Klarifikasi
Dapur MBG Kastela Dihentikan Sementara, SPPG Ternate: Insiden Sekolah Bukan Keracunan
Insiden dugaan keracunan makanan bergizi gratis (MBG) di SDN 65 Jambula dan SDN 59 Foramadiahi, Kecamatan Pulau Ternate, yang sempat menyita perhatian publik, diklarifikasi oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kota Ternate.
Kepala SPPG Kota Ternate, Mirnawati, menjelaskan kepada awak media, Jumat, 7 November 2025, bahwa makanan yang didistribusikan dari Dapur MBG Kelurahan Kastela telah mencapai 3.857 porsi, mencakup distribusi untuk sekolah, ibu hamil, dan balita.
Namun, insiden yang terjadi di SDN 65 Jambula diduga bukan karena keracunan, melainkan reaksi alergi ringan yang dialami beberapa siswa berdasarkan hasil pemeriksaan dokter di RSUD Chasan Boesoirie.
“Sekitar pukul 10.30 WIT, saya mendapat informasi dari Kepala SDN 65 Jambula bahwa ada siswa kelas I yang muncul bercak merah di dagunya. Informasi yang beredar menyebut sebanyak 26 siswa terdampak, tersebar di kelas I, IV, dan VI,” jelas Mirnawati.
Pihak SPPG bersama asisten dan ahli gizi langsung melakukan penanganan awal di lokasi. “Kami memberikan susu beruang untuk pertolongan awal. Bahkan ada guru yang juga mengalami gejala serupa, dan setelah mengonsumsi susu beruang, gejalanya langsung reda,” ujarnya.
Menurut Mirnawati, 26 siswa yang terdampak memiliki riwayat alergi dan asma. Setelah mendapat perawatan di Puskesmas Jambula dan RSUD Chasan Boesoirie, dokter menyimpulkan bahwa gejala tersebut merupakan alergi ringan, bukan keracunan makanan.
Sementara itu, hasil uji laboratorium terhadap sampel makanan masih dalam proses dan diperkirakan keluar dalam tiga hari ke depan. “Uji lab membutuhkan waktu karena harus menunggu masa inkubasi bakteri dan mikroba,” kata Mirnawati.
Pemeriksaan sementara oleh petugas kesehatan di Puskesmas Jambula juga tidak menemukan adanya kandungan bahan kimia berbahaya, seperti formalin, pada bahan makanan, termasuk ayam.
“Dari total 3.857 porsi makanan yang kami distribusikan Kamis kemarin, tidak hanya ke dua sekolah itu, tapi juga untuk ibu hamil, balita, dan Sekolah Luar Biasa (SLB). Itu sebabnya kami cukup bingung dengan kejadian ini,” tambahnya.
Mirnawati menyebutkan, enam siswa yang sempat dirawat di RSUD Chasan Boesoirie telah diperbolehkan pulang dan kondisinya membaik.
“Pengawasan dapur MBG kami dilakukan sesuai standar BGN. Sebelum makanan didistribusikan, kami melakukan uji rasa oleh 47 relawan. Dapur MBG Kastela yang beroperasi sejak Januari 2025 baru kali ini mengalami masalah seperti ini,” tuturnya.
Untuk mencegah kejadian serupa, pihak SPPG akan bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melengkapi alat uji cepat (test strip) guna memastikan keamanan bahan makanan sebelum didistribusikan.
“Untuk sementara, operasional Dapur MBG Kelurahan Kastela kami hentikan sambil menunggu hasil uji laboratorium sampel makanan,” tutup Mirnawati.








Komentar