1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Komunitas

Dari Timur Bersuara Hadirkan “Kasana–Kamari”, Tur Kreatif Lintas Ternate, Tidore, Bacan

Oleh ,

Kolektif kreatif Dari Timur Bersuara kembali menghadirkan inisiatif baru dalam upaya memperkuat ekosistem seni dan kolaborasi di Maluku Utara.

Kali ini, mereka mengusung program bertajuk “Kasana–Kamari”, sebuah tur kreatif lintas kota yang akan menyambangi Ternate, Tidore, dan Bacan.

Program ini dirancang bukan sekadar sebagai pertunjukan musik, melainkan ruang pergerakan kreatif yang menghubungkan komunitas lintas wilayah. Konsepnya bergerak dari satu kota ke kota lain, membawa energi, ide, serta jejaring kolaborasi yang sama.

Penggagas kegiatan, Dhana, menjelaskan bahwa “Kasana–Kamari” lahir dari gagasan untuk menghadirkan model pergerakan kreatif yang lebih inklusif di Maluku Utara, dengan menyesuaikan kondisi geografis daerah yang terpisah oleh lautan.

“Kalau di luar ada konsep besar, kita bikin versi kita sendiri—Kasana–Kamari,” ujar Dhana.

Ia menambahkan, keterpisahan wilayah selama ini menjadi tantangan tersendiri bagi komunitas kreatif di Maluku Utara. Karena itu, konsep tur lintas kota ini diharapkan dapat menjadi jembatan yang menghubungkan ekosistem kreatif yang selama ini berjalan secara terpisah.

“Karena berpindah-pindah kota dan melibatkan banyak kolaborator, maka kami ingin membawa energi, ide, dan jaringan agar bisa tersebar lebih merata,” jelasnya.

Selama ini, geliat kreatif di Maluku Utara dinilai masih terpusat di Kota Ternate, sementara daerah lain seperti Tidore dan Bacan kerap berada di posisi pinggiran dalam arus perkembangan ekosistem seni.

Melalui “Kasana–Kamari”, pola tersebut ingin diubah dengan menghadirkan ruang yang setara bagi seluruh kota yang terlibat.

“Ini bukan cuma gigs, tapi upaya menyambung titik-titik yang selama ini terpisah,” kata Dhana.

Lebih dari sekadar pertunjukan, tur kreatif ini juga dirancang sebagai ruang temu bagi komunitas, musisi, dan pelaku seni lokal untuk berkolaborasi serta bertukar gagasan.

Di setiap titik pelaksanaan, “Kasana–Kamari” akan menjadi panggung bersama bagi musisi lokal untuk menampilkan karya mereka dengan identitas masing-masing.

“Musisi lokal harus membawa musik mereka sendiri. Bukan sekadar bunyi, tapi karya yang punya identitas,” pungkasnya.

Berita Lainnya