Pemerintah
Tutup Festival Qasidah Rebana IV Ternate, Gubernur Sherly Siapkan Pembinaan 2027
Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, menyiapkan penguatan pembinaan kelompok qasidah rebana pada 2027.
Dukungan tersebut mencakup bantuan 500 rebana, pelatihan bagi pelatih dengan mendatangkan tenaga nasional, serta perluasan pelaksanaan audisi di 10 kabupaten/kota.
Komitmen itu disampaikan Sherly saat menutup Festival Qasidah Rebana IV Audisi Kota Ternate di Benteng Oranje, Sabtu malam, 24 Oktober 2026.
Dalam sambutannya, Sherly menyapa Ketua PW Muslimat NU Maluku Utara, Rosita Alting, Ketua PC Muslimat NU Kota Ternate, dewan juri, tokoh agama, tokoh adat, serta seluruh peserta lomba.
Sherly mengatakan, Festival Qasidah Rebana merupakan agenda tahunan yang menjadi wadah pembinaan sekaligus pelestarian seni Islami di Maluku Utara.
Puncak festival dijadwalkan berlangsung pada 16–17 November 2026 di Kota Ternate. Jika tidak ada halangan, kegiatan tersebut akan dihadiri Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI.
“Total peserta yang akan masuk final sekitar 20 grup perwakilan dari kabupaten/kota,” ujar Sherly.
Ia mengapresiasi kualitas penampilan peserta yang dinilai semakin baik dari tahun ke tahun. Menurutnya, peningkatan tersebut tidak terlepas dari latihan rutin yang dilakukan masing-masing kelompok.
Pada kesempatan itu, Sherly juga merespons kebutuhan rebana yang disampaikan panitia. Ia menyebutkan, bantuan rebana telah disalurkan pada tahun sebelumnya dan akan dilanjutkan tahun ini.
“Tadi saya tanya, yang dibutuhkan total 400. Tahun ini saya masukkan di anggaran perubahan 300. Ya sudah kita bulatkan saja langsung 500 rebana tahun ini, biar tuntas,” tegasnya, disambut tepuk tangan peserta.
Sherly mengakui pelaksanaan audisi tahun ini belum semeriah tahun-tahun sebelumnya akibat kendala teknis anggaran. Ia berharap, pada 2027 mendatang, dukungan anggaran dapat lebih memadai sehingga audisi kembali dilaksanakan di 10 kabupaten/kota dengan total hadiah yang lebih besar.
Selain bantuan sarana, Sherly mendorong Muslimat NU mengusulkan program pelatihan bagi para pelatih qasidah di Maluku Utara dengan menghadirkan pelatih nasional.
Menurutnya, peningkatan kapasitas pelatih menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan kualitas kelompok qasidah agar lebih kompetitif pada festival berikutnya.
“Jika mau ada pelatihan, diusulkan saja. Kita undang pelatih nasional datang ke sini melatih pelatih kita,” ujarnya.
Sherly juga menekankan pentingnya mengembangkan qasidah rebana agar tidak hanya menjadi kegiatan hobi, tetapi turut memberikan nilai ekonomi bagi para anggotanya.
“PR kita bagaimana dari hobi menjadi keterampilan, kemudian bisa jadi cuan. Bagaimana caranya kelompok-kelompok yang sudah menang ini bisa diundang mengisi kegiatan budaya, kesenian, dan keagamaan di provinsi, sehingga ibu-ibu tidak hanya keluar biaya, tapi ada pemasukan,” katanya.
Ia berharap kelompok qasidah yang telah terbentuk mendapat lebih banyak kesempatan tampil dalam berbagai kegiatan pemerintah maupun masyarakat. Dengan begitu, seni qasidah tidak hanya menjadi sarana pelestarian budaya dan keagamaan, tetapi juga membuka peluang pendapatan bagi para pelakunya.
Sherly turut mendorong pelibatan generasi muda dalam pelestarian qasidah rebana. Ia meminta Muslimat NU bekerja sama dengan komunitas anak muda agar pada festival tahun depan muncul kelompok-kelompok baru dengan genre dan kreativitas yang sesuai dengan karakter generasi mereka.
Penutupan festival ditandai dengan pemukulan rebana bersama oleh Sherly, Rosita Alting, dewan juri, dan tamu undangan, yang diiringi lagu bersama seluruh hadirin.
Dalam festival tersebut, panitia juga mengumumkan para pemenang lomba dengan tambahan bonus hadiah. Juara pertama memperoleh Rp3 juta, juara kedua Rp2 juta, dan juara ketiga Rp1 juta.










Komentar