Menakar Ketakutan Gen Z Dengan Tren Marriage is Scary: Mengapa Pernikahan Tak Lagi Menjadi “Rumah Aman”
Oleh: Dian Khaerani
(Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Jakarta)
TikTok yang selama ini identik dengan konten hiburan, mulai dari tutorial, podcast singkat, hingga tarian viral. Belakangan Tiktok diramaikan oleh narasi kolektif bertajuk Marriage is Scary. Ungkapan yang berarti “pernikahan itu menakutkan” ini mengguncang linimasa TikTok, melalui dari potongan video yang menampilkan kisah perselingkuhan, ketimpangan beban domestik, hingga kekerasan dalam rumah tangga (KDRT).
Bagi generasi sebelumnya, narasi tersebut kerap dianggap sebagai sinisme atau bentuk ketakutan terhadap komitmen. Namun jika ditelaah lebih jauh, tren ini justru berfungsi sebagai sinyal darurat yang mengungkap ketimpangan emosional yang selama ini tersembunyi di balik institusi pernikahan.
Bagi Generasi Z, Marriage is Scary bukan sekadar tren musiman atau bentuk “alergi” terhadap komitmen. Ungkapan ini menjadi penanda kegelisahan kolektif atas relasi yang kian kompleks dan rentan. Jagat TikTok pun dipenuhi tagar #MarriageIsScary sebagai ruang berbagi pengalaman, kekhawatiran, sekaligus refleksi kritis terhadap realitas pernikahan yang mereka saksikan.
Fenomena ini tidak bisa dipandang remeh. Berbagai kasus domestik dalam relasi pernikahan menjadi faktor utama terbentuknya kesepahaman kolektif, khususnya di kalangan Gen Z perempuan. Dalam kurun 2023–2024, tercatat 46.500 kasus kekerasan terhadap perempuan dalam rumah tangga, dengan lebih dari 70 persen terjadi di ranah domestik, berdasarkan data Simfoni PPA Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak. Komnas Perempuan juga mencatat bahwa pelaku kekerasan di ranah personal masih didominasi oleh suami. Di sisi lain, angka perceraian pada 2023 mencapai 463.360 kasus menurut Badan Pusat Statistik, dengan penyebab utama berupa perselisihan, pertengkaran, dan masalah ekonomi. Data-data ini memperkuat alasan mengapa ketakutan terhadap pernikahan tidak lahir dari ruang hampa.
Paparan data dan pengalaman yang tersebar luas di ruang digital berfungsi sebagai “audit realitas” bagi Gen Z. Jika sebelumnya pernikahan lebih sering ditampilkan melalui sisi seremonial yang ideal, kini generasi ini justru berhadapan langsung dengan lapisan terdalam yang penuh kerentanan. Paparan tersebut menciptakan hambatan psikologis: mereka menjadi lebih selektif dan defensif dalam membuka diri karena khawatir relasi yang dijalani tidak berujung pada stabilitas, melainkan kehancuran emosional.
Dalam arus interaksi media sosial yang cepat, kisah-kisah kegagalan pernikahan dikemas menjadi konten yang mudah dikonsumsi dan tersebar luas, mayoritas diproduksi oleh Gen Z perempuan. Survei APJII 2025 menempatkan TikTok sebagai platform utama di Indonesia, menegaskan bahwa suara Gen Z bukan lagi suara pinggiran. Ketika mereka menyuarakan ketakutan terhadap pernikahan, sesungguhnya mereka sedang melakukan evaluasi massal terhadap pola hubungan yang diwariskan oleh generasi sebelumnya.
Jika ditinjau melalui Teori Penetrasi Sosial Altman dan Taylor, hubungan interpersonal berkembang melalui proses pengungkapan diri yang bertahap—diibaratkan seperti mengupas lapisan bawang dari permukaan hingga inti terdalam. Namun, di era digital yang serba terbuka, dinamika ini mengalami pergeseran signifikan. Media sosial membuat Gen Z terekspos pada “lapisan inti” relasi orang lain secara prematur. Tren #MarriageIsScary bukan sekadar sinisme, melainkan refleksi kecemasan atas risiko yang tersembunyi di balik ruang privat sebuah pernikahan. Konten viral mengenai KDRT, perselingkuhan, dan konflik domestik seolah memaksa Gen Z menyaksikan skenario terburuk sebelum mereka sendiri melangkah ke dalamnya.
Jebakan Kerja Emosional yang Timpang
Akar persoalan dari fenomena ini bukan terletak pada ketidakmampuan mencintai, melainkan pada ketimpangan komunikasi emosional. Konstruksi sosial selama ini kerap menempatkan perempuan sebagai pengelola emosi dalam hubungan. Mereka diharapkan memahami, meredam konflik, dan menjaga stabilitas perasaan pasangan. Ketakutan Gen Z terhadap pernikahan muncul bukan karena prosesi atau statusnya, melainkan karena struktur relasi yang tidak setara secara emosional.
Dalam prinsip hubungan intim, timbal balik menjadi kunci utama. Keintiman hanya dapat terbangun ketika kedua pihak saling membuka diri dan berbagi beban secara adil. Fenomena Marriage is Scary mencuat seiring meningkatnya kesadaran akan ketimpangan kerja emosional yang kerap dibebankan sepihak, terutama kepada perempuan. Gen Z melihat pola relasi di mana satu pihak dituntut menjadi “manajer emosi” tanpa memperoleh keterbukaan dan dukungan yang setara.
Ketidakseimbangan ini membuat proses penetrasi sosial menjadi pincang. Alih-alih menghadirkan kedekatan yang menenangkan, relasi justru dipersepsikan sebagai ancaman terhadap kemandirian dan aktualisasi diri. Ketakutan akan terjebak dalam hubungan yang menguras energi emosional memperkuat sikap defensif Gen Z dalam membatasi akses orang lain ke lapisan terdalam hidup mereka.
Konsep kerja emosional yang timpang inilah yang membuat pernikahan tampak mengerikan bagi Gen Z, khususnya perempuan. Ketakutan tersebut merupakan respons rasional terhadap risiko kelelahan mental dan emosional dalam relasi yang tidak setara. Pernikahan pun tak lagi dipandang sebagai “rumah aman”, melainkan institusi yang menuntut pengorbanan psikologis tanpa jaminan kesejahteraan emosional. Pergeseran makna ini menjadikan pernikahan, yang dulu dianggap sebagai safety net, kini dipersepsikan sebagai high-risk area bagi perkembangan diri dan karier perempuan. Prediksi Morgan Stanley bahwa hampir separuh perempuan akan memilih melajang pada 2030 bukan sekadar angka, melainkan refleksi dari pilihan sadar: lebih baik sendiri daripada kehilangan jati diri.
Pertimbangan Pertukaran Sosial
Teori Penetrasi Sosial juga berkaitan erat dengan asumsi pertukaran sosial, di mana keberlanjutan hubungan ditentukan oleh perbandingan antara biaya dan imbalan. Individu hanya akan membuka lapisan terdalam dirinya ketika imbalan emosional dianggap lebih besar daripada risikonya. Dahulu, pernikahan dipandang sebagai sarana memperoleh stabilitas sosial dan ekonomi. Namun bagi Gen Z, meningkatnya risiko kehilangan otonomi, terganggunya kesehatan mental, serta ketimpangan domestik membuat “biaya” pernikahan terasa semakin mahal.
Ketika imbalan berupa kebahagiaan domestik tampak samar di tengah tingginya angka perceraian, keputusan untuk menghentikan proses penetrasi sosial sebelum komitmen permanen menjadi pilihan yang logis. Menjaga jarak dipandang sebagai strategi rasional untuk menghindari kebangkrutan emosional.
Media Sosial sebagai Akselerator Proteksi Diri
Secara komunikatif, media sosial berfungsi sebagai laboratorium sosial bagi Gen Z. Jika sebelumnya pengalaman hubungan dibangun melalui interaksi langsung, kini ruang digital menjadi basis data kolektif dalam membentuk mekanisme perlindungan diri. Kisah kegagalan relasi di TikTok berperan sebagai sistem peringatan dini yang mendorong terjadinya “penarikan diri preventif”.
Melalui informasi tersebut, Gen Z merumuskan ulang batasan dalam relasi. Mereka menuntut standar baru berupa kesetaraan gender yang nyata dan kematangan emosional sebelum memberikan akses ke lapisan privasi terdalam.
Pada akhirnya, fenomena Marriage is Scary merepresentasikan transformasi cara Gen Z memaknai komitmen jangka panjang. Dalam kerangka Teori Penetrasi Sosial, ketakutan ini merupakan bentuk perlindungan diri yang sah terhadap investasi emosional berisiko tinggi. Dengan melakukan seleksi yang lebih ketat, Gen Z berupaya merekonstruksi pernikahan agar tidak lagi menjadi ruang yang mengancam jati diri, melainkan tempat bertumbuh bersama.
Ketegangan antara kebutuhan akan kemandirian dan keinginan untuk terikat dapat dijembatani melalui pendekatan Dialektika Relasional, yakni dengan membangun ruang negosiasi yang berkelanjutan. Pernikahan tidak seharusnya membatalkan identitas individu, melainkan menjadi wadah kolaboratif yang mendukung aktualisasi diri kedua belah pihak. Dengan menggeser paradigma dari “pengorbanan tanpa batas” menuju “kolaborasi yang setara”, pernikahan berpeluang kembali dimaknai sebagai “Rumah Aman” bagi generasi mendatang.









Komentar