1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Menguak Kisah Merah Putih 1946 di Mareku Tidore, Bakti BUMN Turut Bergerak

Oleh ,

Kisah perjuangan Merah Putih di Kelurahan Mareku, Kota Tidore Kepulauan, kembali diangkat dalam upacara bendera yang digelar Selasa, 18 Agustus 2026.

Upacara tersebut menjadi momentum untuk mengenang kembali sejarah masyarakat Mareku, terutama peristiwa pengibaran dan penjahitan bendera Merah Putih pada 18 Agustus 1946, setahun setelah Indonesia memproklamasikan kemerdekaan.

Kisah tersebut dikaitkan dengan dua tokoh lokal, Abdulla Kader dan Aminah Sabtu. Keduanya dikenal dalam cerita perjuangan masyarakat Mareku sebagai sosok yang berperan dalam pengibaran dan penjahitan bendera Merah Putih pada masa awal kemerdekaan di wilayah Indonesia bagian Timur.

Sejarah lokal itu kembali diperkenalkan kepada generasi muda melalui kegiatan yang melibatkan pemuda Kelurahan Mareku. Kegiatan tersebut mendapat dukungan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui program Bakti BUMN.

Wakil Kepala Badan Pengaturan BUMN, Tedi Bharata, mengatakan Mareku merupakan salah satu dari 11 titik pelaksanaan program Bakti BUMN di Indonesia.

“Ini adalah program Bakti BUMN. Ada 11 titik lokasi tempat relawan turun, salah satunya di Kota Tidore Kepulauan, tepatnya di Mareku,” ujar Tedi.

Menurutnya, kehadiran BUMN di Mareku tidak hanya berkaitan dengan pemberian manfaat langsung kepada masyarakat. Program tersebut juga menjadi bagian dari upaya menjaga nilai-nilai sejarah dan perjuangan bangsa.

“Selain memberikan manfaat secara langsung kepada masyarakat, kegiatan ini juga menjadi bagian dari upaya untuk terus menghidupkan nilai-nilai perjuangan dan sejarah bangsa, terutama kepada generasi muda,” katanya.

Tedi menilai keterlibatan generasi muda menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sejarah lokal. Menurutnya, cerita perjuangan yang tumbuh di daerah harus terus diperkenalkan agar tidak hilang seiring perkembangan zaman.

Upacara bendera tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengenalkan kembali sosok Abdulla Kader dan Aminah Sabtu kepada pemuda Mareku.

Kedua nama itu memiliki tempat dalam sejarah perjuangan masyarakat Mareku dan Tidore, terutama dalam kisah perjalanan Merah Putih di wilayah Indonesia bagian Timur.

Bagi masyarakat Mareku, peristiwa 18 Agustus 1946 menjadi bagian dari ingatan sejarah yang menggambarkan bagaimana semangat kemerdekaan tetap hidup setelah Proklamasi 17 Agustus 1945.

Momentum tersebut juga menunjukkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia tidak hanya lahir dari tokoh-tokoh yang dikenal secara nasional. Di berbagai daerah, terdapat masyarakat dan tokoh lokal yang ikut menjaga semangat perjuangan serta Merah Putih.

Keterlibatan BUMN melalui program Bakti BUMN kemudian mempertemukan nilai sejarah dengan peran generasi muda. Masyarakat dan pemuda Mareku tidak hanya menjadi bagian dari kegiatan seremonial, tetapi juga memiliki ruang untuk mengenal kembali sejarah daerahnya.

Kolaborasi tersebut diharapkan dapat memperkuat semangat gotong royong sekaligus menumbuhkan kepedulian generasi muda terhadap sejarah lokal.

Dengan kembali diangkatnya kisah Merah Putih 1946, Mareku tidak sekadar menjadi lokasi pelaksanaan upacara. Lebih dari itu, Mareku menjadi ruang untuk mengingat bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia juga memiliki cerita panjang di daerah-daerah, termasuk di Tidore Kepulauan.

Melalui Bakti BUMN dan keterlibatan pemuda, kisah perjuangan Abdulla Kader dan Aminah Sabtu diharapkan terus dikenang dan menjadi bagian dari pembelajaran sejarah bagi generasi berikutnya.

Berita Lainnya