Petani Morotai Terjepit! Harga Kopra Anjlok, Upah Cungkil Pun Hilang
Harga kopra di Kabupaten Pulau Morotai terus merosot tajam dalam sepekan terakhir, membuat petani dan pembeli kelapa terhimpit. Dari sebelumnya berada di kisaran Rp15.000 per kilogram, kini turun menjadi Rp12.000 per kilogram. Kondisi ini membuat banyak petani enggan memproduksi kopra karena biaya tenaga dan proses tidak sebanding dengan hasil.
Acy, pembeli kelapa buah di Desa Wayabula, mengungkapkan bahwa ketidakstabilan harga membuat stok kelapa menumpuk dan tidak bisa diolah menjadi kopra.
“Kelapa yang sudah kami beli dengan harga Rp2.500 sampai Rp3.000 per buah sekarang tidak bisa dibuat kopra. Kalau diproses, kami malah rugi. Sekarang harga jatuh, dan per buah cuma bisa dijual Rp1.500,” ujar Acy, Sabtu, 27 Desember 2025.
Keluhan serupa disampaikan Popy, petani kelapa di Wayabula. Menurutnya, proses pembuatan kopra yang memakan waktu 7–9 hari kini tidak lagi menghasilkan keuntungan.
“Sekarang harga dari Wayabula sampai Aha cuma Rp12.000 per kilo. Kami yang kerja kopra sangat terdampak. Kalau harga turun seperti ini, bagaimana kami mau bertahan?” keluh Popy.
Sementara itu, Kok, pembeli kopra di Desa Raja, menyebut turunnya harga kopra diduga dipengaruhi pasar internasional, sehingga pedagang di tingkat desa merasa tak berdaya.
“Harga sudah turun hampir sepekan. Kami juga belum tahu kapan akan naik lagi. Harga ini biasanya mengikuti pasar internasional,” jelas Kok.
Para petani berharap pemerintah hadir untuk menjaga stabilitas harga agar usaha kopra tetap berjalan dan pendapatan masyarakat tidak terus menurun. Menurut Popy, biasanya satu pohon kelapa bisa menghasilkan pendapatan antara Rp7.000–Rp10.000, namun saat ini hanya sekitar Rp5.000–Rp6.000 per pohon.
Upah cungkil yang biasanya Rp50.000 per kali panen kini makin sulit didapat karena kondisi pasar yang lesu.
Para petani dan pekerja kopra di Morotai mendesak pemerintah daerah serta pihak terkait untuk mengambil langkah konkret dalam mengendalikan harga, agar tidak terus merugikan masyarakat lokal.









Komentar