1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Danau Laguna Ternate Rawan Longsor, Warga Soroti Pembangunan Sempadan

Oleh ,

Kawasan Danau Laguna di Kota Ternate kembali menjadi sorotan. Dalam beberapa bulan terakhir, longsor terjadi di sejumlah titik di sekitar danau dan menyebabkan kerugian bagi warga.

Pembangunan di kawasan sempadan danau pun dituding menjadi salah satu pemicu meningkatnya risiko bencana.

Longsor di sisi timur Danau Laguna beberapa waktu lalu menyeret sedikitnya 60 pohon pala milik warga yang telah memasuki masa produktif. Peristiwa itu menambah daftar kejadian serupa yang berulang setiap musim hujan.

Pantauan halmaherapost.com, Kamis, 12 Februari 2026, di sisi timur danau terlihat deretan rumah berdiri di kawasan sempadan, bahkan sebagian mendekati tebing. Kondisi tersebut memunculkan kekhawatiran warga, terutama saat curah hujan tinggi yang berpotensi memicu pergerakan tanah.

Hingga kini, belum ada data resmi yang terhimpun terkait jumlah bangunan rumah maupun area komersial di sekitar Danau Laguna yang telah mengantongi Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Ono, warga Kelurahan Fitu, mengaku menjadi salah satu korban longsor. Ia menyebut kebun pala miliknya ikut terseret akibat pergerakan tanah yang diduga dipicu aktivitas di bagian atas lahan.

“Lahan kebun saya longsor dan membawa enam puluh pohon pala yang mulai berbuah. Saya sudah berupaya mengadu ke Lurah Ngade, tetapi belum ada hasil hingga kini,” ujarnya.

Menurut Ono, di atas kebunnya kini berdiri permukiman warga yang juga dijadikan lokasi pembuangan sampah.

“Kalau dicek, di atas lahan saya itu ada permukiman dan tempat pembuangan sampah. Ini salah satu faktor. Saya sudah koordinasi ke Lurah Ngade, tapi belum ada tindak lanjut,” tambahnya.

Keluhan serupa disampaikan Amin. Ia menilai kawasan sempadan Danau Laguna seharusnya tidak lagi menjadi lokasi pembangunan karena berulang kali terjadi longsor.

“Sudah beberapa kali longsor. Kebun Bulungki, Ci Mirna, dan Lisa juga pernah kena. Coba lihat di atasnya, wilayah Kelurahan Ngade itu, rumah besar-besar sampai di pinggir tebing,” ujarnya.

Amin mengaku khawatir setiap kali hujan deras turun. Ia takut dampaknya meluas hingga ke danau maupun kebun-kebun warga lainnya.

“Setahu saya, daerah sempadan Danau Laguna itu tidak boleh membangun. Tapi kenapa banyak perumahan di atasnya?” ucapnya.

DPRD Minta Penegakan Tata Ruang

Anggota Komisi III DPRD Kota Ternate, Nurlela Syarif, menegaskan pemerintah harus tegas menegakkan aturan tata ruang apabila ditemukan pelanggaran.

“Kalau memang melanggar dan tidak sesuai aturan, harus ditindak. Persoalan tata ruang di Kota Ternate cukup kompleks, bukan saja di area Danau Laguna, tetapi juga di sejumlah kawasan lain yang cenderung mengabaikan RTRW,” ujarnya saat dikonfirmasi.

Meski demikian, Nurlela mengaku pihaknya belum dapat memberikan keterangan lebih jauh karena Komisi III DPRD belum melakukan peninjauan langsung ke lokasi.

“Kami belum meninjau lokasi, belum ada kajian, dan belum berkoordinasi dengan mitra terkait, dalam hal ini Dinas PUPR Kota Ternate,” jelasnya.

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kota Ternate belum berhasil dikonfirmasi. Upaya konfirmasi melalui pesan WhatsApp maupun kunjungan langsung ke kantor pada pukul 14.40 WIT belum membuahkan hasil.

Warga berharap pemerintah segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap aktivitas pembangunan di kawasan sempadan Danau Laguna guna mencegah dampak longsor yang lebih besar di masa mendatang.

Berita Lainnya