Relawan di Tanjakan Maut Tabalik: Ketika Rasa Kemanusiaan Lebih Kuat dari Rasa Takut
Aspal di Tanjakan Tabalik masih basah saat sore menjelang. Di jalan curam yang menjadi pintu masuk Desa Lukulamo, Kecamatan Weda Tengah, sekelompok pria berdiri di pinggir jalan. Mereka melambaikan tangan, memberi aba-aba, dan sigap membantu pengendara yang kesulitan melewati tanjakan ekstrem itu.
Tabalik bukan sekadar nama jalan. Bagi para pengendara yang pernah melaluinya, jalan ini menyimpan reputasi menakutkan. Postur tanjakan yang curam dan licin kerap memicu kecelakaan, mulai dari pengendara terjatuh hingga peristiwa yang merenggut nyawa.
Dalam waktu kurang dari sepuluh menit berada di lokasi, tiga pengendara sepeda motor terlihat terjatuh akibat jalan yang licin. Saat sebagian orang masih terpaku menyaksikan kejadian itu, para relawan yang berjaga justru bergerak cepat.
“Kami sudah terbiasa. Kalau hujan begini, pasti ada yang jatuh,” ujar Sofyan sambil terus mengawasi kendaraan yang melintas.
Sofyan merupakan bagian dari CCTV Tabalik, komunitas relawan yang setiap hari membantu pengendara melintasi jalan berbahaya tersebut. Pria asal Tulehu, Kabupaten Maluku Tengah, Maluku itu sehari-hari bekerja sebagai operator alat berat di Departemen Equipment Maintenance PT Indonesia Weda Bay Industrial Park (IWIP).
Menariknya, Sofyan datang berjaga di Tabalik saat sedang cuti kerja.
Ketika sebagian besar pekerja memanfaatkan cuti untuk berlibur atau pulang kampung, ia justru menghabiskan waktunya di tanjakan itu, membantu orang-orang yang bahkan tidak ia kenal.
Namun setelah beberapa jam menyaksikan aktivitas mereka, jelas bahwa CCTV Tabalik bukan sekadar komunitas biasa. Ada ikatan emosional kuat yang menyatukan para relawan.
Komunitas ini lahir dari sebuah tragedi.
Islamidar Umanailo (33), pendiri komunitas tersebut, tak pernah melupakan peristiwa yang ia saksikan di depan mata. Suatu hari, dari indekosnya yang berada tepat di bawah Jalan Tabalik, ia melihat sebuah sepeda motor melayang dan menghantam sisi bukit.
Ia berlari menghampiri korban. Namun pemandangan yang ia temui begitu membekas.
“Torang sudah janjian untuk memasukkan lamaran sama-sama. Dia mengabari saya akan ke Weda untuk mengurus berkas-berkas. Ternyata setelah kembali, terjadi kecelakaan itu,” kata Islamidar dengan mata berkaca-kaca.
Dua orang yang tergeletak di jalan itu adalah temannya sendiri. Nyawa mereka tak tertolong.
Peristiwa itu menjadi titik balik dalam hidupnya.
“Cukup menimpa kawan saya saja, jangan lagi terjadi pada orang lain,” ujarnya.
Sejak saat itu, Islamidar mengajak dua teman indekosnya untuk berjaga di tanjakan Tabalik dan membantu pengendara yang kesulitan. Dari langkah kecil itulah komunitas CCTV Tabalik lahir, sebuah gerakan kemanusiaan yang tumbuh dari rasa kehilangan.
Sejak awal 2023 hingga kini, jumlah relawan mereka terus bertambah. Saat ini lebih dari 20 orang terlibat, sebagian besar merupakan pekerja IWIP yang datang berjaga ketika memiliki waktu luang.
Keberadaan mereka sering kali menjadi penyelamat bagi pengguna jalan.
Suatu ketika, sebuah ambulans tidak mampu menanjak di jalan tersebut. Tanpa menunggu lama, para relawan langsung mengganjal roda kendaraan dengan batu yang telah disiapkan di sekitar lokasi.
Tak jarang mereka bahkan mengambil alih kemudi kendaraan jika pengemudi merasa takut melewati tanjakan curam itu.
“Mungkin karena sudah terbiasa saja, jadi sudah tahu caranya,” ujar Islamidar.
Namun membantu di jalan ekstrem seperti Tabalik bukan tanpa risiko.
Suatu sore, Islamidar dan beberapa rekannya sedang berada di pos pengawasan. Mereka mendengar suara truk yang hendak melintas. Beberapa detik kemudian suara itu terdengar semakin dekat.
Ternyata truk tersebut meluncur tak terkendali dan menghantam pos mereka.
Bangunan tempat berteduh itu hancur berantakan. Beruntung para relawan sempat menyelamatkan diri.
“Itu bisa dikatakan risiko terbesar kami. Ingin menyelamatkan orang, tapi bisa saja kami yang mengalami musibah,” kata Islamidar.
Di tengah berbagai konflik sosial yang kadang muncul di sekitar kawasan industri IWIP, Islamidar juga berharap aktivitas kemanusiaan yang mereka lakukan dapat menghapus stigma terhadap identitas tertentu.
“Semoga dengan apa yang kami lakukan di sini, orang-orang bisa tahu bahwa tidak ada hubungannya suatu tindakan dengan identitas yang melekat pada diri seseorang,” ujarnya.
Kerja-kerja mereka tidak luput dari perhatian. Ucapan terima kasih dari para pengendara memenuhi kolom komentar media sosial komunitas tersebut. Banyak yang memberikan donasi, mulai dari uang hingga makanan ringan.
Pada peringatan Hari Bhayangkara 2025, Polres Halmahera Tengah bahkan memberikan penghargaan kepada CCTV Tabalik sebagai bentuk apresiasi atas dedikasi mereka.
Kini harapan baru mulai terlihat.
Pemerintah Kabupaten Halmahera Tengah bersama IWIP tengah membangun Jalan Fagogoru, jalur alternatif sepanjang 2,6 kilometer yang diproyeksikan menggantikan peran Jalan Tabalik.
Bagi Islamidar, proyek itu menjadi bukti bahwa perjuangan mereka tidak sia-sia.
“Saya sangat senang dengan adanya jalan baru. Karena itulah harapan saya selama ini. Dengan adanya jalan baru, saya tahu bahwa apa yang sudah saya lakukan ternyata tidak sia-sia,” ujarnya.
Senja perlahan turun di Tabalik setelah hujan reda. Jalanan masih licin, namun Sofyan, Islamidar, dan para relawan tetap berdiri di tempatnya.
Mereka melambaikan tangan, memberi aba-aba, memastikan setiap kendaraan bisa melewati tanjakan itu dengan selamat.
Mereka bukan aparat, bukan pula petugas resmi. Bahkan sebagian bukan penduduk asli daerah ini.
Namun di jalan yang bukan kampung halaman mereka, kepedulian menemukan bentuknya.
Kelak, ketika Jalan Fagogoru sudah berfungsi penuh dan Tabalik tak lagi menjadi cerita menakutkan bagi para pengendara, mungkin nama CCTV Tabalik tidak lagi sering terdengar.
Tetapi jejak mereka akan tetap tinggal pada nyawa-nyawa yang terselamatkan, dan keyakinan sederhana bahwa kemanusiaan selalu menemukan jalannya.