Idulfitri
Cerita dari Morotai: Perbedaan yang Menguatkan di Hari Raya Idulfitri
Pagi itu, Lapangan Bangsaha di Desa Darame, Kecamatan Morotai Selatan, Kabupaten Pulau Morotai, dipenuhi jemaah yang bersiap menunaikan Salat Idulfitri 1447 Hijriah.
Di antara hamparan sajadah yang mulai terbentang, ada pemandangan yang mungkin luput dari banyak mata, tetapi menyimpan makna mendalam tentang kebersamaan.
Seorang pria, Roger Moore Manawan, tampak berjalan membawa tumpukan kardus dan lembaran koran. Ia bukan bagian dari jemaah yang akan salat. Ia adalah seorang Nasrani Advent. Namun pagi itu, ia memilih berada di tengah keramaian untuk satu tujuan sederhana: membantu.
Bersama anaknya, Roger membagikan kardus dan koran kepada jemaah yang datang tanpa alas. Ia menyodorkannya satu per satu, memastikan siapa pun yang membutuhkan tetap bisa beribadah dengan nyaman di atas tanah lapang.
Tak ada pengeras suara yang menyebut namanya. Tak ada pula sorotan khusus. Namun justru di situlah letak maknanya.
“Saya membagikan ini bukan untuk mencari nama,” ujarnya pelan.
“Ini bentuk kepedulian saya. Setiap salat Idulfitri atau Iduladha di lapangan ini, selalu ada jemaah yang tidak sempat membawa sajadah,” sambungnya.
Baginya, membantu tidak perlu menunggu momen besar. Tapi hari raya, katanya, adalah waktu yang tepat untuk saling menguatkan.
Roger mengaku memiliki banyak teman Muslim. Ia tumbuh dan hidup di lingkungan yang sama, berbagi ruang, cerita, dan keseharian. Maka ketika hari raya tiba, ia merasa tak ada jarak yang membatasi untuk ikut ambil bagian—meski dengan cara yang berbeda.
“Kebetulan teman-teman saya juga banyak yang Muslim. Hari ini mereka merayakan hari raya. Jadi tidak ada salahnya kita saling mendukung,” katanya.
Kardus dan koran bekas yang dibagikannya mungkin terlihat sederhana. Namun di pagi yang hangat itu, benda-benda itu menjelma menjadi simbol—tentang kepedulian, tentang kebersamaan, dan tentang toleransi yang tidak sekadar diucapkan, tetapi dilakukan.
Di lapangan yang sama, ribuan jemaah menunaikan salat dengan khidmat. Sejumlah pejabat daerah juga tampak hadir, mulai dari Bupati Pulau Morotai Rusli Sibua, Sekretaris Daerah Muhammad Umar Ali, hingga unsur Forkopimda dan pimpinan OPD.
Namun di antara semua itu, kisah kecil seperti yang dilakukan Roger menjadi pengingat: bahwa perbedaan bukanlah jarak, melainkan ruang untuk saling menguatkan.
Di Morotai, pagi Idulfitri itu, toleransi tidak hanya menjadi wacana. Ia hadir, sederhana, dan nyata.