Sekilas Info

Ternate Book Festival

Ternate Book Festival dan Minat Baca di Ternate

Suasana di Ternate Book Festival. Foto: Faris Bobero/cermat

Ternate cukup tinggi. Hal itu dilihat dari daya beli masyarakat saat gelaran berlangsung, sejak tanggal 10 hingga 15 Febuari 2020.

Pihak panitia Ternate Book Festival (TBF) 2020, Immamuddin Ayub ketika dihubungi pada Jumat malam 21 Februari 2020, mengatakan, dalam lima hari gelaran itu, ada 2631 buku yang terjual. Terbanyak adalah buku tentang sosial, setelah itu buku sastra dan lingkungan.

Pegiat literasi dari perpustakaan NBC Library, Mashur Tomagola mengatakan, TBF 2020 telah melahirkan pandangan baru, bahwa ternyata minat baca di Ternate, Maluku Utara itu tinggi. Hanya saja, ketersediaan bacaan yang dibutuhkan, minim di kota Ternate.

“Memang ada toko buku di sini. Namun, ketersediaan tentang buku yang dibutuhkan, selalu terlambat diadakan di Ternate. Dengan gelaran ini, kita bisa lihat. Ternyata, daya beli orang di sini terhadap buku-buku yang berkualitas, itu tinggi,” ungkap Mashur, ketika dihubungi cermat.

Mashur bilang, TBF 2020 adalah salah satu ivent literasi yang tidak hanya menyediakan buku bacaan tematik dan variatif, tapi juga menghadirkan langsung para penulis buku dan penerbitnya. Sekaligus coaching kepenulisan dan dunia penerbitan.

Selain itu, kata Mashur, pada tahun 2019, Kemendikbud merilis hasil riset Aktivitas Literasi Membaca (ALIBACA): indeks dimensi Akses membaca di Maluku Utara berada di zona Merah (sangat rendah).

Hasil riser kemendikbud. Dimensi Akses Maluku Utara diposisi rendah. Sumber: Kemendikbud.

“Ivent TBF ini sebetulnya hanya mengkonfirmasi bahwa aksesibilitas bacan yang bagus (buku bermutu) kita memang tidak bervariatif sehingga masyarakat enggan untuk membaca buku. Karna itu, ketika TBF menghadirkan buku-buku dengan kualitas yang memadai, variatif, dan tematik, masyarakat langsung seperti menemukan dahaga literasi dipadang informasi yang tandus,” katanya.

“Harapan terbesar saya, TBF di tahun berikutnya harus lebih memaksimalkan lagi kerja-kerja kolaboratif. Seluruh elemen kultural maupun pemerintah mesti diajak tetapi tetap dengan mempertahankan ciri lokalitas sebagai tema sentralnya,” tambahnya.

Kemendikbud merilis hasil riset Aktivitas Literasi Membaca (ALIBACA): indeks dimensi Akses membaca di Maluku Utara di posisi rendah.

Sementara itu, Asghar Saleh, Direktur LSM Rorano, yang konsentrasi pada pendidikan dan kesehatan berharap, TBF menjadi gelaran tahunan dan didukung oleh pemerintah Kota Ternate. “Dalam setahun, jika kampanye literasi seperti ini terus dilakukan, saya yakin akan meningkatkan minat baca orang,” ujar Asghar.

Menurutnya, meski hanya lima hari, ada 2631 yang terjual dalam gelaran ini, adalah fakta yang luar biasa dan menjadi kabar yang membahagiakan.

Meskipun di era digitalisasi, baginya, buku tidak akan hilang. Sebab, orang butuh bacaan yang bisa dibaca berulang-ulang. Sementara, akses internet untuk membaca e-book, butuh ketersediaan internet yang bagus.

Selain itu, orang di Ternate ingin mendapat bacaan yang berkualitas tapi, harus mengeluarkan ongkos kirim yang besar untuk memesan buku dari luar. Dengan hadirnya TBF 2020, ini sangat membantu.

Asghar juga berharap, kedepan, gelaran ini juga menghadirkan penulis-penulis lokal dan memberikan spirit baru untuk tetap melahirkan karya.

Dosen Sosiologi Universitas Muhammadiyah Maluku Utara, Herman Oesman mengatakan, TBF 2020 merupakan terobosan penting yang dilakukan komunitas pencinta buku. Sebagai langkah awal, tentu masih terdapat berbagai kelemahan, tapi setidaknya, kegiatan TBF telah membuka ruang-ruang penting bagi gerakan peningkatan literasi di Kota Ternate.

Herman Oesman saat memberikan materi di gelaran Ternate Book Festival 2020. Foto: Faris Bobero/cermat

“Untuk ke depan, TBF perlu dikuatkan dari sisi promosi, dan pengelolaan secara lebih baik lagi, dengan membangun jejaring kerjasama dengan penerbit-penerbit besar lainnya,” ujar Herman.

Penulis: Faris Bobero
Sumber: cermat-kumparan

Baca Juga