Pemerintah
Maluku Utara Bidik Investor China Bangun Lumbung Pangan Modern
Pemerintah Provinsi Maluku Utara membidik investasi China untuk membangun Lumbung Pangan Modern Terpadu yang mengintegrasikan sektor pertanian, peternakan dan perikanan.
Penjajakan investasi tersebut dibahas dalam Meeting Investasi Pembangunan dan Pengembangan Lumbung Pangan Terpadu di Provinsi Maluku Utara yang berlangsung di Jakarta, Senin, 31 Agustus 2026.
Wakil Gubernur Maluku Utara, Sarbin Sehe, saat membacakan sambutan Gubernur Sherly Laos, mengatakan Pemprov Malut membuka peluang kerja sama dengan investor untuk memperkuat kemandirian pangan daerah.
Menurut Gubernur, sekitar 85 persen kebutuhan pangan Maluku Utara masih didatangkan dari luar daerah. Kondisi ini membuat harga pangan sangat dipengaruhi produksi, distribusi, transportasi, hingga harga dari daerah pemasok.
Ketergantungan tersebut juga menjadi salah satu faktor yang memengaruhi dinamika inflasi di Maluku Utara.
Karena itu, pemerintah mendorong transformasi Maluku Utara dari daerah yang bergantung pada pasokan pangan luar menjadi daerah produsen sekaligus bagian dari rantai pasok pangan nasional.
“Maluku Utara harus bertransformasi dari pasar menjadi produsen pangan sekaligus bagian dari rantai pasok pangan nasional,” demikian pesan Gubernur yang disampaikan Wagub Sarbin.
Konsep Lumbung Pangan Modern Terpadu yang ditawarkan tidak hanya berupa fasilitas penyimpanan. Pemerintah merancangnya sebagai ekosistem pangan dari hulu hingga hilir, mulai dari produksi, pengolahan, penyimpanan, distribusi hingga pemasaran.
Tiga sektor utama yang menjadi fondasi pengembangan kawasan tersebut adalah pertanian, peternakan dan perikanan.
Khusus sektor pertanian, daratan Halmahera dinilai memiliki potensi besar karena masih tersedia lahan terbuka yang dapat dikembangkan menjadi kawasan produksi pangan dalam skala besar, terintegrasi dan modern.
Pengembangan kawasan akan didukung mekanisasi, digitalisasi, bioteknologi, rekayasa genetika serta teknologi pascapanen. Pemanfaatan teknologi tersebut diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan efisiensi produksi.
Penjajakan ini sekaligus membuka peluang kolaborasi investasi Indonesia-China melalui jejaring KADIN. Pemprov Malut menginginkan investasi yang tidak hanya membawa modal, tetapi juga transfer teknologi dan pengembangan industri pangan.
Selain itu, kerja sama diharapkan mampu meningkatkan kapasitas sumber daya manusia, memperkuat rantai pasok serta membuka akses pasar, baik nasional maupun internasional.
Pertemuan tersebut dihadiri sejumlah pemangku kepentingan, di antaranya Bupati Halmahera Tengah Ikram M. Sangadji, Wakil Bupati Ahmad Djumadil, Ketua Umum Indonesia-China Economic Cooperation Center Agung Laksono, jajaran Kementerian Kelautan dan Perikanan, KADIN, serta perwakilan China National Building Material Group Co., Ltd. (CNBM).
Dalam agenda itu, perwakilan CNBM memaparkan kemampuan investasi dan teknologi yang berpotensi diterapkan dalam pengembangan lumbung pangan di Maluku Utara. Pemaparan kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan tanya jawab.
Gubernur Sherly menegaskan investasi sektor pangan harus memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Petani, peternak, nelayan dan pembudidaya harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam rantai ekonomi tersebut.
Mereka juga harus mendapatkan akses terhadap teknologi, pembiayaan, sarana produksi, rantai dingin hingga pasar.
“Masyarakat tidak boleh hanya menjadi penonton investasi, tetapi harus menjadi pelaku dan penerima manfaat utama pembangunan,” tegasnya.
Pemprov Malut berharap penjajakan investasi dengan mitra China tersebut dapat berlanjut menjadi kerja sama konkret. Pembangunan lumbung pangan modern diharapkan mampu mengurangi ketergantungan pasokan dari luar daerah, meningkatkan nilai tambah ekonomi masyarakat, serta memperkuat stabilitas harga dan ketahanan pangan Maluku Utara.