Sekilas Info

Covid-19 Maluku Utara

Pansus Desak Gustu Fokus Penyembuhan, Ini Gambaran Keluhan Pasien Covid-19

dr Haryadi Ahmad, Wakil Ketua Pansus Covid Provinsi Maluku Utara, dan Ketua Komisi IV || Foto: Istimewa

Ternate, Hpost – Anggota Pansus Covid-19 Maluku Utara, dr Haryadi Ahmad mendesak agar Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, Maluku Utara fokus pada penyembuhan pasien. Oleh karena itu, dibutuhkan dukungan secara psikologis melalui konseling secara berkala kepada pasien.

Sebagaimana diketahui, angka pasien yang sembuh masih 14,32 persen, dari total akumulasi 719 kasus positif corona di Maluku Utara.

“Memang dilihat dari rasio pasien sembuh masih sangat jauh, jadi selain fokus pada aspek pencegahan Gugus Tugas juga harus konsentrasi pada aspek pemulihan/kesembuhan,” kata dr Hariyadi yang juga sebagai Ketua Komisi IV DPRD Provinsi Maluku Utara, kepada Halmaherapost.com, Minggu malam tadi.

Haryadi bilang, Gugus Tugas harus memaksimalkan ketersediaan polymerase chain reaction (PCR), tidak hanya pada pemeriksaan spesimen hasil tracking kontak untuk pencegan, tetapi juga untuk pemeriksaan spesimen pasien Follow Up.

Tak kalah penting, menurut Haryadi, membuka ruang konseling  adalah dukungan konseling psikologis pasien dengan melibatkan psikolog di Maluku Utara.

“Semua tahu sampai saat ini belum ada vaksin/obat spesifik yang bisa mematikan virus corona. Sejauh ini Covid 19 merupakan Self Limitide Disease atau penyakit yang bisa sembuh sendiri. Jadi dengan meningkatkan imunitas pasien, melalui dukungan psikologis diperlukan guna meningkatkan jumlah pasien yang sembuh,” paparnya.

Karantina, kata dr Haryadi, membuat pasien tentu bosan, stres dan bisa mengakibatkan penurunan imunitas. Artinya, diperlukan psikolog yang memberi pemahaman kepada pasien tentang manajemen stres.

Sementara itu, Humas Himpunan Psikologi Wilayah Maluku Utara, yang masuk dalam Tim Psikologis Covid-19 Maluku Utara, Rahmat H Made, kepada Halmaherapost.com mengatakan, dukungan psikologis pasien melalui konseling sudah berjalan sejak April 2020, kemarin.

“Ini merupakan cara kami melakukan pertolongan pertama psikologis terhadap pasien. Lewat konseling kami bisa membaca riwayat pasien,” katanya.

Rahmat menguraikan, konseling selama masa Pandemi Covid-19 sudah dilakukan sebanyak 284 orang, di antaranya di Ternate 105 orang, selanjutnya Tidore Kepulauan berjumlah 28 orang, Pulau Morotai 15 orang, Halmahera Timur 13  Orang, dan Halmahera Tengah 9, Halmahera Utara 8 orang, Halmahera Barat 4 orang. Kemudian, dari luar daerah 32 orang, Kepolisian 37 orang, Nakes 31 orang, keluarga pasien 2 orang.

“Dengan rata-rata pelaksanaan konseling per pasien sebanyak 7 kali follow-up,” urainya.

Rahmat bilang, keluhan utama pasien covid-19 Maluku Utara adalah kecemasan, depresi hingga stres.

Pertama, kecemasan secara internal biasanya ada karena adaptasi pasien lemah kondisi emosional tidak stabil semasa karantina, sehingga aspek emosionalnya berubah dan dinamika psikologinya tersita.

Sementara dari kecemasan eksternal biasanya timbul dengan banyak faktor, misalnya yang sudah berkeluarga mengalami tekanan finansial karena sebagian dikarantina adalah kepala rumah tangga.

“Tentunya ini mengganggu kestabilan psikologis mereka, menjadi beban pikiran. Kecemasan muncul," jelasnya.

“Dua minggu pertama masa karantina itu masih pada kecemasan internal. Nah, setelah melewati fase satu bulan, kecemasan internal itu mulai muncul."

Konseling juga diberikan kepada keluarga pasien, terutama pasien yang sudah dikarantina selama dua bulan lebih.

“Jadi konseling dua arah, pasien dan keluarganya karena dipicu sumber stres secara internal maupun eksternal,” ucapnya.

Saat ditanya, apakah kecemasan emosional mengganggu lamanya kesembuhan pasien? Rahmat menjelaskan, sebaliknya beberapa pasien justru menggunakan faktor kecemasan eksternal untuk membuatnya lebih semangat dan mempercepat masa penyembuhan.

Rahmat menjelaskan, sumber kecemasan diakibatkan stres. Namun, secara psikologi, menurutnya, stres terbagi dalam stres baik dan stres buruk.

“Nah, rata-rata pasien yang mampu bersabar dan punya semangat mampu mengolah stres ini ke dalam bentuk stres baik

Selain pasien itu punya daya mental yang baik, kita juga dorong lewat konseling melalui telepon. Selalu ada bimbingan keluhan mereka kita proses dengan memberi penguatan mental kepada pasien.

“Alhamdulillah, beberapa pasien yang sembuh sudah memberikan testimoni yang baik atas dukungan psikologi yang kami berikan selama ini,” tutupnya.

Penulis: Red

Baca Juga