Media
Ketum AMSI Sebut Content Creator Bukan Musuh Media, Saatnya Kolaborasi
Ketua Umum Asosiasi Media Siber Indonesia (AMSI), Wahyu Dhyatmika menyebut kreator konten atau content creator bukanlah musuh perusahaan media.
Menurutnya, di tengah perubahan ekosistem informasi dan perkembangan kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), kolaborasi antara media dan kreator konten dinilai menjadi salah satu langkah untuk menjaga relevansi jurnalisme di mata publik.
Hal itu disampaikan dalam sambutan pembukaan Indonesia Digital Media Conference (IDMC) 2026 di Surabaya, Rabu, 28 Oktober 2026. Tahun ini, IDMC mengusung tema Media Reborn: Reinventing News Media in the Era of AI and Content Creator.
Menurutnya, industri media tengah menghadapi perubahan besar. Model bisnis yang selama ini menopang perusahaan pers mendapat tekanan akibat pergeseran distribusi berita ke media sosial, penurunan trafik, berkurangnya pendapatan iklan, hingga perubahan perilaku audiens dalam mengakses informasi.
“Kawan-kawan, content creator bukan musuh kita. Mereka membuktikan satu hal: publik ingin mendengar dari manusia yang mereka kenal dan percaya,” ujarnya.
Ia mengatakan, perusahaan media perlu menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru audiens. Wartawan tidak cukup hanya memproduksi berita untuk situs media, tetapi juga perlu hadir di berbagai platform digital dengan pendekatan yang lebih dekat kepada masyarakat.
Namun, kehadiran jurnalis di berbagai platform harus tetap disertai penerapan standar jurnalistik, terutama dalam hal verifikasi, akurasi, dan etika.
Karena itu, jurnalis didorong berani tampil sebagai kreator konten tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik. Perusahaan media juga dapat membangun kemitraan dengan kreator konten untuk memperluas jangkauan informasi sekaligus memperkenalkan nilai verifikasi dan etika jurnalistik kepada audiens digital.
Media Harus Beradaptasi di Era AI
Ketua Umum AMSI menjelaskan, tantangan yang dihadapi industri media bukan semata-mata persoalan teknologi, melainkan juga menyangkut model bisnis dan kepercayaan publik.
Dalam sambutannya, ia mengutip data Reuters Institute yang menunjukkan media sosial dan platform video telah menjadi sumber berita terbesar secara global, dengan jangkauan 54 persen audiens.
Di sisi lain, penggunaan AI dalam mesin pencari turut mengubah cara masyarakat memperoleh informasi. Ringkasan jawaban berbasis AI memungkinkan pengguna mendapatkan informasi tanpa harus mengunjungi situs berita secara langsung.
Riset AMSI bersama Monash University, sebagaimana disampaikan dalam sambutannya, menemukan dampak negatif signifikan terhadap jumlah klik setelah kehadiran Google AI Overview pada enam dari 13 media yang diteliti.
Kondisi tersebut menuntut perusahaan pers mengevaluasi ketergantungan pada jumlah kunjungan atau pageview sebagai ukuran utama keberhasilan.
“Jurnalisme harus kembali menjadi kerja menemukan dan menguji kebenaran, bukan sekadar memproduksi konten,” tegasnya.
Ia menjelaskan, kekuatan utama jurnalisme terletak pada kerja lapangan, verifikasi fakta, penelusuran dokumen, wawancara, serta kemampuan menjelaskan konteks suatu peristiwa.
Kemampuan tersebut menjadi pembeda penting di tengah kemudahan produksi konten menggunakan teknologi AI. Karena itu, media perlu memperkuat kualitas peliputan dan menghadirkan informasi yang tidak hanya cepat, tetapi juga akurat, mendalam, dan dapat dipercaya.
AMSI Ajak Media Kembangkan Model Bisnis Baru
Selain beradaptasi dalam pola kerja redaksi, AMSI mengajak perusahaan media mengembangkan sumber pendapatan baru agar tidak terus bergantung pada iklan dan trafik.
Sejumlah peluang yang dapat dikembangkan meliputi langganan digital, keanggotaan, penyelenggaraan acara, pengembangan komunitas, riset dan data, lisensi arsip, hingga pemanfaatan kekayaan intelektual dari hasil liputan.
Ia mencontohkan pengalaman Tempo. Dalam sambutannya, ia menyebut pageview Tempo pada tahun sebelumnya turun 33,5 persen, sedangkan jumlah pelanggan digital meningkat hampir 36 persen.
Menurutnya, pengalaman tersebut menunjukkan penurunan trafik tidak selalu berarti nilai jurnalisme ikut menurun. Perusahaan media perlu membangun produk yang sesuai dengan kebutuhan audiens dan mampu mempertahankan kepercayaan publik.
“Tidak ada satu model untuk semua. Setiap media harus menemukan aset yang hanya ia miliki, diferensiasi utamanya, dan segmen audiens yang ingin ia layani,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya kerja kolektif ant perusahaan media. Dengan lebih dari 500 media anggota, AMSI memiliki peluang memperkuat daya tawar dalam menghadapi perusahaan teknologi global.
AMSI, lanjutnya, mendorong revisi Undang-Undang Hak Cipta, penerapan lisensi kolektif, serta negosiasi bersama untuk membangun hubungan yang lebih adil antara perusahaan media dan platform digital.
Langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat posisi perusahaan pers dalam ekosistem digital, termasuk dalam memperjuangkan penghargaan yang layak atas karya jurnalistik yang dimanfaatkan oleh platform teknologi.
Media Lokal Punya Keunggulan
Di tengah persaingan dengan kreator konten dan perkembangan AI, media lokal dinilai memiliki keunggulan yang sulit digantikan, yakni kedekatan dengan masyarakat dan pemahaman terhadap persoalan daerah.
Media lokal memahami berbagai persoalan konkret di wilayahnya, mulai dari kerusakan jalan, kekurangan guru, pengelolaan anggaran, harga kebutuhan pokok, hingga dampak kebijakan pemerintah terhadap kehidupan warga.
Menurutnya, jurnalisme tidak cukup hanya memberitakan peristiwa. Media juga harus membantu pembaca memahami persoalan, melihat berbagai perspektif, serta mengambil keputusan berdasarkan informasi yang akurat.
“Pembaca tidak hanya butuh diberi tahu apa yang terjadi. Mereka butuh penjelasan. Butuh perspektif. Butuh bantuan untuk mengambil keputusan,” ujarnya.
Ia meyakini, kemampuan menghadirkan informasi yang relevan dan bernilai akan menjadi alasan bagi masyarakat untuk tetap mengakses produk jurnalistik.
Kepercayaan publik juga menjadi fondasi penting untuk menjaga independensi media dan kebebasan pers di tengah perubahan ekosistem digital.
Karena itu, media lokal perlu terus memperkuat kualitas peliputan, menghadirkan isu yang dekat dengan kebutuhan warga, serta memanfaatkan platform digital untuk menjangkau audiens yang lebih luas.
IDMC 2026 Dorong Eksperimen Produk Media
Menutup sambutannya, Ketua Umum AMSI mengajak peserta IDMC 2026 mengembangkan setidaknya satu eksperimen produk atau format baru dalam enam bulan ke depan.
Ia juga mendorong perusahaan media menemukan mitra kolaborasi dan memperkuat advokasi bersama melalui AMSI.
Menurutnya, masa depan industri media tidak dapat dibangun hanya dengan mempertahankan cara kerja lama. Perusahaan pers perlu berani berinovasi, membuka ruang kolaborasi, dan menempatkan kebutuhan publik sebagai inti kerja jurnalistik.
Kolaborasi dengan kreator konten, pengembangan model bisnis baru, serta pemanfaatan teknologi secara tepat menjadi bagian dari upaya media menghadapi perubahan tersebut.
“Media tidak akan lahir kembali dengan sendirinya. Kita yang harus melahirkannya,” tandasnya.










Komentar