1. Beranda
  2. Cendekia
  3. Headline

Cendekia

JKPI, Jadikan Sejarah sebagai Jiwa Kota

Oleh ,

Oleh: Alfajri A. Rahman (Jurnalis)

=====================================

Berjalan mengitari sudut-sudut Ternate sering kali terasa seperti melangkah menembus lorong waktu. Di satu sisi, riuh kendaraan dan modernisasi kota terus bergerak cepat. Namun, bayang-bayang masa lalu selalu berbisik dari balik benteng-benteng batu tua, dinding keraton kesultanan, hingga aroma cengkeh dan pala yang sekali tercium di udara.

Ternate bukan sekadar titik geografis di Kepulauan Maluku Utara. Ia adalah bentangan memori hidup dari peradaban bahari dan diplomasi rempah yang pernah mengguncang dunia.

Tantangan terbesar bagi kota bersejarah saat ini adalah bagaimana mencegah narasi masa lalu tenggelam oleh pembangunan fisik yang berjiwa kaku. Kota sering kali dibangun hanya berbasis beton, aspal, batu, semen dan efisiensi ekonomi, sementara identitas historisnya perlahan terdesak ke pinggiran.

Dalam konteks inilah Ternate harus mengambil pilihan berani. Sejarah tidak boleh ditempatkan sekadar sebagai peninggalan masa lalu yang dipajang, melainkan menjadikannya sebagai jiwa yang menggerakkan pembangunan kota.

Menjadikan narasi sejarah sebagai jiwa kota berarti mengintegrasikan nilai-nilai masa lalu ke dalam seluruh urat nadi kehidupan modern.

Sejumlah bangunan benteng legendaris seperti Toloko, Oranje, Kastela, Kota Janji atau Kalamata tidak boleh dibiarkan menjadi struktur mati yang terasing dari permukiman warga. Bangunan dan kawasan cagar budaya tersebut harus terus dihidupkan kembali sebagai ruang publik yang penuh napas kehidupan.

Benteng dan kawasan bersejarah dapat menjadi tempat diskusi anak muda, pusat aktivitas seni, ruang pertunjukan, hingga laboratorium edukasi sejarah di ruang publik. Dengan begitu, sejarah tidak hanya menjadi benda yang dilihat, tetapi pengalaman yang dihidupkan bersama.

Tidak hanya itu, jiwa kota harus tercermin dalam perencanaan tata ruang yang berkarakter. Arsitektur perkotaan Ternate idealnya mampu berdialog dengan sejarah dan alam.

Perlindungan terhadap kawasan pesisir, penghormatan terhadap zona Kesultanan, serta kelestarian lereng Gunung Gamalama merupakan wujud nyata dari penghormatan terhadap identitas kota.

Tanpa perencanaan yang sensitif terhadap nilai sejarah, Ternate akan selalu berisiko kehilangan keunikannya dan berujung menjadi kota seragam yang tumbuh tanpa karakter serta menjauh dari tata nilai budaya lokal.

Kunci utama keberlanjutan jiwa kota ini berada di tangan generasi muda.

Anak-anak muda Ternate perlu diajak menerjemahkan kembali kisah-kisah diplomasi raja-raja Ternate, navigasi samudera dan kearifan lokal ke dalam bahasa zamannya. Semuanya dapat dilakukan melalui media digital, industri kreatif, literasi maupun karya seni modern.

Narasi sejarah tidak akan berdaya jika hanya tersimpan dalam arsip atau berhenti pada penuturan para sesepuh. Sejarah harus terus diceritakan, ditafsirkan dan dihidupkan oleh generasi baru.

Dalam konteks itulah, momentum Rakernas Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Ternate memiliki arti penting. Agenda ini seharusnya tidak berhenti pada seremoni, tetapi menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa sejarah merupakan modal pembangunan kota.

Ternate memiliki kesempatan untuk menunjukkan bahwa warisan sejarah dan budaya bukan beban, melainkan kekuatan. Kota ini tidak harus memilih antara modernisasi dan sejarah. Keduanya dapat berjalan bersama ketika pembangunan memiliki kesadaran terhadap identitas.

Menembus waktu di Ternate adalah tentang menghubungkan akar masa lalu dengan pijakan masa depan.

Ketika sejarah tidak lagi dipandang sekadar sebagai cerita masa lalu, melainkan dihidupi sebagai identitas dan pemandu arah pembangunan, maka Ternate akan tumbuh menjadi kota yang tangguh.

Kota yang tidak hanya berdiri tegak secara fisik, tetapi juga memiliki jiwa yang bergetar kuat di hati setiap warganya dan memikat siapa saja yang melangkah di Kota Rempah.

Berita Lainnya