Cendekia
BookFest Maluku Utara, Rusli Saraha: Torang Bukan Cuma Jago Bacarita, Tapi Juga Menulis
Tradisi membaca dan menulis kembali digaungkan melalui Festival Buku atau BookFest Maluku Utara 2026 yang digelar di Benteng Oranje, Kota Ternate.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, 11-13 September 2026, itu mengusung tema “Membangun dan Merawat Tradisi Generasi Pembaca dan Menulis untuk Masa Depan”. Salah satu agenda utama dalam kegiatan tersebut yakni peluncuran 99 buku karya penulis lokal Maluku Utara.
Ketua Panitia BookFest Maluku Utara, Rusly Saraha, mengatakan festival ini bukan sekadar menjadi ruang pameran buku, tetapi juga wadah perjumpaan para pegiat literasi untuk memperkuat tradisi intelektualitas di Maluku Utara.
“Festival buku Maluku Utara ini adalah ajang pesta literasi dan ruang perjumpaan silaturahmi bagi para pegiat literasi untuk terus semangat menyalakan tradisi intelektualitas di Maluku Utara,” kata Rusli dalam sambutannya.
Menurut Rusli, semangat literasi di Maluku Utara memiliki akar sejarah yang panjang. Ternate, kata dia, memiliki catatan penting dalam sejarah pendidikan dan peradaban di Nusantara.
Ia menyinggung sosok Gubernur Portugis Antonio Galvao yang disebut memiliki peran dalam perkembangan pendidikan di Ternate. Rusli juga mengutip penulis M. Adnan Amal yang menyebut Galvao sebagai salah satu gubernur terbaik di kawasan tersebut karena mendirikan sekolah di Ternate.
“Karena itu, kita tidak bisa melupakan sejarah. Selain warisan pendidikan yang begitu kuat di jazirah ini, kita juga tahu perjuangan orang-orang di Ternate, Maluku Utara, yang sangat luar biasa,” ujarnya.
Rusli kemudian mengingatkan kembali perjuangan Sultan Baabullah yang berhasil mengusir Portugis dari Ternate pada 1575.
Menurutnya, perjuangan Sultan Baabullah bukan hanya penting bagi sejarah Ternate, tetapi juga memiliki pengaruh terhadap perjalanan sejarah Nusantara.
Ia mengutip pandangan Buya Hamka yang menyebut perjuangan Sultan Baabullah mampu menunda sekitar 100 tahun penjajahan imperialis di Nusantara.
“Jadi, betapa hebat dan luar biasanya apa yang dilakukan oleh Sultan Ternate, Sultan Baabullah, hingga mampu menunda 100 tahun penjajahan di Nusantara. Itu tidak hanya terjadi di wilayah jazirah ini, tetapi di seluruh Nusantara,” katanya.
Rusli menilai warisan pendidikan dan perjuangan para leluhur tersebut harus menjadi aset penting bagi generasi saat ini untuk terus berkarya dan memberikan kontribusi bagi pembangunan daerah.
Karena itu, BookFest 2026 dirancang dengan sejumlah agenda yang tidak hanya berkaitan dengan buku, tetapi juga penguatan ekosistem literasi.
Selain pameran buku yang sebagian besar menampilkan karya penulis lokal, panitia meluncurkan 99 buku karya penulis Maluku Utara.
Kegiatan ini juga dirangkaikan dengan peluncuran Yayasan Rumah Buku Maluku Utara yang diharapkan menjadi medium strategis dalam memperkuat tradisi literasi di daerah.
Agenda lainnya yakni bedah buku, bacarita atau diskusi buku, serta kelas menulis yang menyasar pelajar dan mahasiswa.
Rusli mengatakan kelas menulis menjadi bagian penting karena budaya literasi tidak cukup hanya dengan kemampuan membaca dan berbicara.
“Jadi torang bukan cuma jagoan bacarita, tapi juga jago menulis,” tegasnya.
Pada puncak kegiatan, panitia juga akan memberikan Lifetime Achievement Award kepada sejumlah tokoh yang dinilai telah memberikan kontribusi terhadap perkembangan literasi di Maluku Utara.
“Penting bagi kita untuk menghargai sosok-sosok yang telah memberikan darmabakti untuk negeri ini,” katanya.
BookFest Maluku Utara 2026 turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Kapolda Maluku Utara, Ketua ICMI Maluku Utara, sejumlah pimpinan OPD Kota Ternate, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Ternate, Kepala Dinas Kebudayaan, Kepala DP3A Kota Ternate, serta para kepala sekolah SMP dan SMA di Kota Ternate.