Etape Empat Belas Bawaslu Maluku Utara

Rusli Saraha.

Oleh: Rusly Saraha (Komisioner Bawaslu Maluku Utara)


Pagi tadi, Senin, 21 September 2026, kami menggelar puncak Refleksi 14 Tahun Bawaslu Provinsi Maluku Utara. Acara digelar di Pendopo, dekat kantor, masih di halaman Bukit Pelangi.

Semua komisioner Bawaslu Provinsi hadir, kecuali Kordiv PP dan Datin, Sumitro Muhamadia. Beliau sedang menghadiri kegiatan Bawaslu RI di Jakarta.

Hadir pula Kasek baru kami, Screning Yosmar Dano, yang sekitar satu bulan lalu bertugas di Bumi Kie Raha. Sebelumnya, Yosmar Dano malang melintang dengan suasana istimewa sebagai Kasek Yogyakarta. Ia berasal dari Pulau Rote, pulau terselatan di Indonesia.

Dari jajaran kabupaten/kota, hadir punggawa Bawaslu Ternate, Kifli Sahlan dan Suryadi, juga Kasek Hamdy Alaydrus. Ada pula Ketua Bawaslu Morotai, Ramla Molle, yang kebetulan sedang berada di Ternate dan bergabung bersama kami di Bukit Pelangi. Yang lainnya mengikuti secara daring melalui Zoom Meeting.

Ada yang berbeda dari refleksi kali ini. Kami meluncurkan buku SPASI, Sinergi Pengawasan, Penindakan dan Integritas.

Buku ini ditulis oleh 30 orang yang seluruhnya berasal dari internal Bawaslu Maluku Utara dan Bawaslu kabupaten/kota se-Maluku Utara.

Ya, karya ini bak refleksi “orang dalam” atas jejak kisah dan kinerja yang telah dilewati.

Sebuah kisah hanya akan menjadi kenangan bagi mereka yang melewatinya. Ia terlampau individualis. Jika kisah itu ditulis, maka ia bisa menjadi sumber informasi. Syukur-syukur jika catatan itu bisa memperkuat bahan pembelajaran dan penguatan kinerja di masa datang. Pun menjadi lebih berarti jika mampu memberi inspirasi.

Sebagai salah satu tim editor di buku ini, saya senang karena target bisa tercapai. Peluncurannya pun tepat waktu, bertepatan dengan momentum ulang tahun Bawaslu Maluku Utara.

Karya ini disunting bersama saya, Nasaruddin Amin (Anas), dan A.M. Farid Paradigma.

Kami membagi secara acak tugas editing, dengan masing-masing orang meramu sepuluh tulisan. Tak mudah memang. Tetapi kami mungkin telah terbiasa dengan kerja-kerja menantang.

Kadang menjadi sensasi tersendiri ketika harus memutar otak, meramu kata-kata, menghubungkannya menjadi kalimat, lalu mengaitkan setiap helaian paragraf dengan paragraf lainnya.

Saya berterima kasih kepada Bayu Arifian dan Sri Abdurrahman yang dengan cekatan mengumpulkan tulisan-tulisan “orang dalam” tersebut.

Selain kami di Bawaslu Provinsi, sepuluh kabupaten/kota juga mewakilkan personelnya dalam sumbangsih tulisan yang berasal dari komisioner maupun jajaran sekretariat.

Tuntas?

Ya. Kerja untuk menghasilkan karya itu telah beres.

Kata orang, jika sebuah karya telah dibukukan, maka ia telah menjadi milik publik. Mau dinikmati boleh, dikritisi juga bisa. Itu terserah khalayak.

Yang pasti, buku ini menjadi produk intelektual sekaligus pemberi kabar bahwa kerja mengawasi dengan kecerdasan itu benar-benar terbentang jalannya.

Ruang literasi demokrasi itu terbuka dan kita sedang menata tradisi yang baik untuk terus tumbuh dan lestari.

Selain buku SPASI, kami juga meluncurkan tiga aplikasi.

Ada AI-WASLU yang digagas Farid sebagai medium untuk memuluskan kinerja pengawasan. Ada SIGARU oleh Isat Susanto untuk menata gudang data dan informasi agar cepat dan aksesibel. Serta aplikasi AKSARA yang dimotori Samuel sebagai patokan bagi pelaksanaan indikator kinerja lembaga dan jajaran.

Sebelum momen puncak, Bawaslu Maluku Utara bekerja sama dengan PMI menggelar donor darah pada Jumat, 18 September 2026.

Alhamdulillah, ada 20 pendonor dari Bawaslu Malut dan Bawaslu Kota Ternate yang berhasil mengalirkan darahnya untuk kemanusiaan.

Bantuan kecil ini mungkin sederhana, tetapi ia amat diperlukan oleh saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Jumat pagi, selain donor darah, ada pula kegiatan internal yang kami sebut JUMPA BERLIAN.

Di momen ini, tiap-tiap bagian menata tamannya masing-masing dengan rupa-rupa tanaman yang bisa menghadirkan lingkungan yang asri.

Jumat pagi itu pula, ada dialog pagi yang difasilitasi RRI Ternate mengenai refleksi pengawasan Bawaslu Maluku Utara.

Untuk bagian ini, saya mesti berterima kasih kepada Kepala RRI Ternate, Kang Agus Rusmin, juga host serba bisa, Sofyan Togubu.

Sabtu malam, 19 September 2026, kami menggelar Friendly Match Mini Soccer di Kotabaru.

Empat tim ambil bagian, di antaranya tim tuan rumah Bawaslu Malut, KPU Malut, Jurnalis FC dan OKP.

Sebagai ajang “cari suar”, sepak bola menjadi ruang paling efektif untuk merekatkan silaturahmi dan kerja kolaboratif.

Di lapangan, adu skill terjadi. Meski tak secanggih bintang kaliber dunia, selalu saja ada momen-momen seru yang tersisa di atas rumput hijau.

Laga final mempertemukan Bawaslu Malut versus Jurnalis FC. Pertandingan berjalan alot dengan parade saling serang dari berbagai lini.

Skor akhir 4-4 menutup pertandingan yang kemudian dilanjutkan dengan adu penalti.

Bawaslu Malut akhirnya memenangkan adu penalti dengan skor 3-2.

Paman Othy, kiper Bawaslu Malut, menjadi man of the match dengan penyelamatan gemilang sekaligus gol pamungkas yang dilesakkannya ke gawang Jurnalis FC.

Sepak bola memang begitu.

Kadang ia membawa energi tersendiri.

Meski hanya bertajuk Friendly Match, tetap ada semacam harga diri untuk berjuang tanpa henti dan memberikan hasil terbaik sebagai kampiun.

Bawaslu Malut Cup itu akhirnya tetap dibawa pulang ke Etihad Bukit Pelangi.

Tiga tahun sebelumnya, saat laga digelar di Waterboom Kayu Merah, kami tampil sebagai the winner setelah menang tipis melalui adu penalti versus tim KPU Malut.

Pada Minggu pagi, 20 September 2026, kami menggelar jalan sehat pengawasan partisipatif.

Untuk kegiatan ini, saya tak sempat hadir. Pas bangun pagi, kaki terasa encok karena terlalu bersemangat beratraksi bola di lapangan Kotabaru.

Beruntung, semua desain acara untuk memeriahkan ulang tahun Bawaslu Malut berjalan dengan baik.

Kepada BNI dan BRI, terima kasih atas dukungannya.

Di ruang ini, saya mesti memberi hormat dan apresiasi atas kekompakan panitia HUT Bawaslu Malut ke-14 yang bekerja efektif, saling menopang untuk menyukseskan acara di tengah berbagai keterbatasan.

Kini kita telah melewati etape keempat belas.

Di setiap pertambahan usia, ada saja kenangan yang tertumpah.

Kadang sebuah momentum menjadi semacam monumen peringatan, ruang evaluatif dan refleksi: seberapa tepat arah yang kita tempuh, apa yang masih kurang dan perlu diperbaiki, apa yang keliru dan membutuhkan ketepatan eksekusi, serta apa yang masih standar dan urgen untuk dimodifikasi.

Pada titik ini, kita telah menjejakkan berbagai langkah.

Seberapa pun jauh langkah yang ditempuh, ia akan berarti manakala bisa memberi makna.

Ada manfaat yang terasa bagi Pemilu yang jujur, adil dan berkualitas, serta bagi terbukanya gerbang demokrasi yang bermartabat.

Untuk semua senyum tipis dan peran tebal itu, mari kita teguhkan dan teruskan.

Ya, teguhlah berkolaborasi dan teruslah berkontribusi.

Bersama rakyat awasi Pemilu.

Bersama Bawaslu, tegakkan keadilan Pemilu.

Penulis: Red

Baca Juga