Kadikbud Abubakar: Lingkungan Sekolah Nyaman Penentu Kualitas Pembelajaran
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Kadikbud) Provinsi Maluku Utara, Abubakar Abdullah, menegaskan bahwa lingkungan sekolah yang bersih, aman, dan nyaman merupakan salah satu faktor utama dalam meningkatkan kualitas pembelajaran.
Untuk itu, pembenahan fasilitas pendidikan menjadi prioritas Pemerintah Provinsi Maluku Utara di bawah kepemimpinan Gubernur Sherly Tjoanda Laos dan Wakil Gubernur Sarbin Sehe.
Menurut Abubakar, keberhasilan proses belajar mengajar tidak hanya ditentukan oleh kualitas guru maupun kurikulum, tetapi juga dipengaruhi kondisi fisik sekolah yang mampu memberikan rasa nyaman kepada peserta didik.
"Hal-hal yang selama ini dianggap sederhana, seperti toilet yang tidak layak, pencahayaan kurang, atau ventilasi yang buruk, harus menjadi perhatian karena berkaitan langsung dengan kenyamanan dan psikologis peserta didik," kata Abubakar, Jumat, 7 Agustus 2026.
Untuk memastikan pembenahan dilakukan berdasarkan kondisi nyata di lapangan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Maluku Utara telah melakukan berbagai langkah, mulai dari sosialisasi, penerbitan surat edaran, hingga menyediakan sistem aduan digital yang telah disebarluaskan ke sekolah-sekolah sekitar dua pekan terakhir.
Melalui sistem tersebut, siswa dan warga sekolah diberi ruang untuk melaporkan berbagai persoalan fasilitas, seperti kebersihan ruang kelas, kondisi toilet, pencahayaan, ventilasi udara, hingga sarana penunjang lainnya yang dinilai mengganggu kenyamanan belajar.
Abubakar menjelaskan, seluruh laporan yang masuk akan diverifikasi sebagai dasar pemetaan kebutuhan dan penentuan bentuk intervensi pemerintah.
"Dengan adanya sistem aduan ini, kita mendapatkan input langsung dari siswa dan warga sekolah. Data tersebut akan menjadi bahan untuk melakukan konfirmasi, pemetaan kebutuhan, sekaligus menentukan bentuk intervensi yang harus dilakukan," ujarnya.
Sekolah Diminta Proaktif
Selain membuka ruang pengaduan, Dikbud Maluku Utara juga meminta seluruh kepala sekolah agar tidak menunggu intervensi pemerintah untuk menangani kerusakan ringan.
Sebanyak 409 SMA, SMK, dan SLB di seluruh kabupaten/kota didorong mengoptimalkan dana Bantuan Operasional Satuan Pendidikan (BOSP) maupun BOS Daerah (BOSDA) melalui program sekolah gratis untuk melakukan pemeliharaan rutin.
Kerusakan sederhana seperti lampu yang mati, kipas angin rusak, maupun fasilitas pendukung lainnya diharapkan dapat segera ditangani oleh sekolah sehingga tidak berkembang menjadi kerusakan yang lebih besar.
"Kalau kerusakannya sederhana dan bisa ditangani sekolah, jangan menunggu. Kepala sekolah harus mengambil langkah sesuai ketentuan dan mengoptimalkan anggaran yang tersedia," tegas Abubakar.
Sementara itu, untuk kerusakan sedang hingga berat, pihak sekolah diminta memastikan seluruh kondisi sarana dan prasarana tercatat secara akurat dalam Data Pokok Pendidikan (Dapodik). Data tersebut menjadi dasar pemerintah dalam menentukan prioritas revitalisasi sekolah dan penyusunan anggaran pada tahun berikutnya.
Dikbud Maluku Utara juga menegaskan akan memberikan sanksi sesuai ketentuan kepada sekolah maupun kepala sekolah yang mengabaikan tanggung jawab terhadap kondisi lingkungan sekolah.
Dorong Budaya Menabung
Pada kesempatan yang sama, Abubakar juga menyampaikan bahwa Pemprov Maluku Utara meluncurkan gerakan Satu Pelajar Satu Rekening sebagai bagian dari penguatan literasi dan inklusi keuangan di kalangan pelajar.
Program yang disinergikan bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) itu bertujuan membangun budaya menabung sejak dini sekaligus membiasakan siswa mengenal layanan keuangan formal.
"Anak-anak kita perlu diperkenalkan dengan budaya menabung dan bagaimana mengelola keuangan sejak dini. Ini bukan hanya soal memiliki rekening, tetapi bagaimana membangun kebiasaan dan karakter agar mereka lebih bijak dalam menggunakan uang," tutur Abubakar.
Ia berharap, melalui pembenahan lingkungan sekolah dan penguatan literasi keuangan, kualitas pendidikan di Maluku Utara terus meningkat, sekaligus melahirkan generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki karakter disiplin, mandiri, dan siap menghadapi perkembangan ekonomi digital.