1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Perjuangan Ibu Hamil di Halmahera Selatan, Terjebak Banjir Saat Dirujuk ke Puskesmas

Oleh ,

Wahyuni Hi. Latif, seorang ibu hamil asal Desa Wayatim, Kecamatan Baca Timur Tengah, Halmahera Selatan, sempat tertahan berjam-jam saat perjalanan menuju Puskesmas Bibinoi karena harus menyeberangi sungai yang meluap akibat banjir.

Risnawati Sangaji, bidan Polindes Wayatim, menjelaskan bahwa pasien awalnya dirujuk dari Polindes menggunakan long boat sekitar pukul 04.30 WIT. Namun perjalanan terganggu karena cuaca laut yang buruk dan gelombang tinggi. Rombongan akhirnya singgah di Desa Tomara untuk mencari mobil dan melanjutkan perjalanan melalui jalur darat.

"Pasien kami bawa dari Desa Wayatim menggunakan long boat, tapi karena kondisi laut tidak memungkinkan, kami putuskan singgah di Desa Tomara untuk mencari mobil agar bisa melanjutkan perjalanan," ujar Wati.

Sekitar pukul 07.00 WIT, rombongan tiba di tepi Sungai Rahim, namun harus menunggu setengah jam karena kondisi pasien semakin kritis menjelang persalinan. Wati kemudian berjalan kaki menembus banjir di Sungai Raim dan Sungai Bibinoi sejauh kurang lebih 3 kilometer untuk mencari bantuan di Desa Bibinoi.

"Saya tinggalkan pasien di mobil bersama suami dan sopir, lalu mencari bantuan agar pertolongan pertama bisa segera dilakukan di Puskesmas. Alhamdulillah, di Bibinoi saya bertemu warga yang memiliki jonder yang dirakit lebih tinggi untuk menyeberangi sungai," jelasnya.

Dengan bantuan warga, pasien akhirnya berhasil disebrangkan melalui Sungai Raim dan Sungai Bibinoi, dan tiba di Puskesmas Bibinoi pukul 09.00 WIT.

Wati menambahkan, pasien dirujuk ke Puskesmas karena air ketubannya sudah pecah. Namun karena perjalanan sulit, bayi yang lahir mengalami asfiksia neonatorum sehingga harus segera dilarikan ke Rumah Sakit Labuha untuk perawatan medis lebih lanjut. Sementara ibu bayi masih dirawat di Puskesmas Bibinoi akibat pendarahan.

Menurut Wati, kejadian tertahannya pasien saat menyeberangi sungai ini bukan yang pertama kali terjadi. Bahkan, beberapa pasien sebelumnya kehilangan bayinya karena terlambat mendapatkan pertolongan.

"Ini sudah sering terjadi, dan bukan hanya dialami masyarakat Desa Wayatim, tapi juga Desa Tomara, Tutupa, dan Tabapoma. Paling tidak jembatan di sungai-sungai ini harus dibangun agar akses masyarakat, terutama untuk pasien darurat, tidak terkendala," harap Wati.

Berita Lainnya