Aspirasi

Warga Habiskan Ratusan Ribu Beli Air, GAMHAS Desak Pemkot Ternate Benahi Layanan

Aksi Gamhas di Kantor Wali Kota Ternate. Foto: Chanox

Persoalan air bersih masih dikeluhkan sejumlah warga di Kota Ternate. Kondisi ini mendorong Gerakan Mahasiswa Pemerhati Sosial (GAMHAS) mendesak Pemerintah Kota Ternate segera membenahi pelayanan dan distribusi air bersih.

Desakan tersebut disampaikan puluhan mahasiswa saat menggelar aksi demonstrasi di depan Kantor Wali Kota Ternate, Selasa, 6 Oktober 2026.

Koordinator Lapangan GAMHAS, Mujakar Tjan, mengatakan aksi itu dilakukan untuk menyuarakan keluhan masyarakat yang hingga kini belum mendapatkan pelayanan air bersih secara maksimal.

Berdasarkan temuan GAMHAS di lapangan, persoalan terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari distribusi air yang belum maksimal, belum tersedianya jaringan pipa hingga biaya pemasangan yang dinilai terlalu mahal.

“Untuk bertahan hidup masyarakat dipaksakan membeli air per profil dengan harga yang berkisar Rp80 ribu hingga Rp125 ribu,” tegas Mujakar dalam orasinya.

Ia menyebutkan, wilayah yang menjadi sorotan GAMHAS antara lain RT 08 Kelurahan Tubo, RT 13 Kelurahan Tabona, Kelurahan Sasa dan Foramadiahi.

Di RT 08 Kelurahan Tubo, lebih dari 30 rumah disebut belum menikmati layanan dan distribusi air bersih. Bahkan, jaringan pipa sebagai fasilitas pendukung belum tersedia.

“Di Kelurahan Tubo itu sebanyak 30 rumah lebih yang belum mendapat layanan dan distribusi air bersih. Sehingga untuk bertahan hidup, masyarakat membeli air profil dengan harga Rp125 ribu,” ujarnya.

Sementara di RT 13 Kelurahan Tabona, terdapat 24 rumah yang disebut belum terlayani secara maksimal. Kondisi serupa juga dikeluhkan warga di Kelurahan Foramadiahi.

“Di Kelurahan Foramadiahi hampir 20 rumah masyarakat yang mengeluhkan terkait penyaluran dan distribusi air bersih. Warga juga sudah bertahun-tahun belum menikmati pelayanan yang maksimal,” katanya.

Selain distribusi, GAMHAS menyoroti biaya pemasangan jaringan air bersih yang mencapai Rp1,8 juta hingga Rp2 juta.

Mujakar menilai biaya tersebut cukup memberatkan masyarakat, terutama di tengah kebutuhan rumah tangga yang terus meningkat.

“Untuk melakukan pemasangan air dengan harga sebesar Rp1,8 juta hingga Rp2 juta sangat memberatkan masyarakat. Karena belum lagi memenuhi kebutuhan dapur yang membuat mereka tidak sanggup,” ungkapnya.

Komite GAMHAS, M Risal Aswad, meminta Pemkot Ternate melalui Perumda Ake Gaale segera menyelesaikan persoalan pelayanan air bersih tersebut.

Ia mengatakan tuntutan mahasiswa memiliki dasar yang jelas, salah satunya Peraturan Daerah (Perda) Nomor 28 Tahun 2011 tentang penyelenggaraan sistem penyediaan air minum oleh Badan Usaha Milik Daerah (BUMD).

“Perda Nomor 28 Tahun 2011 mengatur penyelenggaraan sistem penyediaan air minum oleh BUMD. Aturan ini sudah jelas, sehingga Perumda harus bekerja lebih optimal lagi,” tegas Risal.

Menanggapi tuntutan tersebut, Direktur Utama Perumda Ake Gaale Kota Ternate, Firman Mudaffar Syah, mengapresiasi aspirasi yang disampaikan GAMHAS.

Firman mengatakan, persoalan pelayanan air bersih di Kelurahan Tubo telah dikoordinasikan dengan Dinas PUPR Kota Ternate.

“Khusus Kelurahan Tubo, kami telah menjalin kerja sama dengan Dinas PUPR Kota Ternate untuk menyediakan fasilitas pendukung seperti jaringan pipa sehingga distribusi air dapat segera dilakukan,” jelasnya.

Sementara untuk Kelurahan Foramadiahi, Sasa dan Tabona, Perumda Ake Gaale akan terus berupaya meningkatkan pelayanan dan distribusi air bersih kepada masyarakat.

Firman mengakui pelayanan di wilayah yang berada di ketinggian menjadi salah satu tantangan dalam pendistribusian air.

“Untuk wilayah yang berketinggian di Kota Ternate, kami akan tetap berupaya agar pelayanan dan distribusi air kepada masyarakat dapat terus ditingkatkan,” pungkasnya.

Penulis: Qal
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga