Hari Kemerdekaan
Naylah Refornisa, Siswa Bertalenta yang Sukses Bawa Baki di HUT RI Ternate
Senja mulai turun di Lapangan Ngara Lamo, Kelurahan Salero, Kota Ternate. Di tengah suasana khidmat upacara penurunan Sang Merah Putih, langkah seorang pelajar bernama Naylah Refornisa Marsaoly berjalan perlahan membawa baki.
Tenang, tegap, dan penuh konsentrasi. Sore itu, siswi SMA Negeri 8 Kota Ternate tersebut menuntaskan tugas yang menjadi salah satu kehormatan terbesar dalam perjalanan mudanya sebagai anggota Paskibraka.
Naylah dipercaya membawa baki dalam prosesi penurunan Bendera Merah Putih pada peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Kota Ternate, Senin, 17 Agustus 2026.
Di hadapan peserta upacara dan masyarakat yang menyaksikan, Naylah menjalankan tugasnya dengan penuh ketenangan. Setiap gerakannya menjadi bagian dari prosesi yang berlangsung khidmat hingga Sang Merah Putih kembali diturunkan dengan sempurna.
Namun, cerita Naylah tidak hanya tentang beberapa menit di lapangan upacara.
Di balik seragam Paskibraka yang dikenakannya, ada sosok pelajar yang tumbuh dengan beragam talenta. Ia dikenal fasih berbahasa Inggris dan bahkan mampu berkomunikasi dengan warga negara asing.
Kemampuan itu menjadi salah satu kelebihan Naylah yang terus dikembangkan di luar aktivitasnya sebagai pelajar.
Tumbuh dari Lapangan Basket
Dunia olahraga juga menjadi bagian penting dalam perjalanan Naylah. Ia merupakan salah satu pebasket andalan Kota Ternate yang tumbuh melalui pembinaan Pancasila Jr Ternate.
Sejak menekuni basket, Naylah telah mengikuti berbagai kompetisi dan meraih sejumlah prestasi. Ia pernah menjadi bagian dari tim yang meraih juara dalam ajang Pekan Olahraga Pelajar Daerah (Popda), Pekan Olahraga Provinsi (Porprov), hingga berbagai kejuaraan basket lainnya di Kota Ternate dan Maluku Utara.
Pengalaman di lapangan basket turut membentuk karakter Naylah. Latihan, kedisiplinan, kerja sama tim, hingga keberanian menghadapi tekanan menjadi bagian dari kesehariannya.
Bekal itu pula yang kemudian ia bawa ketika memasuki dunia Paskibraka.
Di lapangan, Naylah dituntut untuk disiplin terhadap setiap gerakan, menjaga konsentrasi, sekaligus mampu mengendalikan diri dalam situasi yang disaksikan banyak orang.
Semua itu dijalankannya hingga akhirnya ia mendapat kepercayaan membawa baki dalam upacara penurunan bendera.
Air Mata Kebanggaan Orang Tua
Bagi keluarga, terutama kedua orang tua, momen tersebut menjadi cerita yang sulit dilupakan.
Ayah dan ibu Naylah terlihat meneteskan air mata ketika menyaksikan putri mereka sukses menjalankan tugas sebagai pembawa baki. Rasa haru dan bangga bercampur ketika melihat Naylah menuntaskan tugasnya dengan tenang di hadapan Sang Merah Putih.
Ludia AB Menangkabau mengaku sangat terharu melihat putrinya menjalankan tugas tersebut. Ia bahkan mengaku tidak menyangka Naylah bisa berada pada posisi itu.
“Ya Allah, tadi sangat terharu, tidak bisa berkata-kata. Betul merinding. Maksudnya tidak sangka-sangka Naylah bisa ada di posisi sekarang,” ujar Ludia.
Naylah lahir di Ternate pada 3 Desember 2009. Ia merupakan putri dari Thamrin Marsaoly dan Ludia AB Menangkabau.
Di usianya yang masih 16 tahun, Naylah telah memiliki pengalaman di berbagai bidang. Ia seorang pelajar, atlet basket, memiliki kemampuan berbahasa Inggris, sekaligus kini menjadi bagian dari Paskibraka Kota Ternate.
Perjalanan itu menunjukkan bahwa prestasi seorang anak tidak selalu lahir dari satu bidang. Ada proses panjang, dukungan keluarga, latihan, disiplin, dan keberanian untuk mencoba berbagai hal.
Sore itu, ketika Naylah melangkah membawa baki di Lapangan Ngara Lamo, semua proses tersebut seperti menemukan satu titik pertemuan.
Langkahnya mungkin hanya berlangsung beberapa menit. Namun bagi Naylah dan keluarganya, momen tersebut akan menjadi kenangan panjang—tentang seorang anak muda Ternate yang mendapat kesempatan berdiri di hadapan Sang Merah Putih dan menunaikan tugasnya dengan penuh kebanggaan.