Produk Olahan Rempah Buku Manyeku dan Kaha Rampa Curi Perhatian di Rakernas JKPI
Produk olahan berbasis rempah dan potensi lokal Ternate mencuri perhatian pengunjung dalam pelaksanaan Rakernas XII Jaringan Kota Pusaka Indonesia (JKPI) di Kota Ternate.
Perhatian tersebut salah satunya tertuju pada stand KTH Buku Manyeku dan Kaha Rampa yang menampilkan berbagai produk olahan masyarakat. Kehadiran stand ini menjadi ruang promosi sekaligus memperlihatkan potensi hilirisasi rempah dan hasil alam lokal menjadi produk bernilai tambah.
KTH Buku Manyeku menampilkan sejumlah produk unggulan, di antaranya minyak cengkih dan kerupuk nanas. Sementara Kaha Rampa menghadirkan produk olahan bernuansa rempah, seperti Toja atau lilin beraroma rempah dan Gasi Mahodo atau garam mandi.
Produk-produk tersebut menarik perhatian pengunjung yang datang untuk melihat langsung berbagai hasil olahan yang dipamerkan selama Rakernas JKPI.
Sejumlah tokoh juga menyempatkan diri mengunjungi stand tersebut. Di antaranya Direktur Pengembangan Usaha Perhutanan Sosial, Direktorat Perhutanan Sosial, Kementerian Kehutanan RI, pakar pariwisata Prof. Dr. Bill Carter, Ph.D., serta seniman asal Yogyakarta, Hangno Hartono.
Bagi KTH Buku Manyeku dan Kaha Rampa, kunjungan tersebut menjadi kebanggaan sekaligus motivasi untuk terus mengembangkan produk lokal agar mampu menjangkau pasar yang lebih luas.
Sekretaris KTH Buku Manyeku, Fiko, menyampaikan apresiasi kepada para pengunjung yang telah menyempatkan diri datang dan melihat produk yang mereka tampilkan.
“Kami mengucapkan terima kasih kepada para pengunjung yang sudah berkunjung ke stand kami. Kehadiran mereka menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan dan memperkenalkan produk-produk lokal,” ujar Fiko.
Ia berharap perhatian terhadap produk lokal juga mendapat dukungan dari Pemerintah Kota Ternate. Fiko berharap Wali Kota Ternate dapat menyempatkan diri mengunjungi stand Buku Manyeku dan Kaha Rampa selama momentum Rakernas XII JKPI.
Menurutnya, produk yang ditampilkan merupakan bagian dari upaya mendorong hilirisasi potensi lokal yang sejalan dengan identitas Ternate sebagai Kota Rempah.
“Kami berharap dari Pemerintah Kota Ternate, dalam hal ini Wali Kota, bisa berkunjung ke stand kami. Karena kalau kita berbicara Kota Rempah, hilirisasi itu ada pada produk kami,” tegasnya.
Fiko menilai pengembangan produk berbasis rempah tidak hanya penting untuk mempertahankan identitas dan warisan daerah, tetapi juga dapat meningkatkan nilai ekonomi hasil produksi masyarakat.
Melalui pengolahan bahan lokal menjadi produk siap digunakan, potensi rempah diharapkan tidak berhenti sebagai komoditas mentah. Sebaliknya, produk tersebut dapat memiliki nilai tambah sekaligus membuka peluang usaha dan pemasaran bagi masyarakat.
Keikutsertaan Buku Manyeku dan Kaha Rampa dalam Rakernas XII JKPI juga menjadi kesempatan untuk memperkenalkan produk lokal Ternate kepada peserta dari berbagai daerah.
Momentum tersebut diharapkan dapat membuka peluang kolaborasi, promosi, hingga pemasaran yang lebih luas.
Dengan dukungan pemerintah, masyarakat, dan pelaku usaha, produk berbasis rempah dan potensi lokal Ternate diharapkan mampu berkembang serta memiliki daya saing lebih luas.
Di tengah penguatan identitas Ternate sebagai Kota Rempah, produk-produk yang ditampilkan Buku Manyeku dan Kaha Rampa menjadi salah satu contoh bahwa kekayaan rempah tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi kekuatan ekonomi masyarakat.