Tragedi Dukono Bukan Soal Pendaki yang Nekad, Melainkan Tentang Kesenjangan Keselamatan
Oleh: Muhammad Guntur
(Warga Halmahera Utara dan peneliti ekologi-budaya di Centre for Melanesian Studies, Unkhair Ternate)
Pagi 8 Mei 2026, Gunung Dukono meletus. Saat itu, dua puluh pendaki berada di lerengnya: sembilan warga negara Singapura dan sebelas warga Indonesia. Tiga orang tidak berhasil turun. Dua jenazah warga Singapura ditemukan dua hari kemudian, tertimbun abu vulkanik dan tertimpa bongkahan batu besar, sekitar lima puluh meter dari puncak.
Media internasional meliput tragedi itu secara luas. Saya membaca seluruh pemberitaan tersebut dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Sebab yang paling dominan bukanlah duka, melainkan tuduhan. Di banyak kolom komentar, termasuk pada media berbasis Singapura, para pendaki disebut nekat, tidak bertanggung jawab, bahkan bodoh.
Narasi yang terlalu sederhana itu mengabaikan banyak hal. Tulisan ini adalah upaya untuk menghadirkan cerita yang tidak muncul dalam berita.
Terlalu banyak orang terseret ke dalam logika konten viral: sebuah logika yang segera menyimpulkan bahwa para pendaki membuat pilihan sendiri dan karena itu pantas menanggung akibatnya. Saya ingin menantang cara pandang tersebut. Ada cerita yang lebih utuh di balik tragedi ini. Cerita itu bermula dari bagaimana kami, orang-orang yang hidup di sekitar Dukono, memahami gunung ini selama puluhan tahun, dan bagaimana jurang antara popularitas Dukono dan sistem keselamatan justru semakin melebar.
Dukono dalam Ingatan Warga Lokal
Sejak kecil, kami terbiasa melihat Dukono meletus hampir setiap hari. Itu bukan sesuatu yang luar biasa. Erupsi pagi hari tidak pernah menghalangi remaja kampung merencanakan pendakian pada sore harinya. Orang-orang di desa hafal jalur berburu rusa yang melingkari gunung. Melintas dekat bibir kawah terasa biasa saja, seperti berjalan di setapak belakang rumah.
Tidak ada yang mengajarkan kami untuk takut pada Dukono, karena tidak ada pengalaman kolektif yang membuat kami benar-benar merasa terancam olehnya.
Bagi warga lokal, Dukono adalah lanskap yang akrab. Letusan-letusannya selama ini lebih sering menghadirkan abu vulkanik, sesuatu yang sudah lama menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Yang tidak kami pahami sepenuhnya, dan tidak pernah dikomunikasikan secara memadai kepada kami, adalah bahwa gunung ini menyimpan risiko geologis yang jauh lebih besar daripada yang terlihat oleh mata.
Gunung berapi ini terus berada dalam status erupsi sejak 1933. Sejak Desember 2024, pemerintah melalui lembaga vulkanologi telah mengeluarkan larangan aktivitas dalam radius empat kilometer dari kawah. Intensitas letusan juga meningkat tajam sejak Maret 2026. Namun informasi itu tidak pernah benar-benar sampai kepada masyarakat dalam bentuk yang mudah dipahami dan dapat ditindaklanjuti.
Satu-satunya gambaran tentang kedahsyatan Dukono yang tersimpan dalam ingatan kolektif masyarakat justru hidup dalam cerita rakyat. Warga percaya hamparan lava beku di koridor timur laut gunung merupakan sisa letusan besar yang pernah mengubur leluhur mereka hidup-hidup berabad-abad silam. Tetapi kisah itu diwariskan sebagai ingatan budaya, bukan sebagai pengetahuan mitigasi bencana.
Tidak ada yang menerjemahkan cerita tersebut menjadi sistem perlindungan yang nyata.
Batasan-batasan yang hidup di sekitar Dukono selama ini juga bukan lahir dari regulasi ilmiah, melainkan dari pengetahuan tradisional: jangan membangun permukiman di jalur lahar dingin, jangan membuka lahan terlalu dekat dengan puncak, jangan mengeksploitasi kaki gunung secara berlebihan. Nilai-nilai itu dipatuhi tanpa perlu papan larangan atau patroli resmi.
Namun pengetahuan lokal itu tidak pernah diterjemahkan ke dalam bahasa risiko yang bisa dipahami orang luar, terutama wisatawan asing yang datang hanya dengan bekal foto-foto indah dari media sosial.
Mereka Tidak Datang untuk Mati
Bahaya Dukono tidak pernah menghapus pesonanya.
Abu vulkaniknya menyuburkan tanah di sekitarnya dan menopang kehidupan banyak keluarga petani. Kawahnya menghadirkan bentang alam yang nyaris tidak memiliki padanan. Di sekitar bibir kawah terbentang padang pasir vulkanik yang terbentuk selama ratusan tahun. Di kejauhan, Samudera Pasifik terlihat membentang tanpa batas. Di bawah jalur pendakian, burung-burung paruh bengkok bermain di kanopi hutan hujan.
Bagi pencinta petualangan ekstrem, Dukono menawarkan pengalaman yang tidak bisa digantikan tempat lain: suara gemuruh vulkanik yang terasa sampai ke tulang, semburan abu yang terus hidup, dan nyala lava yang kadang muncul dari dasar kawah. Inilah pengalaman yang dicari banyak petualang dunia, bukan demi konten semata, tetapi demi pengalaman eksistensial yang lebih dalam dari sekadar dokumentasi media sosial.
Popularitas Dukono tumbuh secara organik melalui foto dan video para pendaki. Salah satu yang ikut memperkenalkan keindahan Maluku Utara adalah Reza Selang atau Anak Esa, seorang kreator konten yang mendokumentasikan alam tanpa motif komersial. Ia adalah salah satu pemandu yang mendampingi rombongan pendaki pada 8 Mei. Ia turun dengan selamat, tetapi membawa beban psikologis yang mungkin tidak akan pernah benar-benar hilang.
Apakah tragedi ini semata-mata akibat budaya konten? Saya rasa itu penyederhanaan yang berlebihan.
Para wisatawan itu datang ke Dukono karena ingin menyaksikan sendiri keindahan yang selama ini mereka lihat. Mereka tidak datang untuk mati. Mereka datang untuk mengisi hidup mereka dengan pengalaman yang bermakna. Saya memahami mengapa mereka pergi ke sana, karena saya tumbuh di tempat yang sama dan memahami daya tarik gunung itu.
Mereka mendaki sebagaimana ribuan orang sebelumnya pernah mendaki: dengan pemahaman yang tidak utuh tentang risiko sebenarnya. Dan ketidaklengkapan informasi itu bukan sepenuhnya kesalahan mereka.
Kesenjangan yang Perlu Kita Bicarakan
Ketika duka masih berlangsung, mencari siapa yang salah tidak akan membawa manfaat bagi siapa pun.
Tim penyelamat bekerja dengan keberanian luar biasa dalam situasi yang mempertaruhkan nyawa mereka sendiri. Relawan menggali abu vulkanik dengan tangan kosong di tengah kabut tebal dan ancaman longsoran batu dari atas. Para korban dan pemandu datang ke Dukono dengan keyakinan bahwa gunung itu masih dapat dikunjungi—sebuah keyakinan yang tidak pernah secara aktif dibantah oleh sistem keselamatan mana pun.
Yang perlu dibicarakan justru adalah kesenjangan struktural yang membuat tragedi seperti ini mungkin terjadi, dan sangat mungkin terulang kembali jika tidak ada perubahan.
Indonesia berada di jalur Cincin Api Pasifik. Ratusan gunung apinya memiliki potensi besar sebagai destinasi wisata alam dan petualangan ekstrem. Namun standar keselamatan di setiap daerah sangat berbeda.
Di destinasi seperti Gunung Rinjani atau Gunung Semeru, sistem pengelolaan pendakian relatif lebih terstruktur. Sementara di tempat seperti Dukono—yang popularitasnya tumbuh cepat melalui media sosial tanpa diiringi infrastruktur keselamatan—yang ada justru kekosongan.
Tidak ada pos pemeriksaan yang memadai. Tidak ada pengawasan aktif. Tidak ada mekanisme komunikasi risiko yang benar-benar efektif, terutama bagi wisatawan asing.
Pertanyaan yang seharusnya kita ajukan bukanlah apakah manusia perlu dilarang mengunjungi tempat-tempat paling menakjubkan di bumi ini. Pertanyaannya adalah: mengapa informasi yang dapat menyelamatkan nyawa tidak pernah benar-benar sampai kepada mereka sebelum mereka memulai pendakian?
Para pendaki hanya melakukan apa yang sejak lama dilakukan manusia: menjangkau batas-batas dunia mereka demi merasakan sesuatu yang nyata. Mereka berhak memperoleh informasi yang lebih baik dan sistem perlindungan yang lebih layak.
Tragedi 8 Mei seharusnya menjadi titik balik. Titik ketika kita berhenti menyalahkan orang-orang yang sudah tidak dapat membela diri, dan mulai mengajukan pertanyaan yang lebih serius tentang sistem yang membiarkan mereka pergi tanpa perlindungan yang memadai.