Pemerintah
Turun ke Sibenpopo–Banemo, Gubernur Minta Maaf dan Ajak Warga Rajut Fagogoru
Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, turun langsung ke Desa Sibenpopo dan Banemo, Kecamatan Patani Barat, Kabupaten Halmahera Tengah, untuk melihat kondisi masyarakat pascakonflik sekaligus memastikan kehadiran negara benar-benar dirasakan warga.
Kunjungan itu berlangsung dalam suasana yang masih menyisakan duka setelah sempat terjadi ketegangan. Di hadapan warga, Sherly memilih mendengar—menyerap cerita, kegelisahan, hingga luka yang belum sepenuhnya pulih akibat peristiwa yang terjadi.
“Saya datang untuk melihat langsung kondisi pascakonflik dan memastikan bahwa negara hadir di tengah masyarakatnya. Saya mendengar langsung cerita, kegelisahan, dan luka yang dirasakan warga,” ujarnya.
Ia menegaskan, konflik yang terjadi bukanlah sesuatu yang diharapkan oleh siapa pun. Namun, kejadian itu menjadi pengingat bahwa kesalahpahaman sekecil apa pun dapat berujung pada perpecahan jika tidak disikapi dengan bijak.
Dalam kesempatan tersebut, Sherly bersama Wakil Gubernur Sarbin Sehe, unsur Forkopimda Maluku Utara dan Halmahera Tengah juga menyampaikan belasungkawa mendalam atas meninggalnya almarhum Ali Daud.
“Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan,” ucapnya.
Di tengah upaya pemulihan, Sherly turut mengapresiasi kesadaran masyarakat yang mulai tumbuh untuk menahan diri dan tidak memperkeruh situasi. Menurutnya, kesadaran kolektif menjadi kunci utama untuk mencegah konflik serupa terulang.
Namun, di balik itu, Sherly juga menyampaikan hal yang jarang disampaikan secara terbuka oleh pejabat publik—permohonan maaf.
“Atas nama pemerintah dan aparat keamanan—saya, Wakil Gubernur, Kapolda, Kajati, Danrem, Kabinda, dan Danlanal Halteng—kami menyampaikan permohonan maaf. Masih ada kekurangan dalam kehadiran kami. Masih ada ruang yang belum sepenuhnya terjaga,” tegasnya.
Pernyataan tersebut menjadi pengakuan bahwa negara belum sepenuhnya optimal dalam menjamin rasa aman dan keadilan bagi masyarakat. Karena itu, ia menegaskan komitmen pemerintah untuk segera membenahi situasi dan memastikan perlindungan bagi seluruh warga tanpa terkecuali.
“Kami menyadari sepenuhnya, menghadirkan keadilan dan rasa aman adalah tanggung jawab utama yang harus segera dan sungguh-sungguh ditunaikan,” lanjutnya.
Lebih jauh, Sherly mengajak seluruh elemen masyarakat untuk kembali menghidupkan nilai-nilai kearifan lokal Maluku Utara, yakni Fagogoru—semangat persaudaraan yang selama ini menjadi perekat kehidupan sosial.
“Kami datang dengan satu niat: merawat kembali kebersamaan. Mari kita rajut kembali Fagogoru yang sempat koyak. Kita lawan kebencian dengan kasih, kita redam amarah dengan kebersamaan,” ajaknya.
Ia menegaskan, kekuatan Maluku Utara terletak pada persatuan warganya. Karena itu, pilihan untuk tetap bersatu di tengah perbedaan menjadi kunci menjaga daerah ini tetap kokoh.
“Maluku Utara harus tetap kuat karena kita memilih untuk tetap bersatu,” tutup Sherly.