Seabad Lebih Tertidur, Mahasiswa UNIPAS Hidupkan Kembali Tradisi Wela-Wela di Morotai
Tradisi lama yang sempat hilang lebih dari seabad akhirnya kembali hidup. Mahasiswa Kuliah Berkarya Bermasyarakat (KBM) Universitas Pasifik (UNIPAS) Morotai berhasil menghidupkan kembali tradisi Wela-Wela Wajaboela 1917 melalui Festival Wela-Wela di Desa Bobula, Kecamatan Morotai Selatan Barat, Kabupaten Pulau Morotai.
Program KBM yang berlangsung selama 30 hari, sejak 24 Januari hingga 25 Februari 2026, menjadi momentum pengabdian mahasiswa kepada masyarakat. Festival Wela-Wela sendiri digelar pada 15 Februari 2026 sebagai bagian dari rangkaian penyambutan bulan suci Ramadan.
Ketua Panitia Festival, Asy’ari, S.Pi., M.Si., menjelaskan bahwa gagasan menghidupkan kembali tradisi tersebut bermula dari temuan dokumentasi lama di media sosial Facebook milik akun @Adirosyadi adhi. Foto bertuliskan “Wela-Wela, Wajaboela, 1917” menampilkan masyarakat memegang tali atau rotan di depan rumah tradisional, yang diduga merupakan bagian dari tradisi menyambut Ramadan pada masa lalu.
“Berdasarkan penelusuran awal, Wela-Wela merupakan permainan tradisional yang dahulu dilaksanakan masyarakat untuk menyambut bulan Ramadan,” ujar Asy’ari.
Berangkat dari temuan tersebut, mahasiswa KBM menggelar musyawarah bersama pemerintah desa, camat, tokoh adat, tokoh agama, kaum ibu, serta Dosen Pembimbing Lapangan (DPL). Hasilnya, seluruh pihak sepakat menjadikan Wela-Wela sebagai tema utama kegiatan penyambutan Ramadan tahun ini.
Dalam proses persiapan, panitia menghadapi berbagai tantangan, mulai dari keterbatasan anggaran hingga minimnya sarana dan prasarana. Namun melalui koordinasi intensif dan dukungan berbagai pihak, kegiatan akhirnya dapat terlaksana. Dukungan datang dari Rektor UNIPAS, Pemerintah Kabupaten Pulau Morotai, Perum Bulog, Kementerian Agama, Dinas Pariwisata, DPRD, TNI-Polri, hingga berbagai elemen masyarakat.
Festival diawali dengan pawai obor dan kegiatan pasar murah oleh Bulog. Puncak acara diisi dengan penampilan tarian daerah, pembacaan puisi, pemutaran film dokumenter karya mahasiswa, kasidah dan selawat, serta prosesi foto bersama dengan memegang tali seperti dalam dokumentasi tahun 1917. Mahasiswa dan tamu undangan juga mengenakan busana adat.
Antusiasme masyarakat terlihat tinggi. Anak-anak, pemuda, hingga tokoh adat dan agama turut hadir dan mengikuti kegiatan hingga selesai. Meski sebagian warga mengaku tidak lagi mengetahui secara rinci sejarah Wela-Wela, beberapa orang tua membenarkan bahwa tradisi tersebut pernah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat di masa lampau.
Panitia berharap pemerintah desa dan daerah bersama tokoh adat dapat segera melakukan kajian dan menetapkan Wela-Wela sebagai warisan budaya lokal agar pelestariannya berkelanjutan. Festival ini juga diharapkan dapat masuk dalam agenda Festival Morotai 2026 dan menjadi kegiatan tahunan di Desa Bobula dan Wayabula.
Ketua LPPM UNIPAS Morotai, Sukarmin Idrus, mengapresiasi langkah mahasiswa yang dinilai berhasil menggali kembali potensi kearifan lokal yang telah lama hilang sekaligus memperkuat identitas budaya daerah.
Sementara itu, Rektor UNIPAS Morotai, Irfan Hi Abd Rahman, menyebut kebangkitan Wela-Wela bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan upaya memulihkan ingatan kolektif masyarakat.
“Wela-wela bukan hanya permainan tradisional, tetapi jejak peradaban lokal yang pernah hidup dan menjadi bagian dari ritme sosial masyarakat dalam menyambut Ramadan. Tradisi seperti ini harus dikaji secara akademik dan diperkuat sebagai identitas budaya daerah,” tegasnya.
UNIPAS, lanjutnya, siap berkolaborasi dengan pemerintah daerah dan masyarakat untuk melakukan penelitian, pendokumentasian, serta penguatan regulasi agar Wela-Wela dan kearifan lokal Morotai tetap lestari dan menjadi kebanggaan generasi mendatang.








Komentar