin setiap bangunan, terutama bronjong yang dibangun ini, bisa kitorang nikmati dan tidak lagi khawatir setiap hujan banjir merendam torang punya kampung dan rumah,” ujar Muhammad, anggota BPD Desa Jojame, Senin, 2 Februari 2026.
Muhammad mengatakan, sebagai daerah langganan banjir, pembangunan bronjong seharusnya dilakukan dengan kualitas konstruksi yang kuat dan tahan lama. Namun, kondisi di lapangan justru menunjukkan sebaliknya.
“Ini baru selesai masa pemeliharaan, tapi bronjong sudah mulai rusak. Sedangkan anggaran yang digunakan miliaran rupiah. Torang tidak yakin bronjong ini bisa bertahan sampai satu tahun,” katanya.
Ia menambahkan, proyek tersebut baru rampung pada Oktober 2025, namun kondisi fisiknya kini sudah memprihatinkan dan nyaris ambruk. Hal ini menimbulkan tanda tanya besar di tengah masyarakat terkait mutu pekerjaan dan pengawasan proyek.
“Kami bersyukur Desa Jojame masuk prioritas pembangunan normalisasi dan penguatan tebing sungai dari Pemda Halmahera Selatan. Tapi bukan hasil seperti ini yang kami harapkan. Kondisi bronjong ini belum bisa menjamin ketenangan masyarakat saat hujan deras,” tegasnya.
Sementara itu, Billy Theodorus selaku kontraktor pelaksana proyek belum memberikan respons saat dikonfirmasi hingga berita ini ditayangkan.
Diketahui, proyek normalisasi dan penguatan tebing sungai tersebut bersumber dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Halmahera Selatan dengan nilai anggaran sekitar Rp3,5 miliar dan panjang pekerjaan kurang lebih 400 meter.