Parlemen

Apresiasi Gubernur Sherly, Yusran: Maluku Utara Punya Peluang Jadi Kekuatan Ekonomi Baru

Yusran Pauwah, anggota DPRD Maluku Utara. Foto: Ist

Ketua Fraksi Partai Hanura DPRD Provinsi Maluku Utara, Yusran Pauwah, mengapresiasi langkah Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, dalam mendorong daerah tersebut menjadi kekuatan ekonomi baru di kawasan Indonesia Timur.

Yusran menilai, kebijakan yang berfokus pada penguatan sektor peternakan, perikanan, dan perkebunan kelapa merupakan strategi yang tepat untuk meningkatkan kemandirian ekonomi daerah, sekaligus menarik minat investasi.

Menurutnya, pernyataan Gubernur Sherly terkait masih tingginya ketergantungan pasokan dari luar daerah menjadi sinyal kuat bahwa Maluku Utara memiliki peluang besar untuk berkembang.

“Ini peluang besar bagi investor untuk masuk, khususnya di sektor produksi pangan dan industri pengolahan,” ujar Yusran.

Di sektor peternakan, kebutuhan daging ayam di Maluku Utara diperkirakan mencapai 25.000 ton per tahun. Dengan harga rata-rata Rp40.000 per kilogram, nilai perputaran ekonomi komoditas ini mendekati Rp1 triliun per tahun.

Tingginya biaya logistik bahkan mendorong harga ayam hingga Rp50.000 per kilogram. Selain itu, kebutuhan telur juga memiliki potensi ekonomi sekitar Rp800 miliar per tahun.

Sementara di sektor perikanan, Maluku Utara dikenal sebagai salah satu jalur potensial tuna. Namun, pemanfaatannya baru sekitar 20 persen akibat keterbatasan armada penangkapan, fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), serta industri pengolahan.

Kondisi ini, menurut Yusran, harus segera diatasi agar nilai tambah tidak terus dinikmati oleh daerah lain.

Olehnya itu, ia mendukung penuh langkah pemerintah daerah dalam mendorong pembangunan cold storage dan industri pengolahan hasil laut.

“Jika rantai nilai bisa dibangun di dalam daerah, maka dampaknya akan langsung terasa pada peningkatan ekonomi masyarakat, sekaligus membuka lapangan kerja,” katanya.

Di sektor perkebunan, komoditas kelapa juga menjadi andalan ekspor Maluku Utara. Saat ini, terdapat dua pabrik pengolahan kelapa yang mengekspor produk turunan seperti kopra ke China sekitar 300 kontainer per bulan.

Pemerintah menargetkan volume ekspor meningkat hingga 1.000 kontainer per bulan, seiring rencana beroperasinya pabrik ketiga pada 2027.

Sebelumnya, Gubernur Sherly menegaskan bahwa penguatan sektor produksi, industri pengolahan, serta konektivitas logistik menjadi kunci percepatan transformasi ekonomi daerah.

“Maluku Utara bukan lagi daerah pinggiran, tetapi pintu gerbang ekonomi baru Indonesia Timur,” tegas Sherly.

Yusran pun optimistis, dengan sinergi antara pemerintah daerah dan investor, Maluku Utara dapat berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru yang berdaya saing di kawasan timur Indonesia.

Penulis: Amco
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga