Morotai Termasuk Terendah, IPH Tunjukkan Harga Masih Terkendali
Indeks Perkembangan Harga (IPH) di Kabupaten Pulau Morotai tercatat berada di angka 0,54. Angka ini menempatkan Morotai sebagai salah satu daerah dengan tingkat inflasi terendah di Provinsi Maluku Utara.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa harga kebutuhan pokok di Morotai masih relatif stabil dan terkendali, di tengah fluktuasi harga yang terjadi di sejumlah daerah lain.
Informasi ini disampaikan Kepala Bidang Komunikasi Publik dan Media Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Pulau Morotai, Iwan Muraji, usai mengikuti rapat pengendalian inflasi secara daring yang dipimpin Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, Senin, 13 April 2026.
Menurut Iwan, berdasarkan data Badan Pusat Statistik, angka IPH Morotai tergolong rendah sehingga tekanan inflasi masih dapat dikendalikan.
“IPH Morotai di angka 0,54 ini menandakan kondisi harga di daerah kita masih stabil dan terkendali,” ujarnya.
Ia menjelaskan, dibandingkan dengan daerah lain di Maluku Utara, posisi Morotai tergolong cukup baik. Sejumlah daerah tercatat memiliki IPH lebih tinggi, seperti Halmahera Utara sebesar 4,49, Kota Tidore Kepulauan 3,03, dan Pulau Taliabu 2,93.
Sementara itu, Halmahera Selatan berada di angka 1,57 dan Halmahera Barat 1,45. Bahkan, terdapat daerah dengan IPH negatif seperti Kepulauan Sula sebesar -0,27.
“Dari data tersebut, Morotai berada pada kategori inflasi ringan. Artinya, kenaikan harga masih dalam batas wajar dan tidak terlalu membebani masyarakat,” jelasnya.
Iwan menambahkan, IPH merupakan indikator penting untuk melihat perubahan harga kebutuhan pokok di masyarakat. IPH yang tinggi mencerminkan kenaikan harga signifikan yang dapat berdampak pada daya beli, sedangkan IPH rendah menunjukkan harga yang relatif stabil dan masih terjangkau.
Sejumlah komoditas tercatat paling memengaruhi pergerakan harga di Maluku Utara, di antaranya cabai rawit, cabai merah, bawang merah, telur ayam ras, daging ayam, beras, dan minyak goreng. Kenaikan harga cabai bahkan menjadi salah satu penyumbang terbesar inflasi di sejumlah daerah.
Stabilnya IPH di Morotai, lanjut Iwan, dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti ketersediaan bahan pokok yang mencukupi, distribusi barang yang relatif lancar, serta dukungan komoditas lokal dari sektor perikanan dan pertanian.
“Selain itu, upaya pemerintah daerah dalam memantau harga dan menjaga pasokan juga sangat berpengaruh dalam mengendalikan inflasi,” tambahnya.
Dengan kondisi tersebut, masyarakat Morotai dinilai masih merasakan harga kebutuhan pokok yang relatif stabil. Hal ini berdampak positif terhadap daya beli serta menjaga aktivitas ekonomi tetap berjalan baik.
Meski demikian, pemerintah daerah tetap diminta waspada terhadap potensi kenaikan harga, terutama pada komoditas utama seperti cabai dan bahan pangan lainnya yang rentan mengalami fluktuasi.
“Ke depan, penguatan distribusi, peningkatan produksi lokal, dan pemantauan harga secara rutin perlu terus dilakukan agar stabilitas ini bisa dipertahankan,” tutup Iwan.