Pemerintah
Potensi Besar Terbuka, Gubernur Sherly Ajak Investor Garap Perikanan hingga Kelapa Maluku Utara
Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, mengajak para pengusaha, investor, dan saudagar untuk memanfaatkan peluang investasi di daerahnya, terutama pada sektor perikanan hingga perkebunan kelapa.
Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri Pertemuan Saudagar Bugis Makassar (PSBM) ke-26 yang digelar di Makassar, sebagai bagian dari upaya mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Dalam forum tersebut, Sherly menegaskan bahwa Maluku Utara memiliki potensi sumber daya alam yang besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal.
Menurutnya, pertumbuhan ekonomi di kawasan timur Indonesia, termasuk Maluku Utara, masih menghadapi sejumlah tantangan, seperti kualitas sumber daya manusia (SDM), keterbatasan infrastruktur, serta tingginya ketergantungan terhadap pasokan dari luar daerah.
“Sekitar 80 persen kebutuhan daerah masih dipasok dari luar, terutama dari Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Ini menjadi tantangan sekaligus peluang bagi investor,” ujarnya.
Di sektor perikanan, komoditas unggulan seperti ikan tuna dinilai memiliki potensi besar. Namun, tingkat pemanfaatannya saat ini baru mencapai sekitar 20 persen.
Hal ini disebabkan oleh keterbatasan armada penangkapan, minimnya fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), serta belum berkembangnya industri pengolahan hasil perikanan.
Selain itu, sektor perkebunan kelapa juga dinilai sangat menjanjikan. Saat ini, terdapat dua pabrik pengolahan kelapa yang telah mengekspor produk turunan seperti kopra ke China, dengan volume mencapai sekitar 300 kontainer per bulan.
Pemerintah daerah menargetkan volume ekspor tersebut meningkat hingga 1.000 kontainer per bulan pada 2027, seiring rencana beroperasinya pabrik pengolahan kelapa ketiga.
“Kami ingin memastikan pasokan bahan baku tetap stabil agar industri pengolahan terus berkembang dan ekspor meningkat,” kata Sherly.
Tak hanya perikanan dan kelapa, Sherly juga menyoroti peluang besar di sektor peternakan, khususnya ayam dan telur. Tingginya harga di pasar lokal akibat biaya logistik menunjukkan bahwa kebutuhan masih sangat bergantung pada pasokan dari luar daerah.
“Ini peluang besar bagi investor untuk masuk dan mengembangkan usaha di Maluku Utara,” ujarnya.
Sherly menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk membangun citra baru Maluku Utara sebagai pintu gerbang ekonomi baru di kawasan timur Indonesia.
Ia berharap, ke depan Maluku Utara tidak lagi dipandang sebagai daerah tertinggal, melainkan sebagai wilayah dengan potensi investasi yang menjanjikan.









Komentar