Pemprov Maluku Utara Gelar ‘Karpet Merah’ untuk Freeport dan Perusahaan China

Kegiatan operasional pertambangan. || Foto: Istimewa

Ternate, Hpost - Pemerintah Provinsi Maluku Utara menyambut baik rencana investasi PT Freeport Indonesia dengan perusahaan asal China, Tshingshan Steel, sebesar Rp 39 triliun.

Kepala Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral Malut, Hasyim Daeng Barang mengungkapkan, meski sejauh ini Pemprov belum mendapat pemberitahuan secara langsung terkait rencana investasi pembangunan smelter di Pulau Halmahera itu, pada dasarnya Pemprov membuka diri untuk investor.

“Harapan Pak Gubernur ke depan, investasi di sini bisa tumbuh, masyarakat juga bisa menikmati iklim investasi itu, perekonomian meningkat, pengangguran menurun, dan menjaga kondisi sosial masyarakat di lingkar tambang,” ungkap Hasyim, seperti dikutip dari CNNIndonesia, Selasa 9 Februari 2021.

Hasyim menuturkan, saat ini perizinan sektor pertambangan telah dialihkan ke Pemerintah Pusat. Itu berarti, pemerintah daerah hanya akan diminta mendukung, salah satunya dengan merekrut tenaga kerja lokal.

“Investasi ini pasti akan masuk Proyek Strategis Nasional (PSN). Tapi sejauh ini belum ada pemberitahuan resmi soal investasi jangka panjang di IWIP itu,” terangnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Panjaitan menyatakan Freeport dan Tsingshan Steel akan menandatangani kerja sama investasi sebesar US$2,8 miliar atau Rp 39 triliun (kurs Rp14.108 per dolar AS).

Kerja sama itu dijalin untuk membangun smelter tembaga di Halmahera. Perjanjian kerja sama keduanya sudah masuk finalisasi.

"Ini finalisasi perjanjian antara Tsingshan dengan Freeport. Tsingshan dengan Freeport akan sign kontrak US$2,8 miliar untuk smelter," ungkap Luhut dalam Dialog Tantangan dan Optimisme Investasi pada 2021, Kamis 3 Februari 2021.

Luhut menyatakan, Tsingshan dan Freeport akan membuat smelter tembaga menjadi cobalt. Nantinya, pabrik itu juga akan menghasilkan asam sulfat.

"Ini asam sulfat menjadi bahan baku baterai. Di satu sisi, di sana juga ada smelter nikel ore. Kalau ini sesuai rencana, smelter nikel ore sudah jalan maka 2023 kami akan produksi lithium baterai N811," ucap Luhut.

Penulis: Nurkholis/Firjal

Baca Juga