Sepakbola

Malut United, Euforia yang Retak: Narasi Manajemen Penuh Sentimen

Penulis: Firjal Usdek
Jurnalis

Musim pertama Malut United di Stadion Gelora Kie Raha adalah momentum historis bagi Maluku Utara. Stadion penuh, kebanggaan kolektif tumbuh, dan sepak bola kembali menjadi bahasa persatuan. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, publik merasa memiliki satu simbol bersama yang bisa dibanggakan di level nasional.

Namun euforia itu tidak runtuh karena performa tim semata. Ia perlahan terkikis oleh narasi yang dibangun manajemen klub, terutama melalui pernyataan-pernyataan Asghar Saleh— yang tanpa disadari mencederai ikatan emosional antara klub dan publiknya sendiri.

Pernyataan Asghar pada 18 Agustus 2025 tentang kemungkinan pindah ke Ambon menjadi titik balik krusial. Kalimat “kami pindah karena merasa tidak ada dukungan dari pemerintah maupun masyarakat” terdengar bukan sebagai kritik konstruktif, melainkan vonis sepihak. Dalam relasi klub–suporter, ini bukan sekadar opini personal, melainkan pesan politik: bahwa loyalitas publik diukur dari kontribusi material, bukan dari rasa memiliki.

Padahal bagi masyarakat daerah, sepak bola bukan proyek bisnis semata. Ia adalah simbol identitas, harga diri, dan pengakuan. Ketika manajemen berbicara soal kerugian puluhan miliar dan minimnya sponsor lokal, lalu menyiratkan publik Maluku Utara tidak cukup mendukung, yang lahir bukan empati, melainkan jarak.

Musim kedua memperlebar jarak itu. Malut United hadir dengan skuad bertabur bintang, tetapi kebijakan harga tiket memicu kegelisahan sosial. Kritik publik terhadap mahalnya tiket justru dibalas dengan stigma: dianggap cengeng, tidak nasionalis, bahkan bukan “fans sejati”. Narasi ini diperkuat lewat perbandingan dengan Persib Bandung, di mana puluhan ribu tiket di GBLA tetap ludes meski mahal dan laga disiarkan televisi.

Perbandingan tersebut problematis. Bandung memiliki tradisi sepak bola puluhan tahun, basis ekonomi lebih kuat, serta kultur suporter yang terlembaga. Maluku Utara berada pada konteks sosiologis yang berbeda. Struktur ekonomi masyarakatnya tidak bisa dipaksa mengikuti standar kota besar. Ketika keluhan harga tiket dibalas dengan label “penonton fomo” atau “hanya bisa mengeluh”, yang terjadi bukan edukasi fan culture, melainkan alienasi sosial.

Alih-alih membangun militansi, narasi ini justru menyeleksi suporter berdasarkan kelas ekonomi: yang mampu membeli tiket mahal dianggap loyal, yang tidak dianggap pengganggu. Di titik ini, Malut United mulai berhenti dipersepsikan sebagai klub rakyat dan bergeser menjadi entitas elitis yang menuntut dukungan tanpa mau memahami kondisi pendukungnya.

Ancaman pindah ke Ambon memperparah situasi. Dalam psikologi suporter, loyalitas lahir dari rasa aman—keyakinan bahwa klub ini adalah milik bersama. Ketika manajemen dengan mudah melontarkan opsi pindah, pesan yang ditangkap publik jelas: ikatan ini sementara. Akibatnya, dukungan berubah dari antusiasme menjadi kehati-hatian. Publik tidak lagi all-out secara emosional karena takut dikhianati.

Pernyataan bahwa Malut United “butuh fans sejati, bukan penonton yang mengeluh” sejatinya benar secara ideal. Namun fans sejati tidak lahir dari tekanan moral, apalagi dari

perendahan aspirasi publik. Fans sejati tumbuh dari rasa memiliki, dari komunikasi yang setara, dan dari pengakuan bahwa kritik adalah bagian dari cinta.

Persib dan Bobotoh tidak besar karena dimarahi, tetapi karena dirangkul dalam sejarah panjang penderitaan dan kebanggaan bersama. Militansi tidak tumbuh dari ceramah, melainkan dari pengalaman kolektif yang konsisten.

Menurunnya euforia Malut United bukan semata soal performa tim, cuaca panas, atau siaran televisi. Masalah utamanya adalah kegagalan manajemen membaca psikologi sosial Maluku Utara. Ketika publik merasa disalahkan, diancam ditinggalkan, dan distigmatisasi karena keterbatasan ekonomi, yang runtuh bukan hanya dukungan, melainkan kepercayaan.

Berbeda dengan Persiter Ternate yang lahir dari sejarah, komunitas, dan identitas lokal yang tumbuh organik, Malut United tidak dilahirkan dari rahim ideologis masyarakat Maluku Utara. Ia hadir sebagai klub modern: hasil akuisisi, rekayasa manajerial, dan investasi industri sepak bola. Tidak ada proses historis panjang di kampung-kampung, tidak ada trauma kolektif degradasi, tidak ada romantisme bertahan hidup dari divisi bawah. Yang ada adalah akselerasi.

Grafis Halmaherapost

Di sinilah problem dasarnya. Klub yang tidak lahir dari basis ideologis tidak otomatis memiliki legitimasi emosional. Legitimasi itu harus dibangun perlahan, konsisten, dan penuh empati. Ketika manajemen justru mengedepankan bahasa korporasi soal kerugian, sponsor, dan ancaman relokasi Malut United tampil bukan sebagai milik bersama, melainkan sebagai aset yang bisa dipindahkan.

Dalam industri sepak bola global, kasus seperti ini bukan hal baru. MK Dons di Inggris hidup secara industri, tetapi terus dipersoalkan secara moral karena relokasi Wimbledon. RB Leipzig sukses secara prestasi, tetapi tetap ditolak sebagian publik Jerman karena dianggap produk industri. Bedanya, klub-klub itu sadar posisi mereka dan tidak menuntut cinta universal. Mereka membangun basis secara perlahan, tanpa menyalahkan publik yang menolak. Di Indonesia, keberadaan sementara Rans Nusantara FC adalah bukti nyata keberadaan klub instan, lalu tenggelam.

Kesimpulannya sederhana namun fundamental: loyalitas tidak bisa dibeli, dan tidak bisa dimarahi agar tumbuh. Masalah Malut United bukan karena publik Maluku Utara tidak paham harga diri, melainkan karena manajemen keliru membaca fase pertumbuhan klub. Klub ini masih berada pada tahap pencarian identitas, tetapi sudah menuntut militansi ala klub ideologis.

Masyarakat Maluku Utara sebenarnya sedang belajar mencintai Malut United. Tapi cinta itu belum mapan, belum turun-temurun, belum menjadi kebiasaan sosial. Di fase ini, yang dibutuhkan adalah inklusivitas, bukan seleksi; dialog, bukan vonis.

Malut United adalah produk zaman: klub modern di tengah masyarakat yang masih membangun kultur sepak bola profesional. Itu bukan kesalahan, tapi menuntut pendekatan yang jauh lebih sensitif dan sabar.

Persib bisa marah pada suporternya karena mereka sudah melewati puluhan tahun saling mencintai dan saling menyakiti. Malut United belum sampai ke sana. Memaksa publik bersikap seperti Bobotoh tanpa proses ideologis yang setara adalah kesalahan strategis.

Jika Malut United ingin bertahan lama di Maluku Utara, maka satu hal harus dipahami: identitas tidak lahir dari stadion megah atau harga tiket mahal, tetapi dari kesediaan klub untuk tumbuh bersama keterbatasan rakyatnya.

Sepak bola modern boleh industri.Tapi tanpa akar sosial, ia hanya akan menjadi pertunjukan—bukan perjuangan.

Baca Juga