1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Gerak Cepat Gubernur Sherly, Sukses Redam Karhutla di Maluku Utara, OMC Diperpanjang

Oleh ,

Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) muncul di tengah kemarau ekstrem yang melanda Maluku Utara. Puluhan titik api sempat terdeteksi, memaksa Pemerintah Provinsi Maluku Utara bergerak cepat meminta intervensi pemerintah pusat.

Respons itu mulai membuahkan hasil. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) yang dijalankan sejak 5 September 2026 berhasil memicu hujan di sejumlah wilayah dan membantu meredam titik api.

Hujan turun di Halmahera Timur, Halmahera Tengah, Halmahera Barat, Halmahera Utara, Pulau Morotai hingga Kota Tidore Kepulauan. Sejumlah titik yang sebelumnya terdeteksi mengalami kebakaran pun berhasil ditekan.

Melihat masih tersedianya potensi awan hujan, operasi penyemaian kemudian diperpanjang hingga 12 September 2026.

Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, mengatakan perpanjangan OMC dilakukan untuk memaksimalkan potensi awan hujan sekaligus menjangkau wilayah lain yang masih menghadapi ancaman karhutla dan kekeringan.

“Melihat potensi awan hujan yang masih tersedia, masa operasi penyemaian resmi diperpanjang hingga 12 September 2026,” kata Sherly saat memberikan keterangan pers di Apron Bandara Sultan Baabullah Ternate.

Operasi lanjutan itu diarahkan ke sejumlah wilayah, termasuk Kota Ternate, Kepulauan Sula, Pulau Taliabu dan Halmahera Selatan.

Berawal dari 64 Titik Api

Langkah cepat pemerintah daerah menghadapi karhutla bermula dari meningkatnya ancaman kebakaran pada akhir Agustus 2026.

Saat itu, sekitar 64 titik api terdeteksi dengan luas lahan terdampak mencapai 260 hektare.

Kondisi tersebut membuat Pemprov Maluku Utara mengajukan permohonan bantuan kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada pekan keempat Agustus.

Permintaan itu kemudian direspons dengan pengerahan pesawat untuk mendukung pelaksanaan OMC. Pesawat Cessna Caravan tiba di Maluku Utara pada awal September dan mulai menjalankan operasi pada 5 September 2026.

Hingga penerbangan keenam pada Kamis, 10 September 2026, sedikitnya enam ton garam atau natrium klorida (NaCl) telah disemai ke atmosfer wilayah Maluku Utara.

Intervensi tersebut kemudian menghasilkan hujan di sejumlah wilayah yang sebelumnya menghadapi kondisi kering dan rawan kebakaran.

Bagi Sherly, hasil tersebut menunjukkan pentingnya kolaborasi lintas lembaga dalam menghadapi kondisi cuaca ekstrem.

Ia menyampaikan apresiasi kepada pemerintah pusat, BNPB, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), TNI-Polri, pemerintah kabupaten/kota serta tim penerbang yang terlibat dalam operasi tersebut.

“Saya mewakili Pemerintah Provinsi Maluku Utara, pemerintah kabupaten/kota, serta 1,4 juta warga Malut mengucapkan terima kasih atas intervensi OMC ini. Terima kasih atas sinergi yang sangat baik dari seluruh pihak—BNPB, BMKG, TNI-Polri, pemerintah daerah, hingga tim pilot,” ujarnya.

Warga Diminta Tak Bakar Lahan

Meski hujan mulai turun, Sherly mengingatkan ancaman karhutla belum sepenuhnya berakhir.

Kondisi tanah dan vegetasi yang masih kering membuat potensi kebakaran tetap tinggi. Karena itu, seluruh pemerintah kabupaten dan kota diminta meningkatkan kewaspadaan di wilayah masing-masing.

Masyarakat juga diminta tidak membuka lahan dengan cara membakar.

“Saya meminta kepada seluruh warga masyarakat yang ingin membuka lahan, jangan sekali-kali menggunakan cara membakar,” tegasnya.

Menurut Sherly, kondisi lahan yang sangat kering membuat api mudah menyebar. Percikan kecil sekalipun dapat berkembang menjadi kebakaran besar apabila tidak segera ditangani.

Karena itu, intervensi pemerintah melalui OMC harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan di tingkat masyarakat.

September Jadi Puncak Kemarau

Kepala Stasiun BMKG Sultan Baabullah Ternate, Desindra Deddy Kurniawan, menjelaskan kondisi kemarau yang terjadi di Maluku Utara saat ini memang cukup ekstrem.

September, kata dia, secara historis merupakan periode puncak musim kemarau di wilayah Maluku Utara. Kondisi tersebut semakin diperkuat oleh fenomena El Nino.

“Secara teoritis, potensi hujan alami pada September hampir tidak ada,” jelas Desindra.

Meski demikian, masih terdapat tutupan awan yang berpotensi dimanfaatkan melalui teknologi modifikasi cuaca.

Awan-awan tersebut kemudian menjadi sasaran penyemaian dalam pelaksanaan OMC. Hasilnya, hujan dengan intensitas ringan hingga sedang turun di sejumlah wilayah Maluku Utara.

“Ini menjadi berkah besar di tengah kemarau ekstrem,” ujarnya.

BMKG memperkirakan musim penghujan secara alami baru mulai memasuki Maluku Utara pada akhir Oktober atau awal November.

Artinya, ancaman kekeringan dan karhutla masih perlu diantisipasi dalam beberapa pekan ke depan.

Perpanjangan OMC hingga 12 September menjadi salah satu langkah pemerintah untuk memanfaatkan setiap peluang hujan sekaligus menekan risiko kebakaran dan dampak kekeringan.

Pemprov Maluku Utara bersama BNPB, BMKG, TNI-Polri, pemerintah kabupaten/kota dan seluruh pemangku kepentingan pun masih melanjutkan upaya penanganan di lapangan.

Gerak cepat tersebut menjadi ikhtiar bersama untuk menjaga wilayah Maluku Utara dari ancaman karhutla sekaligus melindungi sekitar 1,4 juta warga di tengah kemarau ekstrem.

Berita Lainnya