1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Sartini Hanafi, Anggota DPRD Ternate Siap Kawal Queen Mary Tetap di Dufa-Dufa

Oleh ,

Anggota DPRD Kota Ternate dari Daerah Pemilihan (Dapil) IV Ternate Utara, Sartini Hanafi, menyatakan komitmennya untuk mengawal operasional kapal Queen Mary agar tetap berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudaffar Sjah II, Kelurahan Dufa-Dufa.

Pernyataan itu disampaikan Sartini saat turun langsung bersama warga dalam aksi unjuk rasa yang digelar sebagai bentuk protes atas rencana pemindahan sandar kapal ke pelabuhan lain. Ia menilai, keberadaan kapal Queen Mary di wilayah utara memiliki dampak ekonomi yang signifikan bagi masyarakat.

“Kami bersama Sekda dan Forkopimda serta masyarakat harus memastikan kapal Queen Mary tetap berlabuh di Pelabuhan Sultan Mudaffar Sjah II. Untuk menjaga ketertiban umum, blokade harus dibuka agar aktivitas masyarakat kembali normal,” ujar Sartini melalui pengeras suara, Kamis, 26 Februari 2026.

Menurut politisi PDIP tersebut, pemusatan operasional kapal di Pelabuhan Sultan Mudaffar Sjah II merupakan langkah strategis dalam mendorong pemerataan ekonomi di Kota Ternate, khususnya di Kecamatan Ternate Utara.

Ia menyoroti kondisi Pelabuhan Bastiong yang saat ini sudah padat oleh kapal-kapal rute Halmahera. Karena itu, distribusi aktivitas pelayaran dinilai perlu diatur agar tidak menumpuk di satu titik saja.

“Saya akan terus mengawal ini, tidak hanya hari ini. Pernyataan Sekretaris Daerah akan kami tindak lanjuti melalui surat resmi agar operasional kapal Queen Mary di Pelabuhan Sultan Mudaffar Sjah II berjalan secara berkelanjutan,” tegasnya.

Sartini juga memastikan akan berkoordinasi dengan Sekda, Dinas Perhubungan, KSOP, serta Forkopimda guna memastikan kebijakan tersebut benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat.

Sementara itu, Iwan, ojek pangkalan di Pelabuhan Sultan Mudaffar Sjah II, mengaku penghasilannya menurun drastis saat kapal Queen Mary tidak lagi sandar di pelabuhan tersebut.

“Waktu kapal Queen Mary dari Jailolo sandar di sini, penghasilan bisa Rp200 sampai Rp250 ribu sehari. Setelah pindah, paling Rp100 ribu dan itu pun pas-pasan,” katanya.

Ia berharap kapal tersebut tetap beroperasi di Dufa-Dufa karena dampaknya tidak hanya dirasakan ojek, tetapi juga buruh angkut dan pedagang kecil.

“Kalau kapal sandar di sini, ibu-ibu yang jualan juga dapat rezeki untuk keluarga,” tutupnya.

Berita Lainnya