Rayakan Nataru, Warga Morotai Rawat Kebersamaan Lintas Iman
Perayaan Natal dan Tahun Baru (Nataru) 2025–2026 di Kabupaten Pulau Morotai menjadi momentum penting dalam merawat kebersamaan dan memperkuat toleransi lintas iman.
Di sejumlah desa, seperti Tutuhu, Raja, dan Wayabula, warga Muslim dan Nasrani tampak saling mengunjungi untuk merayakan hari besar keagamaan.
Tradisi silaturahmi ini tidak hanya berlangsung saat Natal dan Tahun Baru, tetapi juga berlanjut pada perayaan Idulfitri dan Iduladha. Kebersamaan lintas iman tersebut telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Morotai yang hidup dalam ikatan keluarga dan suku.
Memasuki pekan pertama Januari 2026, silaturahmi antarwarga masih terus terjaga. Warga dari berbagai kalangan—keluarga, sanak saudara, kerabat, hingga anak-anak—terlihat antusias saling berkunjung dalam suasana penuh kehangatan dan kekeluargaan.
Esy, warga Desa Tutuhu, mengatakan bahwa momen Natal dan Tahun Baru selalu menjadi ruang perjumpaan lintas iman di lingkungannya.
“Dalam perayaan Natal maupun Tahun Baru, saudara-saudara kami yang Muslim juga ikut mangente atau berkunjung ke rumah kami. Begitu pula sebaliknya, saat Hari Raya Idulfitri dan Iduladha, kami juga datang ke rumah saudara-saudara Muslim,” ujar Esy kepada halmaherapost.com, Minggu, 4 Januari 2026.
Menurut Esy, ikatan keluarga menjadi fondasi utama terjaganya toleransi antarumat beragama.
“Saudara sepupu kami juga ada yang Muslim. Jadi, di hari-hari besar seperti ini, kami saling berkunjung tanpa melihat perbedaan agama,” katanya.
Hal senada disampaikan Amhy, warga Desa Wayabula, yang turut mengunjungi keluarga Nasrani saat perayaan Nataru. Ia menuturkan bahwa perbedaan keyakinan dalam keluarganya sudah ada sejak lama dan menjadi bagian dari sejarah keluarga.
“Dari garis kakek, ada keluarga kami yang Nasrani. Orang tua bercerita, dulu saat agama mulai masuk, masing-masing memilih keyakinan. Dari situ ada yang Muslim dan ada juga yang Nasrani,” jelas Amhy.
Ia menyebutkan bahwa marga dalam keluarganya pun terbagi dalam dua keyakinan.
“Yang Nasrani bermarga Kabarei, banyak di Desa Cio Gerong dan Pulau Rao, sementara yang Muslim bermarga M. Saleh,” ungkapnya.
Amhy menegaskan bahwa nilai persaudaraan tetap terjaga karena masyarakat Morotai sejak dahulu hidup dalam ikatan keluarga yang kuat.
“Kami sudah sangat paham soal keberagaman ini. Orang tua selalu mengingatkan bahwa saudara kami yang Nasrani juga adalah keluarga sendiri,” tutupnya.










Komentar