1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Film

Segera Tayang, Dokumenter Rimo-Rimo Rekam Dapur Tradisional dan Identitas Masyarakat Ternate

Oleh ,

Kekayaan kuliner tradisional Maluku Utara kembali mendapat ruang di layar dokumenter. Melalui film Rimo-Rimo, jurnalis asal Maluku Utara, Rajif Duchlun, bersama tim produksi Bualawa Pictures Visual berupaya merekam sekaligus memperkenalkan nilai budaya yang tersimpan di balik salah satu kuliner khas Ternate.

Film dokumenter tersebut merupakan bagian dari Program Fasilitas Pemajuan Kebudayaan (FPK) 2026 yang diselenggarakan Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah XXI Maluku Utara. Rajif menjadi salah satu penerima manfaat program yang bertujuan mendorong lahirnya karya-karya dokumentasi budaya dalam bentuk audiovisual.

Dokumenter Rimo-Rimo dijadwalkan mulai diputar pada akhir Juli 2026.

Berbeda dengan tayangan kuliner pada umumnya, film ini tidak hanya menampilkan proses memasak, tetapi juga mengangkat cerita tentang dapur tradisional, warisan rempah, serta kehidupan masyarakat yang terus menjaga tradisi di tengah perubahan zaman.

Rimo-Rimo sendiri merupakan salah satu gastronomi khas Maluku Utara yang memiliki teknik pengolahan unik. Proses memasaknya dilakukan secara tradisional sehingga menghasilkan cita rasa yang khas, sekaligus merefleksikan kekayaan rempah-rempah yang sejak lama menjadi identitas kuliner kawasan timur Indonesia.

Bagi Rajif, Rimo-Rimo bukan sekadar makanan yang disajikan di atas meja makan. Di balik setiap proses pembuatannya tersimpan cerita panjang tentang keluarga, kebersamaan, hingga identitas masyarakat Ternate.

"Di Maluku Utara, khususnya di Ternate, kuliner tradisional hadir sebagai bagian dari ingatan kolektif yang diwariskan dari generasi ke generasi," ujar Rajif.

Ia menjelaskan, Rimo-Rimo merepresentasikan kehidupan masyarakat pesisir dan agraris yang tumbuh bersama tradisi memasak dan makan bersama. Dapur tradisional menjadi ruang penting tempat nilai-nilai budaya diwariskan, mulai dari cara mengolah bahan, meracik bumbu, hingga membangun kebersamaan dalam keluarga.

"Dalam setiap proses pembuatannya, Rimo-Rimo menyimpan narasi tentang kehidupan masyarakat pesisir dan agraris, tradisi keluarga, hingga cara masyarakat menjaga identitasnya di tengah arus modernisasi," katanya.

Melalui dokumenter tersebut, Rajif berharap masyarakat tidak hanya mengenal Rimo-Rimo sebagai kuliner khas, tetapi juga memahami nilai sejarah, filosofi, dan identitas budaya yang melekat di dalamnya.

Menurutnya, film dokumenter menjadi medium yang efektif untuk merekam sekaligus memperkenalkan warisan budaya kepada generasi muda maupun masyarakat luas.

"Film dokumenter menjadi salah satu media yang paling efektif untuk merekam, mendokumentasikan, dan menyebarkan nilai-nilai budaya tersebut. Melalui film dokumenter, Rimo-Rimo tidak hanya ditampilkan sebagai makanan, tetapi sebagai bagian dari identitas masyarakat Ternate yang hidup, berkembang, dan terus diwariskan," tutupnya.

Dokumenter ini diharapkan menjadi salah satu upaya pelestarian budaya yang mampu memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga warisan kuliner tradisional Maluku Utara, sekaligus memperkenalkannya kepada khalayak yang lebih luas melalui medium film.

Berita Lainnya