Cendekia

Gen Z di Persimpangan Peran: Seni Mengelola Komunikasi dalam Harmonisasi Kerja–Kuliah

Ilustrasi

Oleh: Dian Khaerani

Mahasiswa Magister Ilmu Komunikasi
Universitas Muhammadiyah Jakarta

=====================================

Menjalani peran ganda sebagai mahasiswa sekaligus pekerja sering kali dianggap sebagai “beban heroik.” Namun, bagi Generasi Z, pilihan ini bukan sekadar upaya mencari uang jajan tambahan. Di balik layar ponsel yang selalu menyala, terdapat narasi tentang strategi bertahan hidup di tengah himpitan ekonomi dan ambisi profesional yang kian kompetitif.

Data dari survei Deloitte Global 2023 Gen Z and Millennial Survey menunjukkan bahwa sekitar 35% Gen Z mengambil pekerjaan sampingan (side hustle) demi memenuhi kebutuhan finansial yang mendesak. Tren ini juga terlihat di Indonesia, di mana fenomena hustle culture mendorong mahasiswa untuk “mencuri start” pengalaman kerja demi menghindari risiko pengangguran intelektual setelah lulus nanti.

Namun, narasi yang selama ini berkembang selalu berputar pada satu nasihat klasik: “Pandai-pandailah mengatur waktu.” Padahal, pada kenyataannya, kondisi di lapangan jauh lebih kompleks. Masalah utama mahasiswa pekerja bukanlah jarum jam yang berputar terlalu cepat, melainkan tumpang tindihnya kepentingan dan ekspektasi. Di sinilah kita perlu bergeser dari paradigma manajemen waktu menuju manajemen komunikasi.

Paradoks Fleksibilitas dan Tekanan Mental

Generasi Z lahir di era digital yang menuntut mereka untuk selalu “on”. Memiliki karakter adaptif terhadap teknologi memberi potensi kemudahan dalam transisi antara tugas kuliah dan tanggung jawab kantor. Namun, fleksibilitas ini adalah pedang bermata dua. Batas antara ruang personal, akademik, dan profesional menjadi kabur. Gen Z bukan hanya berhadapan dengan persoalan manajemen waktu secara fisik, melainkan tantangan nyata berupa fragmentasi fokus.

Sebuah studi psikologi organisasi menyebutkan bahwa multitasking kognitif yang ekstrem dapat menurunkan produktivitas hingga 40%. Bagi mahasiswa pekerja, berpindah dari diskusi kritis di kampus ke tuntutan target di kantor dalam waktu singkat menyebabkan beban kognitif yang luar biasa. Jika tidak dikelola, akumulasi beban ini berujung pada kondisi burnout. Hal ini menjadi suatu ketakutan, namun sering kali dimasuki secara tidak sadar.

Sering kali, kelelahan yang dirasakan mahasiswa pekerja dianggap sebagai kelelahan fisik semata. Padahal, realitanya adalah cognitive switching penalty, yakni kelelahan mental akibat pemaksaan otak untuk berpindah fokus secara instan dari logika akademis yang teoretis ke tuntutan pragmatis. Tanpa pengelolaan yang tepat, kondisi ini bukan hanya melahirkan lelah badan, tetapi juga burnout psikologis. Mengapa? Karena batas antara dunia kantor, ruang kelas, dan ruang pribadi semakin kabur akibat akses digital yang tanpa henti.

Untuk menyeimbangkan dua dunia ini, Gen Z perlu menguasai komunikasi pada level strategis. Mengatasi tekanan peran ganda tidak cukup hanya dengan aplikasi to-do list. Diperlukan kemampuan komunikasi yang terstruktur untuk mengelola ekspektasi dan realitas. Kunci keberhasilannya terletak pada manajemen komunikasi—suatu seni membaca situasi dan menempatkan diri secara tepat, sebab komunikasi bukan sekadar berbicara.

Komunikasi Intrapersonal (Fondasi Diri)

Komunikasi intrapersonal adalah fondasi untuk mengenali kapasitas mental. Menurut Ronald B. Adler dan George Rodman (2017) dalam buku Understanding Human Communication, komunikasi intrapersonal merupakan dasar dari persepsi dan konsep diri. Bagi mahasiswa pekerja, hal ini berarti pentingnya mengenali kapasitas energi dan menetapkan batasan (boundaries). Artinya, perlu bersikap jujur pada diri sendiri mengenai kapan harus memacu produktivitas dan kapan harus mengambil jeda. Tanpa dialog internal yang sehat dan pemahaman diri yang kuat, seseorang hanya akan menjadi “robot” yang mengejar target tanpa makna.

Data dari American Psychological Association (APA) tahun 2023 mengungkapkan bahwa Gen Z memiliki tingkat stres tertinggi dibandingkan generasi lain, di mana sekitar 46% responden mengaku sering kewalahan dengan tumpukan tanggung jawab harian. Tanpa dialog diri untuk menetapkan boundaries, produktivitas hanyalah bentuk pemaksaan diri yang destruktif dan berisiko merusak kesehatan mental jangka panjang.

Komunikasi Interpersonal (Asertivitas) sebagai Kecakapan Profesional

Keberanian menyampaikan kondisi secara transparan kepada dosen atau atasan bukanlah tanda kelemahan, melainkan sebuah kecakapan profesional. Hal ini selaras dengan konsep asertivitas menurut Alberti dan Emmons (2017), yaitu kemampuan mempertahankan hak diri tanpa melanggar hak orang lain. Bentuk negosiasi strategis agar ekspektasi kedua belah pihak tetap terpenuhi adalah menyampaikan kondisi secara terbuka tanpa meminta belas kasihan.

Kemampuan mengomunikasikan kondisi secara jujur, membangun empati dengan atasan, serta menegosiasikan ekspektasi dengan dosen menjadi kunci. Realitanya, survei LinkedIn Learning menunjukkan bahwa komunikasi asertif masuk dalam daftar soft skills paling dibutuhkan di era modern. Banyak kasus mahasiswa terpaksa bolos kuliah demi lembur karena gagal bernegosiasi. Padahal, transparansi—misalnya terkait jadwal ujian—merupakan bentuk negosiasi strategis. Dengan komunikasi yang jelas, ekspektasi kedua belah pihak dapat selaras tanpa harus mengorbankan salah satu peran. Sukses menjalani peran ganda sangat bergantung pada seberapa efektif kita membangun pengertian dengan orang-orang di sekitar.

Komunikasi Organisasi (Navigasi Sistem) dan Budaya yang Berbeda

Mahasiswa pekerja harus mampu membaca budaya organisasi. Dunia kerja menuntut profesionalisme yang cenderung kaku, sementara dunia akademik menuntut pemikiran kritis yang lebih cair. Menurut teori iklim organisasi dari Rensis Likert, produktivitas sangat dipengaruhi oleh sejauh mana individu merasa didukung oleh sistem komunikasinya. Dengan demikian, institusi pendidikan dan perusahaan perlu mulai mengadopsi pola komunikasi yang lebih manusiawi.

Data dari McKinsey & Company (2022) memperkuat urgensi ini dengan temuan bahwa 60% Gen Z akan menolak atau meninggalkan pekerjaan yang tidak menawarkan keseimbangan hidup (work-life balance). Banyak kasus pengunduran diri dini (early resignation) di kalangan mahasiswa pekerja terjadi karena perusahaan terlalu kaku. Oleh karena itu, fleksibilitas kebijakan bukan lagi sekadar bonus, melainkan kunci utama bagi institusi pendidikan dan perusahaan untuk mempertahankan talenta muda yang kompeten, sekaligus memberi ruang berkembang secara akademik.

Kemahiran Gen Z dalam mengakses teknologi memberi keunggulan dalam memanfaatkan alat kolaborasi digital untuk menjembatani kedua dunia tersebut. Namun, tantangannya adalah menciptakan “pagar” komunikasi agar urusan kantor tidak masuk ke ruang kuliah, dan tugas kuliah tidak mengganggu jam kerja.

Menguasai manajemen komunikasi memang krusial, tetapi harus berjalan beriringan dengan seni menjaga kualitas hidup. Berjuang di dua dunia memerlukan langkah-langkah praktis agar roda kehidupan tetap berputar pada porosnya. Misalnya melalui audit waktu dan skala prioritas—tidak hanya mengandalkan ingatan, tetapi menggunakan alat bantu digital atau jurnal fisik untuk memetakan waktu. Bedakan mana yang “mendesak” dan mana yang “penting”. Manajemen waktu yang baik bukan tentang melakukan segalanya, melainkan keberanian menentukan pilihan.

Selanjutnya adalah praktik investasi pada quality time. Kesibukan sering kali merampas waktu bersama orang-orang terdekat. Luangkan waktu, meski hanya satu jam di akhir pekan, untuk benar-benar log-off dari pekerjaan dan tugas. Koneksi sosial yang berkualitas merupakan bahan bakar emosional yang mencegah kekosongan batin.

Di tengah kebisingan dunia kerja dan tuntutan akademik, Gen Z memerlukan sebuah “jangkar”. Selain pola hidup sehat seperti menjaga ritme tidur dan asupan nutrisi, dimensi spiritualitas atau refleksi batin menjadi krusial. Spiritualitas di sini tidak melulu soal ritual formal, melainkan kemampuan untuk melakukan kontemplasi dan memberi makna pada setiap kelelahan. Praktik kesadaran (mindfulness) atau ibadah sesuai keyakinan berfungsi sebagai mekanisme pemulihan emosional saat tekanan eksternal mencapai puncaknya.

Ketangguhan Gen Z dalam menjalani kuliah sambil bekerja tidak boleh hanya diukur dari seberapa banyak tugas yang diselesaikan atau seberapa besar gaji yang diterima. Keberhasilan sejati tercermin dari kemampuan untuk tetap utuh secara mental dan emosional di tengah kompleksitas kehidupan modern. Menjadi mahasiswa sekaligus pekerja adalah perjalanan belajar menempatkan diri. Pada akhirnya, kecerdasan komunikasi menjadi senjata utama bagi Gen Z untuk menaklukkan dua dunia sekaligus, tanpa kehilangan identitas dan kesehatan di tengah jalan.

Penulis:

Baca Juga