1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Sinergi BI-PKK Ternate Perkuat Literasi Rupiah dan Pencegahan Stunting

Oleh ,

Bank Indonesia (BI) Perwakilan Maluku Utara bersama Tim Penggerak PKK Kota Ternate memperkuat edukasi literasi Rupiah sekaligus pencegahan stunting melalui kegiatan Cinta, Bangga, Paham (CBP) Rupiah di Kecamatan Pulau Hiri, Selasa, 8 September 2026.

Kegiatan tersebut menyasar kader Posyandu dan masyarakat, khususnya mama-mama di Pulau Hiri, sebagai bagian dari upaya memperluas pemahaman masyarakat mengenai Rupiah sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan dan pemenuhan gizi anak.

Edukasi ini merupakan hasil sinergi Persatuan Istri Pegawai Bank Indonesia (PIPBI), TP-PKK Kota Ternate, kader Posyandu, dan Komunitas GAMALAMA (Gerakan Mama-Mama Peduli dan Cinta Rupiah).

Mengangkat tema “Peran Kader & Masyarakat Dalam Pencegahan Stunting Bersama Komunitas GAMALAMA”, kegiatan tersebut turut dihadiri Ketua Tim Pembina Posyandu sekaligus Ketua TP-PKK Kota Ternate, Marliza M. Tauhid.

Program ini memadukan edukasi kebanksentralan, terutama pemahaman dan kepedulian masyarakat terhadap Rupiah, dengan penguatan peran keluarga dalam mencegah stunting.

Kader Posyandu dipandang memiliki posisi strategis karena bersentuhan langsung dengan keluarga dan masyarakat. Selain memantau tumbuh kembang anak, kader juga dapat menjadi penggerak edukasi mengenai pengelolaan keuangan keluarga.

Ketua Tim Pembina Posyandu Kota Ternate, Marliza Tauhid, mengatakan keterlibatan aktif kader dan masyarakat menjadi kunci dalam memperkuat gerakan Cinta, Bangga, Paham Rupiah sekaligus mendorong pencegahan stunting dari tingkat Posyandu

Menurut Marliza, keluarga yang memiliki pemahaman baik dalam mengelola keuangan akan lebih mampu mengatur pemenuhan kebutuhan rumah tangga, termasuk kebutuhan pangan dan gizi anak.

“Melalui pemahaman CBP Rupiah, masyarakat difasilitasi untuk lebih bijak dalam mengelola keuangan keluarga,” ujar Marliza.

Ia menambahkan, kader Posyandu tidak hanya berperan dalam memantau pertumbuhan dan perkembangan anak, tetapi juga dapat menjadi agen literasi keuangan di lingkungan masing-masing.

Dengan demikian, edukasi mengenai Rupiah tidak berhenti pada pemahaman terhadap uang sebagai alat pembayaran, tetapi juga diarahkan untuk membangun kebiasaan masyarakat dalam mengelola keuangan secara bijak dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, pencegahan stunting membutuhkan keterlibatan keluarga dan masyarakat secara berkelanjutan. Pemenuhan gizi seimbang, pemantauan tumbuh kembang anak, serta peningkatan pengetahuan orang tua menjadi bagian penting dalam upaya tersebut.

Kolaborasi BI, PKK, kader Posyandu, dan Komunitas GAMALAMA diharapkan mampu memberikan manfaat langsung bagi masyarakat di wilayah kepulauan, khususnya dalam memperkuat ketahanan ekonomi keluarga sekaligus meningkatkan kualitas kesehatan anak.

Melalui peran kader sebagai ujung tombak di tengah masyarakat, sinergi tersebut diharapkan dapat melahirkan keluarga yang semakin cakap mengelola keuangan, peduli terhadap Rupiah, serta aktif mencegah stunting.

Upaya ini sekaligus menjadi bagian dari penguatan kualitas sumber daya manusia di wilayah Kepulauan Hiri secara berkelanjutan.

Berita Lainnya