1. Beranda
  2. Headline
  3. Kabar

Tiket Pesawat Mahal Hambat Wisata, Gubernur Sherly Desak Solusi untuk Indonesia Timur

Oleh ,

Gubernur Maluku Utara, Sherly Laos, menyoroti masih beratnya tantangan pengembangan sektor pariwisata di wilayah Indonesia timur, khususnya di Maluku Utara.

Salah satu persoalan utama yang dinilai menghambat pertumbuhan kunjungan wisatawan adalah tingginya harga tiket pesawat.

Seperti dilansir beritasatu.com, Sherly menegaskan bahwa meski Indonesia timur memiliki potensi wisata yang sangat besar dengan keindahan alam yang telah dikenal luas, namun aksesibilitas masih menjadi kendala serius yang membuat potensi tersebut belum tergarap maksimal.

“Pariwisata wilayah timur itu potensinya bagus, semua orang juga sudah tahu cantik. Permasalahannya tiketnya (pesawat) mahal,” ungkap Sherly saat menghadiri acara Deep and Extreme Indonesia 2026 di Jakarta International Convention Center, Jumat, 24 April 2026.

Menurutnya, mahalnya biaya transportasi udara berdampak langsung pada rendahnya minat wisatawan untuk berkunjung ke wilayah timur Indonesia. Kondisi ini pada akhirnya juga berpengaruh terhadap perputaran ekonomi daerah serta optimalisasi pendapatan dari sektor pariwisata.

Sherly menekankan perlunya kolaborasi lintas sektor dalam mencari solusi atas persoalan tersebut. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku industri penerbangan, serta pelaku usaha pariwisata dinilai perlu duduk bersama untuk merumuskan kebijakan yang lebih berpihak pada pengembangan destinasi wisata di kawasan timur Indonesia.

Salah satu opsi yang didorong adalah penyusunan paket ekonomi wisata, termasuk kemungkinan pemberian subsidi tiket pesawat. Kebijakan tersebut diharapkan dapat menekan biaya perjalanan sehingga wisata ke Indonesia timur menjadi lebih terjangkau bagi masyarakat luas.

Dengan harga tiket yang lebih ekonomis, Sherly optimistis jumlah kunjungan wisatawan akan meningkat signifikan. Hal itu juga diyakini akan mendorong tumbuhnya sektor pendukung lainnya, seperti perhotelan, transportasi lokal, hingga usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Ia juga menegaskan bahwa pengembangan pariwisata tidak harus dilakukan dengan banyak destinasi sekaligus, melainkan fokus pada titik-titik unggulan yang memiliki daya tarik khas.

“Tidak perlu banyak titik pariwisata, yang penting fokus dan berkualitas. Setelah itu baru kita bisa gencar melakukan promosi,” pungkas Sherly.

Berita Lainnya