Agenda

Festival Salawaku Dimulai, Ini Misi BI Maluku Utara di Balik Pameran UMKM

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Maluku Utara, Handi Susila. Foto: Pombo

Festival Salawaku 2026 yang digelar Bank Indonesia (BI) Maluku Utara resmi dimulai di Benteng Oranje, Kota Ternate, Jumat, 6 November 2026.

Agenda ini tidak hanya sekadar sebagai ajang pameran produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), tetapi juga ruang memperkuat ekonomi kreatif, melestarikan budaya, serta mendorong pelaku usaha lokal naik kelas.

Kepala Perwakilan BI Maluku Utara, Handi Susila, mengatakan Festival Salawaku yang memasuki penyelenggaraan tahun kedua ini dirancang untuk mempertemukan potensi UMKM, kreativitas generasi muda, dan kekayaan budaya daerah dalam satu ekosistem ekonomi produktif.

Menurut Handi, pemilihan Benteng Oranje sebagai lokasi kegiatan memiliki makna tersendiri. BI ingin menghadirkan festival yang tidak hanya berorientasi pada aktivitas ekonomi, tetapi juga mengangkat sejarah, identitas, dan kebanggaan masyarakat Maluku Utara.

"Pelestarian budaya tidak hanya ditempatkan sebagai sesuatu yang jauh dari kehidupan modern, tetapi dihadirkan sebagai sumber inovasi yang menciptakan sumber pertumbuhan ekonomi," kata Handi dalam sambutan pembukaan Festival Salawaku 2026.

Pembukaan festival tersebut turut dihadiri Wakil Gubernur Maluku Utara Sarbin Sehe, Pangdam XXVIII/Moloku Kie Raha Mayjen TNI Nefra Firdaus, Danrem 152/Baabullah Brigjen TNI Enoh Solehudin, Wali Kota Ternate H. M. Tauhid Soleman, Wakil Wali Kota Nasri Abubakar, Sekretaris Daerah Kota Ternate Rizal Marsaoly, serta sejumlah pimpinan organisasi perangkat daerah (OPD), unsur Forkopimda, pimpinan perbankan, dan undangan lainnya.

Deputi Gubernur Bank Indonesia, Filianingsih Hendarta, juga menyampaikan sambutan melalui rekaman video. Ia berhalangan hadir secara langsung karena sedang menjalankan tugas kenegaraan menghadiri pertemuan internasional mengenai perlindungan konsumen dan inklusi keuangan di Paris.

Handi menjelaskan, rangkaian kegiatan Festival Salawaku telah diawali melalui program Road to Salawaku dengan berbagai agenda peningkatan kapasitas pelaku UMKM.

Program tersebut meliputi pelatihan hilirisasi olahan perikanan, kewirausahaan konveksi, budidaya maggot, pengembangan kapasitas kelompok sadar wisata (Pokdarwis), hingga pelatihan wastra bagi penenun pemula.

BI juga menghadirkan program PALITA Pesantren serta business matching pembiayaan UMKM untuk memperkuat tata kelola usaha dan memperluas akses permodalan.

Sementara itu, pada puncak festival, berbagai kegiatan digelar, mulai dari pameran dan aktivasi UMKM, kompetisi seni tari kontemporer, Kie Raha Got Talent, Salawaku Outfit of the Day, Salawaku In Frame Challenge, hingga Salawaku Sea Through Lens.

Festival juga menghadirkan Halal Chef Competition dan Salawaku Barista Competition untuk mendorong kreativitas kuliner lokal. Alsya MCI 13 dilibatkan sebagai juri kompetisi sekaligus narasumber lokakarya pengolahan pangan lokal.

Selain itu, terdapat kegiatan Zumba, donor darah, permainan rakyat, serta hiburan dari penyanyi Adrian Khalif.

Handi menegaskan, seluruh rangkaian tersebut merupakan upaya BI untuk memastikan UMKM tidak hanya menjadi peserta dalam kegiatan promosi, tetapi juga mampu berkembang, memperluas pasar, dan mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi daerah.

"Kami ingin memastikan bahwa UMKM tidak hanya hadir sebagai pelaku usaha, tetapi juga mampu tumbuh, naik kelas, memperluas pasar, dan mengambil peran lebih besar dalam rantai ekonomi Maluku Utara," ujarnya.

Handi mengungkapkan, pengembangan UMKM di Maluku Utara masih menghadapi sejumlah tantangan. Berdasarkan data Dinas Koperasi dan UMKM, terdapat sekitar 194 ribu unit usaha yang menyerap hingga 584 ribu tenaga kerja. Namun, sekitar 95 persen di antaranya masih berada pada skala mikro.

Tantangan lainnya terlihat pada akses pembiayaan. Pangsa kredit UMKM di Maluku Utara baru mencapai 12,17 persen per September 2026, masih jauh dari target nasional sebesar 30 persen.

Selain itu, pelaku usaha menghadapi tingginya biaya distribusi antarpulau, keterbatasan fasilitas penyimpanan dingin (cold storage), kapasitas sumber daya manusia, teknologi pengemasan, serta pemenuhan sertifikasi produk.

Menurut Handi, berbagai persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan melalui penguatan kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, dunia usaha, akademisi, komunitas, dan media.

Ia berharap Festival Salawaku menjadi momentum memperkuat sinergi tersebut agar berbagai dukungan terhadap UMKM dapat memberikan manfaat nyata bagi pelaku usaha.

"Kami berharap Festival Salawaku ini dapat menjadi momentum untuk mempererat kolaborasi tersebut," katanya.

Handi juga mengajak pelaku UMKM dan generasi muda untuk terus meningkatkan kualitas produk, memanfaatkan teknologi, memperluas jejaring, serta berani berkarya dan berinovasi.

"Melalui kolaborasi, budaya kita akan tetap hidup, karya kita akan semakin kuat, dan ekonomi kita akan semakin berdaya," tandasnya.

Penulis: Qal
Editor: Ramlan Harun

Baca Juga