Diskusi Perkumpulan Pakativa: Akademisi Nilai Maluku Utara Gagal Manfaatkan Karbon Biru
Akademisi Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Khairun, Zulham Harahap, menilai Maluku Utara belum mampu memaksimalkan potensi karbon biru dari ekosistem laut, meski memiliki peran penting dalam penyerapan emisi karbon.
Menurutnya, ekosistem laut seperti mangrove, terumbu karang, dan padang lamun memiliki kemampuan besar dalam menyerap karbon, namun pengelolaannya di daerah belum mendapat perhatian yang memadai.
“Potensi karbon biru ini sangat besar, tetapi belum dimanfaatkan secara optimal di Maluku Utara,” ujar Zulham dalam diskusi bertajuk “Potensi dan Tantangan Pengelolaan Blue Carbon di Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil” yang digelar Perkumpulan Pakativa Maluku Utara, di Ternate, Jumat, 24 April 2026.
Ia menjelaskan, pengelolaan karbon biru dapat dilakukan melalui dua skema, yakni perdagangan karbon (carbon trading) dan insentif karbon. Dalam skema perdagangan karbon, perusahaan penghasil emisi gas rumah kaca diwajibkan memberikan kompensasi atas emisi yang dihasilkan.
Sementara itu, skema insentif karbon dapat diberikan kepada masyarakat atau kelompok yang menjaga kelestarian ekosistem, seperti kawasan hutan dan wilayah pesisir.
“Harapannya, bukan hanya pemerintah pusat, tetapi pemerintah daerah hingga tingkat desa juga bisa memperoleh manfaat dari insentif karbon ini,” jelasnya.
Zulham mengungkapkan, hingga saat ini belum ada informasi mengenai kelompok masyarakat maupun pemerintah daerah di Maluku Utara yang menerima insentif karbon.
Karena itu, ia mendorong pemerintah daerah untuk lebih cepat beradaptasi dan memanfaatkan peluang dari perdagangan karbon maupun insentif karbon, seiring meningkatnya perhatian global terhadap isu perubahan iklim.
“Pemerintah harus lebih cepat menangkap peluang yang ada dalam perdagangan karbon dan insentif karbon yang kini berkembang secara global,” tegasnya.
Sementara itu, Direktur Pakativa Maluku Utara, Nursyahid Musa, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada para peserta yang hadir dalam diskusi tersebut, khususnya terkait isu lingkungan dan karbon biru.
Diskusi itu turut dihadiri Direktur Walhi Maluku Utara Astuti Kilwouw, pengurus Pakativa, serta sejumlah perwakilan lembaga swadaya masyarakat lainnya.