Mandi Lumpur di Hutan Mangrove Morotai, Warga Berburu Kerang Bakau yang Melimpah

Aktivitas warga Desa Wayabula hingga Desa Bobula menelusuri akar-akar mangrove dengan alat sederhana, seperti parang dan cangkul kecil, untuk mencari kerang bakau. Foto: Ris

Pagi itu, lumpur basah di hutan mangrove Morotai tampak ramai. Warga dari Desa Wayabula hingga Desa Bobula menelusuri akar-akar mangrove dengan alat sederhana, seperti parang dan cangkul kecil, untuk mencari kerang bakau (Polymesoda bengalensis). Aktivitas ini sudah menjadi tradisi turun-temurun, terutama saat hari libur.

Ami, warga Wayabula, menjelaskan bahwa hutan mangrove bukan hanya tempat berlindung bagi tumbuhan dan ikan, tetapi juga sumber pangan melimpah.

“Kami sering mencari kerang bakau karena di sekitar kebun yang dekat mangrove, banyak kerang, kepiting, dan udang masuk di sela akar. Tinggal siapa yang mau ‘mandi lumpur’ saja,” ujarnya sambil tersenyum.

Suaeb, warga lainnya, tengah menurunkan kerang hasil tangkapannya ke karung. Ia mampu mengumpulkan hingga setengah karung saat air laut surut. Menurutnya, kerang-kerang ini mudah muncul di permukaan lumpur maupun di sela akar mangrove.

“Kami hanya cari untuk konsumsi sendiri. Mau dijual juga belum ada pembeli. Padahal dari Wayabula sampai Waringin, kerang bakau sangat melimpah. Kalau ada yang beli, tentu bisa bantu ekonomi warga,” ungkapnya.

Selain warga Wayabula dan Bobula, masyarakat dari Desa Raja juga memanfaatkan hutan mangrove, terutama pada musim tertentu ketika kerang dan kepiting melimpah. Setiap hari libur, kawasan ini ramai, dengan warga membawa peralatan seadanya, mencungkil lumpur, dan menyusuri akar hingga bibir pantai. Hampir semua pulang membawa hasil.

Ukuran kerang bervariasi, dari sekecil genggaman tangan hingga yang besar bisa dua kali genggaman. Warga berharap potensi hutan mangrove ini tidak hanya menjadi sumber pangan, tetapi juga memiliki nilai ekonomi jika ada pasar yang menampung hasil tangkapan.

“Kalau ada pembeli yang menampung hasil tangkapan, pasti sangat membantu. Selama ini kami hanya konsumsi sendiri karena belum ada yang menampung,” tutup Suaeb.

Hutan mangrove Morotai, dengan lumpur dan akarnya yang rimbun, menyimpan harta tersembunyi. Kerang bakau yang melimpah bukan hanya sumber pangan, tetapi juga potensi ekonomi yang menunggu untuk disentuh pasar.

Penulis: Ris
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga