Bupati Ubaid Fokuskan Penanganan Menyeluruh Banjir Maratana Jaya dan Dorolamo
Bupati Halmahera Timur, Ubaid Yakub, memfokuskan upaya penanganan banjir di Desa Maratana Jaya dan Desa Dorolamo, Kecamatan Maba Tengah, secara menyeluruh.
Pemerintah daerah kini menyusun langkah strategis berbasis hasil observasi lapangan agar persoalan banjir dapat ditangani secara efektif, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.
Komitmen tersebut ditegaskan Ubaid saat memimpin rapat koordinasi penanganan banjir bersama Tim Observasi dan Verifikasi, Kamis, 9 Juli 2026. Rapat itu merupakan tindak lanjut Keputusan Bupati Halmahera Timur Nomor 188.45/362/55/2026 tentang Pembentukan Tim Observasi dan Verifikasi Penanganan Banjir Desa Maratana Jaya dan Desa Dorolamo.
Dalam arahannya, Ubaid menegaskan pemerintah daerah tidak ingin mengambil kebijakan tanpa didukung data dan fakta di lapangan. Menurutnya, hasil observasi dan investigasi menjadi dasar penting untuk menentukan langkah penanganan yang tepat sasaran.
"Hari ini kita berkumpul untuk mencari solusi yang konkret berdasarkan data hasil observasi dan investigasi yang telah dilakukan tim di lapangan," ujar Ubaid.
Ia mengatakan, pemerintah ingin melihat persoalan banjir secara komprehensif sehingga setiap kebijakan yang diambil dapat dipertanggungjawabkan dan memberi dampak nyata bagi masyarakat.
Karena itu, hasil investigasi tim akan menjadi dasar penyusunan strategi penanganan melalui sinergi lintas sektor. Evaluasi tidak hanya difokuskan pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga mencakup tata kelola lingkungan hingga aktivitas perusahaan yang beroperasi di sekitar wilayah terdampak.
Ubaid berharap rapat koordinasi tersebut menghasilkan rekomendasi yang konkret, terukur, dan dapat segera ditindaklanjuti, sehingga persoalan banjir di Maratana Jaya dan Dorolamo dapat diselesaikan secara menyeluruh.
Sementara itu, Ketua Tim Observasi dan Verifikasi, Tarudin, memaparkan sejumlah faktor yang diduga menjadi penyebab banjir berdasarkan hasil investigasi lapangan.
Selain tingginya intensitas curah hujan di wilayah Maba Tengah, kondisi geografis kedua desa yang berada di kawasan cekungan membuat wilayah tersebut rentan tergenang saat debit air meningkat.
Tim juga menemukan kapasitas kanal, drainase, dan saluran pembuangan air yang terus menurun sehingga tidak lagi mampu mengalirkan air secara optimal. Selain itu, terdapat tiga titik longsoran di sekitar aliran Sungai Ake Marimba yang menghambat aliran air.
Temuan lainnya adalah adanya pembukaan kawasan hutan dan aktivitas produksi kayu oleh perusahaan di sekitar wilayah tersebut. Faktor tersebut akan menjadi bagian dari evaluasi pemerintah dalam menyusun langkah penanganan banjir.
Tarudin menjelaskan, tim observasi dan verifikasi terdiri atas unsur lintas organisasi perangkat daerah (OPD), yakni Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR), Inspektorat Daerah, BP4D, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
Sesuai keputusan bupati, tim bertugas melakukan observasi dan verifikasi menyeluruh di kawasan terdampak, menyusun rekomendasi penanganan banjir, sekaligus meninjau aktivitas operasional perusahaan yang beroperasi di wilayah Maba Tengah.
Apabila ditemukan aktivitas yang berpotensi meningkatkan risiko banjir, tim juga akan melakukan koordinasi, harmonisasi, dan sinkronisasi lintas sektor untuk menentukan langkah penanganan yang diperlukan.
Rapat koordinasi tersebut turut dihadiri Direktur PT Kirana Cakrawala, Direktur Utama BUMD Halmahera Timur, Camat Maba Tengah, Kepala Desa Maratana Jaya, Kepala Desa Dorolamo, serta seluruh OPD teknis yang tergabung dalam tim penanganan banjir.